Rabu, 21 Desember 2011

Mika - My Interpretation

You talk about life, you talk about death,
And everything in between,
Like it's nothing, and the words are easy.
You talk about me, and you talk about you,
And everything I do,
Like it's something, that needs repeating.
I don't need an alibi or for you to realize,
The things we left unsaid,
Are only taking space up in our head.
Make it my fault, win the game
Point the finger, place the blame
It does me up and down,
It doesn't matter now.

[chorus:]
'Cause I don't care if I ever talk to you again.
This is not about emotion,
I don't need a reason not to care what you say,
Or what happened in the end.
This is my interpretation,
And it don't, don't make sense.

The first two weeks turn into ten,
I hold my breath and wonder when it'll happen,
Does it really matter?
If half of what you said is true,
And half of what I didn't do could be different,
Would it make it better?
If we forget the things we know.
Would we have somewhere to go?
The only way is down, I can see that now.

[chorus]

It's really not such a sacrifice

[chorus]

And it don't have to make no sense to you at all,
'Cause this is my interpretation, yeah, yeah, yeah.

Selasa, 20 Desember 2011

Socialiezt (I)

# Sebuah awal,
Tahun ajaran baru 2005/2006. Aku yakin, masing2 dari siswa yg akan ikut kelas XI program ilmu sosial saat itu merasa kaget,heran,cemas dan lain sebagainya, karena, saat itu diumumkan bahwa siswa baru di kelas sosial HANYA berjumlah 20 orang. Hari pertama perkenalan dengan wali kelas kami. Saat itu juga dilakukan penentuan pengurus kelas, yang akhirnya diputuskan bahwa yusuf -yang selanjutnya lebih akrab dipanggil ucup- dipilih sebagai ketua kelas.
Pada minggu pertama, karena di sekolah kami sedang dilakukan renovasi gedung, maka terpaksa harus ada 2 kelas ya rela dipindah, sedangkan kelas yg lain harus digeser. Salah satu kelas yg dipindah adalah kelas kami, kelas ilmu sosial. Dan parahnya, kelas kami dipindah di lab AVA, yg letaknya jauh dari peradaban, jauh dari kelas2 lain, jauh dari koperasi, jauh dari kantin. Lab itu dekat dg parkiran motor, kantor TU dan WC guru.

Sulit dibayangkan saat itu, 20 anak dari 6 kelas yg berbeda2, disatukan di sebuah kelas ‘terasing’. Awalnya kami sulit menerima. Pertemanan diantara kami juga masih terjadi gap2an. Aku,Nika,Diah, yg sebelumnya dari kelas yg sama, dapat bergaul dg mudah. Ditambah Eca, yg se-pasukan tonti denganku+Nika. Kita berempat bisa cepet nyambung.

Devita+Sari, dua anak yg paling heboh dari kelas X.6 berteman dg Hanip+Fika dari kelas X.3. Dua kelompok perempuan ini pada awalnya tidak terlalu dekat. Tapi Hanip+Fika terus ikut bergabung dengan kami berempat. Dan lama kelamaan kami berdelapan bisa bergabung.
Semua itu dapat terjadi, karena kami jauh dari kelas lain. Kalau mau ke kantin, kami harus bareng2. Kalau jam kosong atau istirahat, kami juga ga bisa gabung dg kelas lain, karena boros waktu buat pergi ke kelas lain/ke perdadaban. Jadi kami bersosialisasi hanya dengan penghuni baru lab AVA itu. Seiring berjalannya waktu, ke20 orang anak itu mulai nyambung, dekat dan kompak…
to be tukinyut ... (kata2 yg sering diucapkan Sari waktu SMA. artinya; to be continued)

Kamis, 08 Desember 2011

Jekardah

Katanya dia identik dengan panas, macet dan mahal. Ada juga yg ngomong kalo dia kejam. 
4 Desember 2011 yang lalu, aku dengan sengaja mendatanginya. Setelah mengabaikan ketakutanku akan cerita-cerita buruk tentangnya, aku memberanikan diri untuk mendekatinya, ingin berteman dengannya. Aku berharap bisa hidup dengannya. Beruntung, aku punya kakak yang membantuku untuk mengenalnya. Melindungiku, dan menyediakan area aman untukku. Tidak hanya aman, tapi juga nyaman.
Saat ini, sudah 4 hari aku hidup dan bergumul dengan Jekardah. Tapi tak sekalipun aku merasakan apa yang pernah aku dengar dari orang-orang yang telah mengenalnya.
Tidak panas karena sepanjang siang aku berada di ruang ber-AC
Tidak macet karena sehari-hari aku hanya memerlukan kakiku untuk kegiatan sehari-hari
Tidak mahal karena banyak makanan murah dan enak disekitarku, juga karena ada kakak yg  selalu merepotkan dirinya untuk memudahkanku
Tidak kejam karena aku terlindungi sepanjang hari

Aku betah dengannya. Aku merasa bisa bersahabat dengan sedikit bagian darinya.
Mungkin aku merasa demikian karena baru sangat sangat sedikit mengenal Jekardah. Aku bahkan belum mengetahui dimana letak hal-hal buruk itu. Jika suatu hari aku mulai mengetahuinya, aku berharap nantinya aku bisa memahaminya, bisa mensyukurinya, hingga kelak kami bisa benar-benar bersahabat. Meskipun persahabatan itu tidak akan sekental persahabatakku dengan yang telah kukenal selama 21tahun....


Jekardah, mari kita berteman.... :)




Rabu, 30 November 2011

Tiba-tiba Tiba

Secara tak terduga, bus itu tiba.
Beberapa saat yang lalu, aku melihatnya masih berada jauh di ujung jalan tempat dimana aku menunggu.
Saat aku berkedip, bus itu sudah ada di depan mataku, dan pintunya sudah terbuka untukku.
Aku terkejut.
Ini bus yang aku tunggu.
Tapi kenapa tiba secepat ini?
Aku belum sempat mengangkat tas yang akan kubawa.
Bahkan yang menemaniku menunggu pun belum sempat berkata-kata.

Kondektur sudah menungguku untuk segera masuk ke dalam bus.
Sang sopir juga sudah membunyikan klaksonnya.
Mau tak mau aku harus segera mengambil langkah.
Semoga aku tidak salah langkah.

Selasa, 29 November 2011

Hidup Benar Menurut 10 Butir Filsafat Jawa

1.       Urip Iku Urup (Hidup itu nyala)
Hidup kita itu hendaknya memberi manfaat bagi segenap orang lain yang berada di sekitar kita. Semakin besar kita bisa memberikan manfaat dan berguna bagi khalayak ramai, kualitas hidup kita pun juga akan menjadi lebih baik.
2.       Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan Kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak)
Tugas kita selagi hidup di dunia ini adalah mengusahakan bonum commune yang dalam bahasa politik sering diterjemahkan sebagai kebaikan atau kesejahteraan bersama untuk segenap masyarakat. Kita meminimalisir segala bentuk kejahatan dan wujud keserakahan.
3.       Sura Diya Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti  (Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar)
Cinta tanpa pamrih akan mengalahkan segala bentuk kekerasan hati. Dalam bahasa Latin ada ungkapan Caritas Christi urget nos yang kurang lebih bisa diartikan “kasih Tuhan mendorong kita untuk berbuat banyak bagi sesama”. Bisa juga kita artikan “kasih mengalahkan segala angkara murka”
4.       Ngluruk Tanpa Bala; Menang Tanpa Ngasorake; Sekti Tanpa Aji-aji; Sugih Tanpa Bandha (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa harus merendahkan atau mempermalukan orang lain; Berwibawa tanpa harus mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)
Apalah artinya hidup ini bila kita dimusuhi orang lain karena ulah kita sendiri? Rasa-rasanya tiada guna kita memuja diri dengan segala atribut duniawi berbentuk kekuasaan, kekayaan, penampilan fisik, kalau nyatanya kita tidak punya kawan. Pun pula tidak perlu juga kita membuat orang lain malu atau sakit hati hanya karena kita ingin “balas dendam”. Jauh lebih bermartabat, kalau kita berani mengampuni orang lain dan memberikan maaf, sekalipun yang bersangkutan barangkali tidak mau mengaku salah dan tidak mau berdamai dengan kita. Kebesaran jiwa seseorang justru terbaca ketika berani mengaku salah dan minta maaf; pun pula rela mengampuni mereka yang bersalah kepada kita.
5.       Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu)
Memiliki benda itu perlu namun tidak perlu menumpuk. Benda atau harta harus diperlakukan sebagai “sarana” dan bukan “tujuan” hidup. Tujuan hidup kita tak lain adalah memuji kebesaran Tuhan, melayani sesama dan berbakti kepada Sang Pencipta melalui karya-karya kasih kepada sesama.
6.       Aja Gumunan; Aja Getunan; Aja Kagetan; Aja Aleman  (Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; jangan mudah terkejut; jangan mudah kolokan ataumanja)
Banyak ornag mengalami “gegar budaya” (culture shock) manakala menjadi kaya secara tiba-tiba. Di Indonesia, banyak orang OKB (Orang Kaya Baru) mendadak berubah tingkah lakunya. Selain suka berbelanja di pusat-pusat bisnis, caranya berdandan dan berbicara dengan orang lain pun jadi berubah.
7.       Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi)
Harta, kekuasaan, dan kenikmatan adalah tiga hal yang sering kali membawa manusia pada jurang dosa alias gampang digoda melakukan pelanggaran norma-norma sosial-hukum-susila-agama-moral.
8.       Aja Kuminter mundak Keblinger; Aja Cidra Mundak Cilaka (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka)
Pintar dan cerdas sangat membuka peluang bagi kita menjadi sombong dan arogan. Kalau kita merasa pintarsendiri, kita memandang orang lain dengan sebelah mata. Kita meletakkan diri kita terlalu tinggi dan memandang orang lain terlalu rendah. Orang yang hanya peduli dengan dirinya sendiri akan mudah sekali “jatuh” dalam dosa yang disebut main curang.
9.       Aja Milik Barang Kang Melok; Aja Mangro mundak Kendo (Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, canti, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat)
Hidup sederhana itu indah. Hidup menurut ukuran dan takaran kita sendiri adalah bijaksana daripada harus hidup penuh kepalsuan layaknya bunyi pepatah lama “Besar pasak daripada tiang”. Sekarang ini, banyak orang lupa diri lantaran kena hipnotis akan hidup enak, mewah dan serba cepat.
10.   Aja Adigang, Adigung, Adiguna (Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti)
Sombong adalah akar segala dosa. Merasa diri paling hebat biasanya menjadi awal untuk melakukan segala bentuk penghinaan kepada orang lain. Sombong dan arogansi akan bertambah hebat, kalau ditopang oleh kekayaan. Menjadi lebih “mengerikan” lagi kalau ditambahi dengan semangat mencari kekuasaan alias ambisius.

-Dikutip dari “Olah Hati dan Budi” Teks misa gereja St. Antonius Kotabaru Yogyakarta-

Minggu, 27 November 2011

Membuat Keputusan

Akhir-akhir ini aku sering dihadapkan pada sesuatu yang disebut pilihan. Pilihan itu datang keroyokan dan mereka datangnya tiba-tiba. Di saat yang bersamaan pula. Dan akhirnya membuat  aku jadi dilema. Kalo udah dilema, bingung jadinya. Takut salah pilih, membuatku jadi makin bingung. Apalagi waktu yang diberikan untuk memilih sangatlah singkat. "gyaaaa....iki piye???" itu yang sering aku teriakkan akhir2 ini. Aku jadi inget dg 'kitab'ku saat galau melanda. Bukunya Ajahn Brahm. Aku baca lagi buku itu, dan ada satu cerita Ajahn Brahm yang cocok dengan apa yang aku alami akhir-akhir ini. Ini satu paragraf yang bisa membantuku mengurangi kebimbangan yang menjadi-jadi.
Saat kita tiba di persimpangan jalan dan tak yakin arah mana yang harus diambil, kita sebaiknya menepi, rehat sejenak, dan menanti sebuah bus. Segera, biasanya pada saat kita tak berharap, sebuah bus tiba. Di bagian depan bus umum ada tulisan yang menandakan tujuan dari bus itu. Jika tujuan anda sama, naiklah ke bus itu. Jika tidak, tunggulah, akan selalu ada bus lain yang datang.
-Ajahn Brahm-
Solusinya simpel yaa... Yang harus aku lakukan saat ini hanyalah menunggu bus-ku tiba. Memang, sudah ada beberapa bus yang lewat dan aku lewatkan. Aku lewatkan karena tujuan bus itu tidak sampai di tempat tujuanku, ada yang aku lewatkan karena aku tidak berharap bus itu akan lewat, dan ada juga bus yang ingin aku tumpangi tapi tidak mau berhenti untuk mengangkutku :D. Tapi aku tidak perlu khawatir, karena pasti di belakang masih ada bus-bus lain yang akan lewat. Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah menemukan bus-mu? :)

Jumat, 28 Oktober 2011

Rindu

Akhir-akhir ini hujan merupakan harapan bagi sebagian besar orang. Siang-malam yang terasa panas dan 'sumuk', mendung nanggung yang selalu mondar-mandir yang membuat bumi menjadi semakin pengap, dan kekeringan yang melanda di beberapa wilayah, membuat banyak orang mendambakan hujan, termasuk aku.
Malam ini, aku dibuat terkenang oleh bau khas tanah tersiram hujan. Hujan yang hanya turun sejenak cukup kuat untuk melempar memoriku pada saat-saat hujan sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu, saat aku masih tinggal di kamar kecil di sebuah rumah di Jl. Solo, kost wanita Djasol.
Dulu, aku adalah mahasiswi yang hobi begadang. Tugas kuliah atau koneksi internet gratis atau kumpulan film-film favorit selalu menemaniku menghabiskan malam. Jadwal ujian juga pasti selalu menjadi salah satu alasanku untuk begadang. Tapi ada satu hal yang tidak pernah absen menemaniku, secangkir cappuccino...
Karena sebagian besar penghuni kost itu banyak yang tidak suka beraktifitas di malam hari, maka kegiatan begadang selalu aku jalani sendirian. Internet atau film kadang membuatku bosan (kalo tugas dan ujian, nggak perlu ditanya, pasti juga membuatku bosan ;p), tapi ada satu teman yang tidak pernah membuatku bosan. Hujan... Waktu dia datang, segera aku menyambutnya dengan membuka pintu kamarku yang terletak di lantai atas itu. Aku tinggalkan kegiatanku sebelumnya, kuambil teman setiaku, secangkir cappucino, dan kunikmati suara hujan yang membuat malam jadi ramai tapi tetap damai. Saat-saat seperti itu adalah saat yang sangat nyaman.
Segera aku buat secangkir cappuccino, dan kunikmati sisa-sisa hujan sambil menikmati cappuccinoku, dan kubayangkan aku sedang berada di kamar kostku... :)