Kamis, 01 Mei 2014

Cerita Dari Dalam Kereta

Pagi ini aku sedang berada di dalam kereta lagi. Kali ini naik Argo Parahyangan Tujuan Bandung. Ya,aku akan meninggalkan Jakarta sejenak untuk berlibur. Meninggalkan segala kejenuhan dan kelelahan. Lelah untuk berusaha memahami dan menerima sesuatu yang sangat bertentangan dengan pikiranku. Aku bakalan istirahat di Bandung untuk mengistirahatkan badanku yg masih lelah setelah pulang ke Jogja beberapa minggu lalu.

Pagi tadi aku berangkat dari kost dengan semangat dan senang hati. Bapak supir taksi yg mengantarkanku ke stasiun cukup baik,ramah tapi tidak kepo. Itu membuat moodku makin baik. Sesampainya di stasiun aku menghela nafas ketika melihat stasiun yg sangat ramai. Sambil mencari tempat tunggu,kupasang headsetku untuk mendengarkan musik. Kupasang sebelah kanan saja,agar ak bisa mendengar pengumuman jika kereta sudah datang.

Setelah menunggu beberapa saat,akhirnya kereta tiba juga. Lalu aku masuk dan mencari tempat dudukku. Setelah merasa nyaman di tempat duduk,aku memasang headset sebelah kiri yang belum terpasang. Taukah apa yang kudapati? Suara pecah dari headset kiriku. Seketika moodku jadi kacau. Hal ini bahkan lebih buruk dari headset mati total. >_<

Telingaku memang cukup peka dalam mendengar kejernihan suatu suara. Aku bisa merasa sangat tidak nyaman saat mendengar suara musik dari segala jenis perangkat yang tidak bagus. Kata mas Yer,kemungkinan aku ada 'gejala' audiophile;yaitu sangat peka dalam memperhatikan kualitas suara.

Aku memang gampang pusing saat mendengar suara musik dari pengeras suara yang abal2. Aku juga enggan memakai headset ecek2 yang membuat telingaku terasa panas saat mendengarkan musik. Saat ini headsetku rusak,suaranya pecah sebelah. Memang tidak sampai membuatku pusing. Tapi aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Mau tidak mau aku harus melepas headset sebelah kiri,atau moodku akan berantakan.

Saat ini rasanya aku ingin kembali ke kost,mengambil kartu garansi,dan ke service center headsetku ini buat klaim garansinya...huhuhu...

Okelah,tidak banyak yg bisa kulakukan. Semoga beberapa hari kedepan Bandung bisa menghiburku...
Bandung,i'm coming... Be nice to me yaa...

Selasa, 29 April 2014

Heran

Hari makin berlalu. Waktu juga berjalan makin cepat. Perubahan akan segera terjadi, sesuatu yang semula kunanti-nanti. Awalnya segalanya terlihat indah, dan aku tidak sabar untuk segera menyongsong perubahan itu. Segala rencana mulai tersusun. Ahh, segalanya makin terlihat baik di depan sana...

Satu persatu, segala hal yang makin dekat itu makin diperjelas. Tapi, satu persatu perubahan justru mengaburkan hal-hal yang sebelumnya sudah jelas. Yang dulu halus kini berubah jadi kasar. Yang dulu mengagumkan kini jadi membingungkan. Yang dulu sering menyerap air mata, sekarang justru sering memerasnya...
Heran.. Aku heran dengan segala proses ini.. Makin diperjelas kok malah makin ga jelas...

Kamis, 13 Maret 2014

Rock N Roll Night

Aku ga bisa berkata2 untuk menggambarkan kepuasanku nonton konser Avril Lavigne semalam. Aku ga punya gambar yang bisa membuktikan keseruannya. Malam tadi, Avril benar2 Rock N Roll!!! Mantap!!! Suasananya membuatku lupa segalanya, bahkan karena saking menikmati suasana, aku tak berpikir untuk mengambil gambarnya! Thank you Avril fot the great night! :)

Rabu, 05 Maret 2014

Mestakung

"Ati-ati kalo ngomong.. Kalo di-amin-in sama malaikat trus disampaikan ke Tuhan, bisa saja omonganmu terwujud.."

Kurang lebih kata-kata seperti itu sering terdengar tiap kali ada yang berucap buruk. Banyak pula yang mengatakan agar ucapan kita dijaga, ngomong yang baik-baik, biar yang terjadi hal-hal yang baik.

Jika banyak orang mengatakan bahwa malaikat mendengar, mencatat, atau menyampaikan ucapan manusia kepada Tuhan, aku yakin bahwa tidak hanya malaikat yang berperan. Aku percaya, alam semesta ini juga ikut ambil bagian dalam terwujudnya tiap kata-kata manusia (Meskipun kepastiannya hanya datang dari Tuhan).

Aku percaya jika semua makhluk dan semua benda yang ada di muka bumi ini, di alam semesta ini, semuanya memiliki jiwa. Mereka mampu mendengar dan mampu merasakan setiap ucapan dan perilaku manusia. Sayangnya mereka semua terdiam, dan tidak mampu untuk mengungkapkannya saat itu juga.
Aku percaya di alam tempat kita hidup ini, ada banyak mata, telinga dan mulut tak terlihat, yang selalu mengawasi, mendengar dan saling mengucapkan apa yang kita lakukan dan kita ucapkan. Alam semesta akan selalu mendengar ucapan kita. Lalu ucapan kita akan tersebar melalui mulut dan telinga tak terlihat, sampai akhirnya terwujudlah ucapan itu. Dan benar, aku percaya bahwa tidak seharusnya kita manusia berkata buruk. Aku selalu mencoba, meskipun terkadang aku tidak bisa mengendalikan perkataanku (dan pikiranku).

Beberapa hari ini aku membuktikan (kembali) bahwa hal itu benar-benar terjadi. Suatu hari, aku pernah mengucapkan keinginanku untuk mendapatkan sesuatu pada waktu tertentu. Seiring berjalannya waktu, aku melupakan ucapan (dan keinginan) itu. Beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan apa yang pernah kuinginkan itu. Saat itu Mas Yer mengatakan bahwa keinginanku terwujud, bahkan terwujud tepat di saat yang seperti apa yang pernah kuucapkan. Aku terkejut, dan ingatanku kembali pada saat aku mengucapkan kata-kata itu. Ya, alam semesta telah mendengarkan ucapanku. Alam semesta mendukung ku.. Mestakung... (semesta mendukung)

Tentu saja atas ijin Tuhan keinginanku dapat terkabul. Terima kasih Tuhan, terima kasih semesta...

Kita bisa lupa dengan ucapan kita. Tapi (malaikat dan) semesta tidak akan pernah lupa. Lebih baik kita jaga ucapan kita, selalu berpikir positif, agar hal buruk tak menimpa pada kita.

Minggu, 02 Maret 2014

Tentang Ketagihan dan Aku

Hari ini aku kembali merasakan semacam ngidam. Tapi bukan ngidam dlm arti yg sebenarnya ya. Tidak jarang aku menginginkan sesuatu, dan itu terbayang-bayang terus menerus, sampai aku bisa mendapatkannya. Aku tidak akan berhenti memikirkan atau membicarakannya sampai keinginanku terpenuhi. Biasanya hal ini berlaku pada makanan atau minuman. Dan hari ini hal yang sangat menggoda lidahku adalah cappuccino. Lebih spesifik lagi cappucinno mekdi. Tapi perjalananku sepajang hari ini tidak menakdirkanku untuk bisa mampir ke tempat makan itu. Rasa kopi kesukaanku itu membuatku berkali-kali menelan ludah. Tiap kali lewat kedai kopi, aku jadi otomatis berhenti sejenak untuk melihat menu dan menganalisis sambil menebak-nebak apakah cappuccino-nya enak. Dalam pencarian itu, langkahku terhenti di starbak, kedai yang kukira tidak ada di west mall grand indonesia. Dan herannya aku bisa sampai di kedai kopi itu, rasanya seperti ada yang menuntunku untuk bisa sampai ke sana. Tanpa rencana dan hanya jalan begitu saja. Setelah memesan cappuccino, aku dikejutkan dengan kenyataan bahwa aku mendapatkan customer voice, yang singkatnya aku punya kesempatan untuk mendapat free minuman, setelah aku memberi penilaian ttg starbak di website-nya. Beruntungnya diriku... Pada titik ini aku merasa alam semesta sudah berkompromi untuk memberikan keberuntungan ini padaku.. Oh, Thanks God, thanks universe...

Berbicara tentang kopi, kudengar dari temanku bahwa salah seorang teman kuliah yang merupakan teman ngopi-ku (karena di dalam geng hanya kami berdua yg paling suka minum kopi. dan selera kami sama), katanya dia sudah mulai berhenti minum kopi dalam beberapa bulan ini. Dalam obrolanku dengan teman-temanku tadi muncul pertanyaan "emang dia udah ketagihan kopi, sampai berusaha berhenti gitu?" Aku tertarik dengan kata "ketagihan". Kata itu membuatku berfikir, apa aku pernah ketagihan? Sulit buatku untuk menemukan jawaban itu. Satu per satu makanan, benda-benda dan idola-idolaku bermunculan dikepalau. Seperti sedang diabsen, mereka muncul dan seolah olah bertanya padaku "apa kamu ketagihan padaku?"

Cappuccino. Aku suka sekali dengan jenis kopi ini. Tapi aku tidak selalu setiap saat ingin minum minuman ini. Bahkan aku juga tidak mempunyai standard khusus, cappuccino mana yang paling pas di lidahku. Bahkan ada kalanya aku merasa bahwa cappuccino itu biasa aja. Dan kalau disuruh menjelaskan tentang komposisi cappuccino, aku masih meraba-raba dan tidak yakin pasti. Jelas, aku tidak ketagihan padanya.

Handphone. Benda ini adalah benda yang paling lama kedua yang melekat pada tubuhku setelah pakaian. Aku sangat membutuhkannya setiap hari. Tapi, ada kalanya juga aku tidak peduli dengan gadget satu ini. Aku bisa seharian tidak peduli padanya, meskipun aku lagi bengong-bengong ga ada kerjaan. Itu artinya jelas bahwa aku tidak ketagihan pada handphone.

Iker Casillas. Kiper asal Spanyol ini sudah kunobatkan sebagai pria paling ganteng sejagad raya ini. Kalo melihat fotonya aku bisa heboh sendiri. Tapi kegantengannya itu tak membuatku jadi benar-benar tergila-gila padanya. Tak membuatku rajin mantengin berita tentangnya, atau rajin nonton pertandingannya. Kalo ditanya biografinyapun belum tentu aku bisa jawab. Dan kadang kalo liat fotonya pas jadi model iklan aku bisa komen jelek, ato sekedar "ihh, ga maskulin!". Aku tidak ketagihan padanya juga.

Berbagai hal yang muncul dan bertanya "apakah kamu ketagihan padaku?" itu tak ada satupun yang membuatku menjawab "ya". Kalau ada orang yang suka atau punya hobi khusus, kebanyakan mereka akan sangat mendalaminya. Tapi tidak demikian denganku. Semua hal bagiku sama saja. Meskipun ada beberapa hal yang luar biasa, tapi selalu ada sisi "biasa saja"-nya bagiku. Tidak ada hal yang kupandang perfect, dan aku tidak pernah mengejar untuk membuatnya perfect. Aku lebih suka menikmati apa yang ada apa adanya. Aku menikmati semuanya yang berjalan dengan natural.

Aku tidak tahu, sebenarnya sikapku ini adalah hal yang baik atau buruk. Aku tidak tahu apakah ini berkah buatku atau malah musibah. Apakah hidupku datar dan tidak spesifik? Entahlah... Aku hanya khawatir jika sikap ini membuatku jadi tidak peduli sekitarku. Tapi aku bersyukur, karena sikap itu membuatku bisa lebih menikmati hidup. Tidak ngoyo dan tidak berlebihan. Dan ketidakspesifikan itu memudahkanku saat menjalani hari-hariku, karena aku bisa menganggap bahwa semuanya sama saja.

Jakarta, 1 Maret 2014

Senin, 17 Februari 2014

Ga Enak Makan itu Ga Enak

Beberapa hari belakangan banyak yang berkomentar tentang badanku. Banyak sekali yg bilang kalo aku makin kurus. Menurut angka timbangan, berat badanku memang turun sekitar 3kg setelah sakit beberapa minggu yang lalu. Aku ga merasakan banyak perubahan, meskipun sudah banyak orang yang mengatakan demikian.

Disaat seperti ini aku mengalami dilema. Aku senang, karena banyak yang bilang aku kurus (walopun sebenernya aku ga merasa, secara ga ada satupun baju yg jd longgar :D). Tapi aku sedih karena kehilangan nafsu makan. Meskipun (sepertinya) sudah sembuh dari sakit, aku masih belum bisa banyak makan. Bukan karena nggak bisa, tapi karena ga selera.

Aku yang pada dasarnya doyan makan, tiba-tiba jadi tidak mudah tergoda dengan makanan enak sekalipun. Sampai-sampai mendengar kata 'leko' pun aku tetap ga selera makan, padahal itu adalah kata keramat yang selalu bisa membuatku menelan ludah saat membayangkan iga penyetnya. Parahnya, belakangan aku merasa makan hanyalah formalitas. Kalo ga makan, maag bakal kambuh, plus diomeli teman2. Kalo pagi ga pernah sarapan. Makan siang hanya formalitas. Kalo malam, aku memang merasa lapar, tapi sedikitpun ga ada nafsu makan. Menyedihkan ya...

Dalam keadaan seperti ini aku masih bisa bersyukur, karena kadang-kadang aku suka tiba-tiba kepengen makan makanan tertentu. Biasanya kepengen yang aneh-aneh dan tidak mudah dijangkau sih. Tapi ini adalah celah buatku agar mau makan. Saat pengen makan sesuatu, aku akan berusaha mendapatkan makanan itu, dengan harapan aku bisa makan banyak dan bisa mengembalikan selera makanku. Meskipun seringnya hasilnya nihil. Makan dikit langsung kenyang.

Kalau boleh milih, aku pengen bisa kembali kayak dulu, bisa ngrasaain enaknya makanan, dan bisa makan dengan enak.
Kalo boleh serakah, aku juga pengen ga tambah gemuk lagi, tapi nafsu makanku juga kembali seperti semula :D
Apa yang sedang kualami, sangatlah tidak nyaman, kawan... Maka bersyukurlah bagi yang diberkahi dengan kesehatan, dan bisa merasakan enaknya makan..

Senin, 10 Februari 2014

Cerita Seru di Penghujung Tahun

Pertengahan Bulan Desember tahun lalu, Socialiezt '07 (SCZ) cabang Jakarta kedatangan tamu yaitu Hanip, salah satu anggota SCZ pusat (Jogja). Karena itu SCZ cabang Jakarta yg diwakili aku, Zukko dan Eca, menghabiskan akhir pekan bersama dengannya. Dari jumat sore kami berkumpul di kost Eca. Setelah makan malam di Lotte Shopping Avenue yang terletak di halaman belakang kost Eca, kami mengadakan rapat serius yang berlangsung sejak jam 10 malam hingga hari Sabtu dini hari. Rapat yang berlangsung cukup alot itu bertujuan untuk memutuskan kemanakah kami akan pergi pada hari Sabtu.

Tempat hiburan yang paling umum di Jakarta adalah mall. Beberapa mall sempat disebut sebagai salah satu alternatif tujuan. Tapi hanip request ingin melihat pepohonan. Jadi Mal dihapus dari daftar tujuan. Selain Mal, di Jakarta ada Kota Tua dan juga Monas. Hanip cukup tertarik untuk ke sana. Sayangnya Kota Tua sedang direnovasi. Lalu Monas? Ahhh, ngapain ke Monas?? Sempat ada celetukan untuk ke Bogor saja. Tapi kami ragu apakah waktunya cukup, mengingat Sabtu sorenya Hanip harus pulang ke Jogja. Lagipula, kemampuan kami untuk bangun pagi juga diragukan. Padahal kalau mau ke Bogor, setidaknya jam 7 pagi kami sudah harus berangkat. Pilihan yg lain adalah kebun Binatang Ragunan. Tapi, di Jogja kan ada kebun binatang juga..

Menjelang jam 12 malam, belum juga diputuskan kemana tujuan kami. Karena waktu sudah larut malam, rapat makin terasa alot, kami memutuskan untuk voting. Peserta voting adalah Zukko, Eca, dan Aku. Setelah hopeless dengan rapat yang tak kunjung selesai itu, voting pun dimulai. Dengan lesu aku menyeletuk Ragunan. Lalu tak lama Zukko mengatakan Ragunan. Dan Eca menyusul dengan menyebut Ragunan juga. Hanip dengan cerianya menyambut keputusan 'musyawarah untuk mufakat' itu. Bukan antusias dengan tujuan wisatanya, tapi senang karena akhirnya rapat selesai juga dan menghasilkan keputusan. Rapat yang dilalui dengan alot itupun akhirnya selesai dengan gampangnya.

Kami berencana untuk berangkat sepagi mungkin. Melihat kemampuan molor kami yang luar biasa, Hanip meramalkan bahwa kami baru akan berangkat jam 10. Tapi dengan yakin, yang lain berkata akan berangkat jam 8 pagi.

Pagi diawali dengan drama dorong-dorongan untuk mandi, dan saling mempersilahkan untuk mandi duluan. Sebenarnya itu hanya kamuflase untuk menutupi kemampuan tidur kami yang luar biasa itu. Dan bisa ditebak, sesuai ramalan Hanip, kami baru siap pergi jam 10 lewat. Tapi itu semua tidak mengurangi semangat kami. Dengan ceria, kami naik busway menuju Ragunan. Misi pribadiku, aku mau melihat pinguin! :D

Sesampainya di Ragunan, aku agak sedikit kecewa karena tidak ada pinguin. Tapi tak apalah.. Dari sekian banyak binatang yang ada di Ragunan, kami semua ingin melihat Macan dan hewan-hewan primata. Kalo ke kebun binatang, hewan primata hukumnya wajib untuk dikunjungi. Pertemuan pertama kami dengan hewan di Ragunan adalah dengan Gajah. Gajah itu meskipun hewan besar, bagiku mereka itu unyu sekaliiii... Apalagi bayi-bayi gajahnya, bikin gemessshh...














Karena kebun binatang cukup luas, kami memutuskan untuk menyewa sepeda untuk berkeliling. Sepeda biasa biaya sewanya Rp.10.000,- per jam. Sedangkan sepeda tandem Rp.15.000,- per jam. Kami menyewa 2 sepeda biasa dan 1 sepeda tandem. Setelah menyewa sepeda, acara jalan-jalan kami jadi lebih menyenangkan. Kami dapat bergerak dengan lebih cepat. Kami langsung menuju kandang harimau, hewan yang sangat ingin kami lihat. Setelah puas memandangi binatang buas yang terlihat manis itu, kami menuju kandang hewan primata. Setelah melihat monyet-monyet bergelantungan, kami lanjut ke kandang ular. Kami melihat ular sanca dan ular kobra.





























Setelah selesai melihat ular, dan kami mulai merasa capek, kami memutuskan untuk mencari hewan terakhir yang menjadi misi kami, yaitu Macan Tutul. kami berkeliling mengikuti petunjuk arah kandang Macan tutul. Dalam pencarian panjang kami, kami terhenti di kandang Rakun. Astaga.... Rakun itu lucu sekaliiii.... Kami mampir di kandang hewan super unyu itu. Kami melihatnya berdiri dengan badan berbulu dan gendut itu... Lucu sekaliii....




















Setelah puas melihat Rakun, kami melanjutkan misi kami mencari Macan Tutul. Dengan menempuh perjalanan panjang, juga menembus gerimis yang mulai membuat udara menjadi dingin, kami berputar-putar mencari kandang yang tak kunjung kami temukan itu. Ketika kami melihat sebuah kandang dengan tulisan Macan Tutul, kami semakin bersemangat mengayuh sepeda kami ke arah sana. Kami berhenti di tepi jalan yang berjarak sekitar 10 meter di depan kandang macan tutul. Sepeda kami tidak bisa kami bawa untuk mendekati kandang..
Dengan girangnya kami celingukan di depan kandang itu. Tapi tak ada satupun dari kami yang turun dari sepeda. Setelah beberapa menit menunggu munculnya si macan tutul, kami tak juga melihat wujud makhluk itu. Rupanya sang macan tutul sedang beristirahat di atas dahan pohon di dalam kandangnya. Kami tidak bisa melihatnya karena terhalang penutup kandang di bagian atas. Karena tak ada satupun yang turun dari sepeda, aku berkata sambil menunjuk gambar Macan Tutul di dekat kami, "Macan tutul itu bentuknya kayak gitu kan? Udah lah ya, kita lanjut jalan aja.." Dengan datarnya teman-temanku mengiyakan dan kami berlalu..


















Sesampainya di kost Eca, kami baru tersadar, ngapain kami jauh-jauh ke Ragunan kalo cuma mau liat GAMBAR Macan Tutul??? Dan kami pun tertawa ngakak atas apa yang telah terjadi.

Photo by: Eca