Senin, 03 Oktober 2011

Hari Spesial (re-post)


Buat bapak dan Ibu... :)
Hari Spesial
Senin pagi,saat aku terbangun,badan terasa lemas.capek sekali rasanya.meskipun tidak begadang,mata terasa berat..masih saja aku bermalas-malasan di tempat tidur,padahal saat itu sudah waktunya para pelajar memulai kegiatannya di sekolah..
Melihat anaknya yg masih memeluk guling saat hendak berangkat kerja,ibuku tidak marah,atau memaksaku bangun.beliau hanya membuka pintu kamarku,dan membiarkan pintu lain terbuka agar sinar matahari langsung masuk kamarku.ibu hanya berkata 'pintunya dibuka saja ya,biar udara segar bisa masuk',lalu ibu berangkat kerja.tak lama,aku pun beranjak bangun,karena terlalu silau utk kembali tidur..
Begitu cara ibu membangunkanku pagi ini.tanpa marah,tanpa banyak kata2. Betapa sabarnya ibu menghadapi anaknya yg susah bangun pagi..
Ini hanya tentang bangun pagi..tidak terhitung tingkah2 menjengkelkan yg kulakukan,tapi ibu selalu tetap sabar.marahpun hanya sebentar,tak selama marahku ketika kesalahan2 kecil yg kadang tak sengaja ibu lakukan.
Bapak,beliau lebih sabar lagi.sejak aku lahir,sampai sekarang,bapak marah padaku tidak lebih dari jumlah jari salah satu tanganku..
Ibuku selalu perhatian.saat aku gelisah,ibu pasti tahu.ibu selalu membuatku kembali tenang..
Bapak pun begitu.bapak hafal makanan2 kesukaanku.bapak selalu membelikan untukku tiap ada kesempatan.
Saat anak2nya sedang dalam beratnya cobaan,bapak dan ibu selalu berdoa untuk kami.tengah malam mereka bangun,hanya untuk kami,anak-anaknya.
Betapa beruntungnya aku,dilahirkan dan dibesarkan oleh orang-orang hebat seperti mereka..yang selalu menyayangi kami,anak-anaknya..

Hari ini,6 juni 2011,mereka berulang tahun.. Semoga mereka tetap selalu menjadi orang tua terhebat bagi kami.semoga mereka selalu diberi kekuatan dan kesehatan dalam mendampingi kami..
Maturnuwun Pak,Bu....
Selamat hari ulang tahun pernikahan yang ke-31...

-anakmu-



Perahu Kertas ngebut


Belum lama ini aku baru saja selesai memaca ‘Perahu Kertas’, novel setebal 434halaman karangan Dewi Lestari, yang kubaca dalam waktu kurang dari 12jam! Ini rekor tersendiri buatku. Untuk ukuran novel yang pada awalnya tidak aku tahu bagaimana ceritanya, rekor ini sangat luar biasa buatku.hehehe... Novel dengan cerita yang dulu membuatku sangat penasaran pun tak bisa kuselesaikan dalam waktu secepat itu. Twilight misalnya. Aku butuh waktu sekitar seminggu untuk selesai membacanya. Padahal dari bentuknya aja sudah terlihat kalau Twilight lebih tipis daripada Perahu Kertas. Niat dan Ada waktu. Mungkin itu sebabnya. J
Seharian mulai dari jam 1 siang setelah aku bangun tidur (maklum, karena beberapa hari sebelumnya aku begadang, jadi masih butuh extra sleep time. :p), aku mulai membuka buku itu. Setelah setengah jam membaca, aku sudah masuk di dunia lain, ga peduli apa yg terjadi di sekitarku. Semua sms aku cuekin, ibu yang ngajak ngobrol Cuma aku jawab dengan “hmmm” atau “yaa”. Sampe akhirnya kakakku pulang sekitar jam 10 malam, dan membawakanku swikee, aku baru ingat kalo seharian belom makan! Aku pun makan dengan segera, pengen cepet-cepet lanjutin baca. Selesai makan, aku baca lagi, dan tidak lama aku merasa badanku lengket2 ga enak gitu. Ternyata karena seharian belom mandi! :p. Jam 11 malam aku selesai mandi dan menyelesaikan sedikit halaman yang belum terbaca itu. Dan akhirnya....akhirnya.... akhirnyaaaaa, jam 1.30 aku selesai membaca! Horeeee.... :D (apa deh...)
Perahu kertas ini menceritakan tentang kisah dua orang aneh yang sangat berbeda dunianya. Yang cewek, Kugy, seorang pengkhayal yang bercita-cita jadi seorang ‘juru dongeng’ yang acak-acakan baik sikap atau penampilannya. Yang cowok, Keenan, adalah seorang (yang ingin jadi) seniman, yang suka sekali melukis. Dunia dan kehidupan mereka jauh berbeda. Yang satu super cerewet dan berantakan, yang satu cenderung anteng dan ganteng. Yang satu keluarganya bahagia dan ceria, satunya keluarganya hidup dalam luka masa lalu. Dan masih banyak perbedaan. Satu-satunya kesamaan mereka adalah predikat ‘orang aneh’ yang diberikan teman-teman mereka.
Love at first sight, perasaan yang tak terungkapkan, harapan, gejolak hati. Kurang lebih itu yang ada di cerita Perahu Kertas. Setidaknya itu yang membuatku tertarik dengannya. Rata-rata cerita kayak beginian yang menarik buat aku baca. Kisah-kisah yang hanya dibaca saja rasanya bisa ikut merasakannya. :D
Membaca buku ini rasanya seperti makan permen nano-nano. Nggak terus tiba merasa manis/asem/asin di lidah juga sih. Membaca buku ini bisa dibuat senyum dikit, senyum agak banyak, senyum banyak, dan akhirnya ngakak. Lalu bisa juga dibuat hatinya ikut teriris-iris (lebay bgt ga ya istilahnya?), seperti merasakan apa yang dirasakan tokohnya. Kalau membaca dengan sepenuh hati dan segenap jiwa plus sensitifitas yang tinggi,membaca buku ini bisa dibuat mewek, nangis gitu. Tapi kaya naik roller coaster, dalam keadaan mewek dan berair mata, tiba-tiba dibuat ketawa! Seru pokoknya. :D

Mengeluh


Disaat merasa mentok, kecewa, sedih, kesulitan atau hal-hal susah lainnya, biasanya banyak yang berujung dengan melakukan seperti judul tulisan ini. Mengeluh. Sepertinya mengeluh adalah ujung dari segala kesusahan yang dialami manusia. Aku yang juga manusia sering mengalami dan melakukannya. Mengeluh itu seperti sampai di ujung jalan. Jalan itu bukan jalan yang membawa kita sampai ke tujuan, tetapi jalan itu adalah jalan buntu! Ketika mengeluh, ya sudah, sampai disitu saja, tidak akan ada solusi. Belum lagi efek mengeluh pada orang-orang di sekitar kita. Mereka bisa jengah, merasa yg mengeluh itu manusia yang kurang bersyukur, dan lain-lain. Belum tentu orang di sekitar kita ada dalam keadaan yang lebih nyaman daripada apa yang kita alami. Ujung-ujungnya dengan mengeluh hanya akan menyebarkan energi negatif.  
Ketika dalam keadaan hati dan emosi yang baik-baik saja, aku sadar tentang apa yang kutulis diatas. Ngomong emang gampang ya. Saat aku merasa dalam keadaan sulit,atau kecewa, tidak jarang aku mengeluh. Aku seperti lupa kalau mengeluh itu tidak baik. Seperti lupa bersyukur. Seperti lupa memperhatikan keadaan orang di sekitarku. Di saat aku ingat,seperti saat ini, aku Cuma bisa menyesal. Untuk bapak,ibu, kakak-kakakku, pacarku, sahabat-sahabatku, teman-temanku, dan siapapun yang mengenalku, yang pernah mendengarku mengeluh, aku minta maaf... Meskipun aku belum sampai pada tingkat kesabaran tinggi, yang bisa ketika sedang kesusahan bisa mengingat bahwa mengeluh itu tidak baik, aku akan berusaha untuk sampai pada tingkatan itu.
Kata Ajahn Brahm, ada pepatah Budhis yang mengatakan “daripada mengeluhkan kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.” Kalau mengeluh dalam kegelapan, gelap itu akan jadi lebih gelap dan pengap buat orang lain. Tapi kalau menyalakan lilin, orang lain akan ikut merasakan terangnya. Ya!Mencari solusi lebih baik daripada mengeluh. Mari berusaha... J

Sabtu, 01 Oktober 2011

Petunjuk Kedamaian Pikiran untuk si Bodoh

Judul dari tulisan ini adalah salah judul dari kumpulan cerita milik Ajahn Brahm yang lain. Cerita ini ada sedikit kaitannya dengan cerita 'yang sudah selesai, ya sudah selesai'. Cerita ini membuatku lebih mengerti maksud yang ingin Ajahn Brahm sampaikan dalam cerita sebelumnya. selamat membaca... :)
“Petunjuk Kedamaian Pikiran untuk si Bodoh”
Saya menceritakan kisah sebelumnya (Yang sudah selesay, ya sudah selesai) kepada sekelompok besar pendengar, pada suatu jumat petang di Perth. Pada hari Minggu-nya seorang ayah datang dengan marah-marah untuk berbicara kepada saya. Dia mengikuti ceramah tersebut dengan anak remajanya. Masalahnya, ketika hari Sabtu siang si anak ingin pergi bersama teman-temannya, si ayah bertanya kepada anaknya, “Kamu sudah bikin PR belum?” Anaknya menjawab, “Seperti yang diajarkan Ajahn Brahm semalam di wihara, Papa, yang sudah selesai, ya sudah selesai! Daa...daaa...!”
Pada hari minggu berikutnya, saya menceritakan kisah yang lain.
Kebanyakan orang di Australia memiliki taman di rumahnya, tetapi hanya segelintir orang yang tahu bagaimana menemukan kedamaina di taman mereka. Bagi orang lainnya, taman hanyalah tempat bekerja yang lain. Jadi saya menganjurkan mereka yang punya taman untuk memelihara keindahan taman dengan berkebun sejenak, dan memelihara hati mereka dengan sejenak duduk dalam damai di tamannya, menikmati berkah alam.
Orang bodoh pertama akan berpikir, ini gagasan bagus yang mengasyikkan. Jadi, pertama-tama mereka memutuskan ntuk membereskan segala pekerjaan remeh-temeh, sesudah itumereka baru akan melarutkan diri dalam kedamaian di taman. Jadi, hamparan rumput harus dipotong, bunga perlu disirami, dedaunan perlu dipangkas, semak-semak harus dibabat, jalan setapak harus disapu.... Tentu saja itu bsemua menghabiskan seluruh waktu luang mereka, dan pekerjaan yang beres pun baru sebagian kecil. Pekerjaan merekan jadinya tak pernah selesai, dan mereka tak akan pernah memiliki sejenak waktu untuk diam dalam damai. Pernahkah Anda perhatikan bahwa di dalam budaya kita, orang-orang yang “istirahat dalam damai” hanya dapat ditemukan di pekuburan?
Orang bodoh kedua berpikir bahwa mereka lebih pintar dari orang bodoh pertama. Mereka menyingkirkan semua garu dan penyiram, lantas duduk di taman sambil membaca majalah, bisa jadi, yang berisi gambar pemandangan alam nan aduhai. Tetapi, itu berarti menikmati majalah, bukannya menemukan kedamaian di taman.
Orang bodoh ketiga menyingkirkan semua peralatan berkebun, semua majalah, koran dan radio, dan duduk diam dalam damai di tamannya....selama kira-kira 2 detik! Lalu mereka mulai berpikir, “Rumput itu perlu dipotong dan semak-semak di sana harus dibabat segera. Jika saya tidak segera menyiram bunga-bunga itu, mereka akan layu. Dan rasanya tanaman kaca-piring yang indah akan tampak bagus di sudut sana. Ya! Dengan sedikit hiasan tempat mandi burung di depan situ. Saya bisa membelinya di tempat pembibitan....” Itu sih namanya menikmati berpikir dan berencana. Tak ada kedamaian pikiran di situ.
Pekebun yang bijak akan mempertimbangkan, “Saya telah bekerja cukup lama, sekarang waktunya untuk menikmati buah dari pekerjaan saya untuk mendengarkan kedamaian. Jadi biarpun rumput perlu dipotong dan dedaunan harus dipangkas dan bla, bla, bla! TIDAK SEKARANG.” Dengan cara inilah, kita temukan kebijaksanaan untuk menikmati taman, sekalipun tidak sempurna.
Siapa tahu ada seorang biksu tua Jepang bersembunyi di balik salah atu semak siap untuk melompat keluar dan memberitahu kita betapa sempurnanya taman tua kita yang berantakan. Sungguh, jika kita memusatkan perhatian kepada pekerjaan yang telah kita selesaikan, alih-alih memusatkan pada pekerjaan yang masih harus diselesaikan, mungkin kita akan mengerti bahwa yang sudah selesai, ya sudah selesai. Namun, jika kita memusatkan perhatian hanya untuk melihat kesalahan pada sesuatu yang harus diperbaiki, seperti dalam kasus tembok bata di wihara saya, kita tidak akan pernah tahu apa itu kedamaian.
Pekebun yang bijak akan menikmati lima belas menit kedamaian di tengah kesempurnaan dari tidak sempurnanya alam, tidak berpikir, tidak berencana, dan tidak merasa bersalah. Kita semua berhak untuk pegi dan mendapatkan kedamaian; tetapi orang lain pantas kehilangan kedamaian dengan cara mereka sendiri! Lalu setelah memperoleh bagian penting dan vital dari lima belas menit dalam damai, kita bisa meneruskan tugas berkebun kita.
Saat memahami bagaimana menemukan kedamaian di taman, kita akan tahu bagaimana menemukannya kapan saja, di mana saja. Khususnya, kita akan tahu bagaimana menemukan kedamaian di dalam taman hati kita, sekalipun pada saat kita berpikir bahwa adabegitu banyak ketidakberesan, begitu banyak yang harus diselesaikan.
Ajahn Brahm

Kamis, 29 September 2011

yang sudah selesai, ya sudah selesai

saat ini buku yg sedang aku baca adalah "Si cacing dan kotoran kesayangannya" yang dibuat oleh Ajahn Brahm, seorang ilmuan, yang akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang petapa, dan sekarang menjadi seorang biksu. buku ini adalah kumpulan-kumpulan cerita pengalaman Ajahn Brahm dan orang-orang di sekitarnya. karena ketertarikanku pada spiritualitas para Budhis, aku jadi tertarik dengan buku ini. Ada beberapa cerita yang menarik, dan beberapa cerita akan kutulis di sini. siapa tau berguna bagi pembaca sekalian... :)

"Yang Sudah Selesai, Ya Sudah Selesai"
Musim hujan di Thailand berlangsung dari bulan Juli sampai Oktober. Selama periode tersebut, para biksu berhenti bepergian, menghentikan semua pekerjaan proyek, dan mencurahkan diri sepenuhnya untuk belajar dan bermeditasi. Periode tersebut disebut 'wassa' atau 'penyucian musim hujan"
Beberapa tahun yang lalu di Thailand selatan, seorang kepala wihara terkenal membangun sebuah aula baru di wihara hutannya. saat wassa tiba, dia menghentikan seluruh pekerjaan proyek dan memulangkan tukang-tukangnya. ini adalah saat untuk hening di wiharanya.
beberapa hari berikutnya seorang pengunjung datang, menyaksikan bangunan yang setengah jadi, dia bertanya kepada kepala wihara, kapan aulanya akan selesai. tanpa ragu-ragu, sang biksu tua berkata, "Aulanya sudah jadi.'
"Apa maksud anda dengan 'aulanya sudah jadi'?" tanya balik si pengunjung. "itu belum ada atapnya, tak ada pintu atau jendela, banyak potongan kayu dan kantong semen berserakan. apakah Anda akan membiarkannya begitu saja? Apa yang Anda maksud 'aulanya sudah jadi'?"
Kepala wihara tersenyu dan menjawab lirih, Yng sudah selesai, ya sudah selesai," dan dia pun beranjak pergi untuk bermediasi.
itulah satu-satunya cara untuk melaksanakan penyunyian atau rehat. jika tidak demikian, pekerjaan kita tak akan pernah selesai.
-Ajahn Brahm-

Sabtu, 16 April 2011

16 April 2011

hari ini kuawali dengan biasa, seperti yang biasa dilakukan setiap tanggal 16 april selama 6tahun belakangan. tepat jam 00.00, saat aku masih berada di rumah seorang temanku setelah rapat OMK, aku ngobrol sama Indra via telepon. seperti tahun-tahun sebelumnya, dia mengucap selamat tambah umur, dan dia bilang kalo nanti dia akan datang ke rumah.

setelah selesai dengan apa yang dibahas dengan teman2ku, kami cari makan (terlalu) malam di angkringan. setelah kenyang, kami pulang. jam 01.30 aku sudah 'mapan' di kamar. tapi aku baru bisa bener2 tidur sekitar jam 03.30 pagi.

seperti biasa, seperti apa yang aku lakukan kalo tidur pagi, aku bangun siang. sekitar jam 9 aku baru bangun. itu pun karena aku mendengar bisma dan reta, balita-balita depan rumah, yang berteriak rebutan mainan di teras rumahku.
aku bergabung dengan kedua bocah itu,dan bermain bersama mereka (bukan rebutan mainan lhoo...). jam11 indra datang, aku masih menjaga teman-teman kecilku itu, dan aku belum mandi. sampai saat itu semua berjalan biasa saja. indra menungguku sampai aku siap untuk pergi.
aku tanya ke dia,"kita mo kemana?"
"mie ayam bener yuuk. kamu harusnya makan mie, biar panjang umur", jawabnya.

sesampainya di tempat tujuan, ternyata semua meja di sana sudah penuh, dan ada tulisan "MIE HABIS" di depan kios. tapi indra tetep keukeuh masuk kios sambil bilang,"yaudah makan pempek aja.."
sampai di situ masih biasa-biasa aja. kekonyolan dimulai saat pandanganku tertuju pada seorang yang sepertinya aku kenal..
"eh, dyaz!! yank, ada dyaz tuh.." kataku pada indra.
indra cuma bilang "loh, kamu ga nyadar?"
aku ga ngerti kenapa dia ngomong gitu. aku balik liat lagi di meja-nya. ternyata di sana sudah ada sekelompok orang yang semuanya aku kenal dengan baik. ada riza,fajar,putri,oki dan dyaz. beberapa detik kemudian aku baru sadar kalo keberadaan mereka di sana bukan kebetulan, karena sudah ada birthday cake dengan lilin angka 21 di meja.

saat itulah hariku berubah menjadi luar biasa. kehadiran sahabat-sahabatku di hari istimewaku. selama ini sulit buat kami untuk berkumpul hanya untuk sekedar bertemu. tapi hari itu mereka semua ada. aku senang!

malam hari, beberapa saat sebelum tulisan ini dibuat, mas didik pulang dari kudus. dia membawa swikee... asiiikkk,udah lama aku pengen makan swikee. saat aku berkutat dengan PC-ku di kamar, tiba-tiba dari belakang ada nyanyian happy birthday dari mba week, mas didik dan bapak. akhirnya terjadilah acara tiup lilin dan potong kue di kamarku. sayang saat itu ibu belum pulang, dan mba no ga bergabung, karena ada di bandung. tapi aku tetap senang!!hari ini jadi luar biasa.

o iya, ada kehebohan tambahan, yaitu saat kami bersiap2 untuk makan malam, ternyata nasinya habis. jadi kami harus masak nasi dulu, baru makan.. :D

aku bersyukur karena selama 21 tahun ini aku selalu diberkati, dan disayangi Tuhan melalui bapak, ibu, mbak2, mas, para sahabat, saudara2, pacar, dan orang2 di sekitarku. aku juga bersyukur karena 6 tahun ini aku selalu ditemani seorang yang setiap saat menjagaku dan ada buatku,indra....

Terimakasih Tuhan, karena Kau beri aku orang2 yang istimewa. Berkatilah dan jagailah mereka selalu. Amin.

Minggu, 05 September 2010

bingung kah? aku juga...

udah lama juga ya, aku nggak nulis.. maklum, lg sok sibuk..jangan tanya aku sibuk ngapain, namanya jg sok sibuk.hehe..

Banyak kejadian, banyak cerita, dan banyak pengalaman beberapa bulan belakangan ini. ada yg seneng, ada yg penuh semangat, ada yg sedih, banyak juga yang membingungkan. Itulah semua yg mewarnai hidup setiap manusia di dunia ini.

Kata orang2, hidup itu kayak roda yg berputar. Bisa maju, bisa mundur. Kadang ada di atas, kadang ada di bawah. Saat ini aku nggak lagi ada di atas, maupun di bawah. Juga nggak dalam posisi siap maju, atau terseret mundur. Mandeg. Mandeg di tengah2.
Kemana aku harus mengarahkan rodaku? Aku bimbang. Banyak sekali cara pandang atau 'panduan-panduan' yang sebenarnya bisa memberikan solusi kebimbanganku itu. Semua-nya bertujuan baik, meskipun cara yg harus dijalankan berbeda2. Aku tidak bisa menerapkan semua cara pandang dan panduan2 tersebut sekaligus. Beberapa cara diantaranya saling bertentangan satu sama lain. Kalo dipaksakan untuk diterapkan bersama, malah semua jadi kacau. Rodaku bukannya bergerak maju/mundur menuju ke atas, tapi malah mungkin roda itu kempes sebelum aku menggerakkannya..

Ujung-ujungnya semua dihadapkan pada sesuatu yang dinamakan 'prioritas'.