Ahhh.. leganya, akhirnya kegalauanku yang ga jelas itu berakhir juga, seiring berakhirnya tayangan episode terkahir The Heirs hari Jumat lalu. Seperti saat datang, galau itu pergi dengan mudahnya juga. Beruntung juga aku punya bakat "mudah lupa".hihihi... Membaca tentang kegalauanku, rupanya masyer cukup cepat tanggap. Dia segera download semua episode The Heirs untukku. Tapi sayangnya sekarang aku sudah tidak terlalu berminat menontonnya. Bagaimanapun juga, makasih ya Mas, udah mengusahakannya buatku.. :)
Mudah galau memang menjadi salah satu masalahku. Tapi Puji Tuhan, aku punya obat yang mujarab, yaitu mudah bersyukur. Aku selalu mencoba untuk mensyukuri segala sesuatu yang kuterima dan kualami. Segala hal buruk bisa jadi masalah, begitu juga hal baik. Namun jika kita melihat dan menerimanya dengan penuh syukur, maka masalah tersebut akan terasa berkurang, bahkan mungkin juga bisa hilang.
Di kehidupan ini, aku merasa heran dengan pola pikir orang dalam memandang dan memperlakukan suatu masalah. Beberapa waktu lalu aku dan masyer membahas tentang iklan perawatan kecantikan wajah di perempatan Gondomanan. Dalam iklan itu,terdapat kata-kata "membantu masalah penuaan...". Aku dan masyer sepakat, bahwa tua adalah hakikat manusia, dan semua orang panjang umur akan menjadi tua. Mungkin yang dimaksud di iklan itu adalah menyediakan perawatan untuk kulit kusam, keriput, noda hitam dll. Tapi kenapa ga dijelaskan aja serinci itu? Kenapa malah menggunakan kata penuaan, dan menyebutnya sebagai masalah? Keriput, kulit kusam, noda hitam, tidak melulu karena penuaan lho. Bagiku dan masyer, iklan itu seperti mempermasalahkan yang bukan permasalahan.
Mungkin sekarang ini banyak orang yang hidupnya tidak bahagia, karena selalu mempermasalahkan hal yang bukan permasalahan seperti itu. Hal-hal kecil bisa bikin stres, atau bisa memicu pertengkaran/perpecahan. Hal yang sebenarnya bukanlah masalah besar, dipermasalahkan sehingga menjadi hal yang memicu amarah dan efek buruk lainnya. Kejadian seperti itu sudah sering terjadi.
Jika kita mampu mempermasalahkan hal yang bukan permasalahan, kenapa kita tidak mencoba menghilangkan permasalahan? Jika punya permasalahan, sekecil apapun itu, kita bisa kok berusaha menghilangkannya. Ada banyak solusi yang dapat menyelesaikan masalah. Kita bisa memilih salah satu, agar permasalahan itu tidak mengganggu/menyusahkan hidup kita dan orang-orang disekitar kita.
Hidup tanpa permasalahan pasti akan terasa hambar. Tapi cara kita memandang dan mengatasi permasalahan, juga akan mempengaruhi hidup kita. Jika kita memandang dan mengatasi masalah dengan positif dan penuh syukur, maka hidup kita akan berwarna dan tetap terasa indah. Tapi jika kita memandang permasalahan dengan negatif dan penuh prasangka buruk, maka hidup kita akan penuh gejolak dan menyedihkan. Lalu bagaimana jika kita mempermasalahkan hal yang sebenarnya bukan permasalahan? Kurasa hidup akan jauh jauh lebih buruk daripada hal-hal buruk.
Tetap positif, dan selalu bersyukur... :)
This is my page. My space. I share what's in my head. Sometime it's inspiring thing. Sometime it's just vent of my mind. What's in this page is just a little piece(s) of my life. You can judge what I write. But not my life ;) - I write what I want to write. Because this is my space
Selasa, 16 Desember 2014
Kamis, 11 Desember 2014
Galau Ga Penting
Aku lagi sebel. Sebel karena aku galau. Yang bikin sebel adalah karena aku galau karena hal ga penting, yaitu galau karena ketinggalan nonton drama korea. Mending-mending kalo galau karena memikirkan masa depan atau keputusan yang menyangkut hidup manusia, galaunya lebih keren dan bermartabat. Nah ini, aku galau karena ga nonton drama korea. Galau yg sangat useless dan ga jelas banget. -_-"
Masih nyambung sama postinganku sebelumnya, aku lagi keranjingan nonton The Heirs. Awal mulanya karena suatu sore, aku lagi sakit. Jadi ga bisa pergi2. Karena aku sudah bosen nonton Masha and The Bear di TV, aku ganti channel ke RCTI, nonton The Heirs. Aku nonton tanpa tau jalan ceritanya. Sampai selesai, aku masih biasa aja. Keesokan harinya, aku ga nonton lanjutannya, karena kebetulan lagi ga di rumah. Keesokan lusanya, aku nonton lagi. Dari situ aku mulai terpikat oleh tatapannya Kim Tan. Dan aku juga mulai penasaran dengan jalan ceritanya. Lalu kucarilah sinopsis, lengkap dengan screenshot tiap adegannya. Awalnya aku mencari sinopsis di episode yang kutonton, sekitar episode 8. Dasarnya aku punya jiwa penasaran yang amat sangat pada hal mendetail, ujung-ujungnya kubaca semua sinopsis dari episode 1-20.
Sejak itu, aku mulai keranjingan nonton drama itu di RCTI. Meskipun sudah tahu jalan cerita dan ending-nya, aku merasa belum mantab kalo belum nonton beneran. Mulailah aku mantengin itu stasiun TV. Masih menyisakan beberapa episode yg belum tayang, RCTI bilang kalau akan ada drama korea lain yg akan tayang. Kupikir hari Rabu 10 Desember akan dikebut untuk menamatkan semua tayangan. Tapi ternyata baru sampai episode 18. Berarti The Heirs akan tamat besok Jumat.
Hari ini aku pergi jemput om-ku di Bandara. Jadwalnya sih jam 12.30 udah sampai Jogja. Jadi jam 14.00 aku sudah bisa nongkrong di depan TV. Tapi karena cuaca buruk, pendaratan dialihkan ke bandara lain. Alhasil om baru sampai jogja jam 16.30. Selama menunggu, aku masih bahagia, karena main-main sama keponakanku sambil belanja di carrefour. Saat balik lagi ke bandara, aku tiba-tiba tersentak karena ga nonton The Heirs! Seketika aku jadi galau. Aku jadi kepikiran terus menerus dan bilang sama kakakku kalau aku galau. Kakakku cuma bilang "Lebayyy... Ga nonton belasan episode, biasa aja. Lha kok ini cuma ketinggalan 1 episode langsung galau!"
Ahhhh, kakakku tidak mengerti perasaanku... Kalo ga nonton tuh rasanya ga mantepppp...Uuugghhh... Harusnya kan hari ini episode manis-manisnya.... (biar sekalian lebay-nya)
Ga penting banget kan kegalauan ini....
Arrrggghhh sebel deh rasanya, galau tapi galaunya ga penting gini...
Kayak begini nih yg paling ga aku suka kalo udah penasaran ato suka sama sesuatu... Ga penting pun bisa mempengaruhi suasana hati...
Hmmm... postingan ini pun sebenernya ga penting... Yah sudahlah....
Masih nyambung sama postinganku sebelumnya, aku lagi keranjingan nonton The Heirs. Awal mulanya karena suatu sore, aku lagi sakit. Jadi ga bisa pergi2. Karena aku sudah bosen nonton Masha and The Bear di TV, aku ganti channel ke RCTI, nonton The Heirs. Aku nonton tanpa tau jalan ceritanya. Sampai selesai, aku masih biasa aja. Keesokan harinya, aku ga nonton lanjutannya, karena kebetulan lagi ga di rumah. Keesokan lusanya, aku nonton lagi. Dari situ aku mulai terpikat oleh tatapannya Kim Tan. Dan aku juga mulai penasaran dengan jalan ceritanya. Lalu kucarilah sinopsis, lengkap dengan screenshot tiap adegannya. Awalnya aku mencari sinopsis di episode yang kutonton, sekitar episode 8. Dasarnya aku punya jiwa penasaran yang amat sangat pada hal mendetail, ujung-ujungnya kubaca semua sinopsis dari episode 1-20.
Sejak itu, aku mulai keranjingan nonton drama itu di RCTI. Meskipun sudah tahu jalan cerita dan ending-nya, aku merasa belum mantab kalo belum nonton beneran. Mulailah aku mantengin itu stasiun TV. Masih menyisakan beberapa episode yg belum tayang, RCTI bilang kalau akan ada drama korea lain yg akan tayang. Kupikir hari Rabu 10 Desember akan dikebut untuk menamatkan semua tayangan. Tapi ternyata baru sampai episode 18. Berarti The Heirs akan tamat besok Jumat.
Hari ini aku pergi jemput om-ku di Bandara. Jadwalnya sih jam 12.30 udah sampai Jogja. Jadi jam 14.00 aku sudah bisa nongkrong di depan TV. Tapi karena cuaca buruk, pendaratan dialihkan ke bandara lain. Alhasil om baru sampai jogja jam 16.30. Selama menunggu, aku masih bahagia, karena main-main sama keponakanku sambil belanja di carrefour. Saat balik lagi ke bandara, aku tiba-tiba tersentak karena ga nonton The Heirs! Seketika aku jadi galau. Aku jadi kepikiran terus menerus dan bilang sama kakakku kalau aku galau. Kakakku cuma bilang "Lebayyy... Ga nonton belasan episode, biasa aja. Lha kok ini cuma ketinggalan 1 episode langsung galau!"
Ahhhh, kakakku tidak mengerti perasaanku... Kalo ga nonton tuh rasanya ga mantepppp...Uuugghhh... Harusnya kan hari ini episode manis-manisnya.... (biar sekalian lebay-nya)
Ga penting banget kan kegalauan ini....
Arrrggghhh sebel deh rasanya, galau tapi galaunya ga penting gini...
Kayak begini nih yg paling ga aku suka kalo udah penasaran ato suka sama sesuatu... Ga penting pun bisa mempengaruhi suasana hati...
Hmmm... postingan ini pun sebenernya ga penting... Yah sudahlah....
Selasa, 09 Desember 2014
Terjebak Drama Korea
Beberapa hari ini aku sering merasa melow karena drama korea. Yup, aku sedang terjebak (lagi) dalam "lingkaran setan" drama korea. Kali ini aku sedang terjebak cerita dan pesona para pemain drama "The Heirs". Terakhir kali aku berada dalam keadaan seperti ini adalah sekitar tahun 2011. Kalo ga salah drama korea yang menjebakku adalah drama "Secret Garden". Sejak itu, aku tak pernah benar-benar membiarkan diriku larut dalam drama-drama yang seperti candu itu. Mungkin juga karena aku sudah sibuk kerja, jadi tidak punya waktu untuk marathon nonton dvd drama lagi.hehe
Aku tidak menyukai keadaan seperti ini, dimana aku sangat-sangat terbawa cerita dan terpesona tokoh utama suatu drama. Setiap hari aku bisa memikirkan drama itu, dan enggan melakukan apapun, karena sepanjang hari aku akan melow terbawa kisah yang biasanya dramatis, manis, tapi lucu juga. Seketika aku bisa tergila-gila pada tokoh yang karakternya aku suka. Menyadari hal itu membuat pikiranku jadi tidak sehat, aku seringkali mencari-cari foto pemeran yang kugilai itu. Yang kucari bukanlah foto-foto tampan mempesona. Tapi aku mencari foto-foto jeleknya, untuk menyadarkanku bahwa aku suka pada karakter orang itu, bukan pada aktornya. Aku tidak suka kalau merasa tergila-gila pada orang sampai segitunya. Sebelum aku benar-benar ngefans dengan aktor yang bersangkutan, lebih baik aku mencari hal-hal yang bikin aku ilfil.
Saat ini, untuk kesekian kalinya (eh, baru 2 kali ding) aku menyukai Lee Min Ho. Di drama The Heirs, dia memainkan tokoh Kim Tan, yang ceritanya dia ganteng. Dua hari ini aku sedang banyak mencari foto-foto jelek Lee Min Ho, biar aku ilfil padanya, dan tidak jadi tergila-gila pada Kim Tan ini. Jadi Kim Tan ini ceritanya orang ganteng, keren, kaya, kurang kasih sayang, (dulunya) temperamen, tapi kalo udah sayang sama cewek pasti bener2 diperjuangkan dan juga setia. Kalo diingat-ingat semua drama korea yg aku suka, yg paling berkesan adalah karakter-karakter seperti itu. Sebut saja Gu Jun Pyo (Lee Min Ho) di Boys Before Flower. Kim Joo Won (Hyun Bin) di Secret Garden. Han Tae Seok (Won Bin) di Endless Love. Juga ada Baek Seung Jo (Kim Hyun Joong) di Playful kiss. Setidaknya mereka-mereka inilah yang pernah membuatku terpesona oleh karakter yang mereka mainkan.
Sepanjang hari ini aku berfikir, sebenarnya apa yang membuatku bisa sebegini sukanya sama karakter-karakter mereka, lebih rincinya karakter cowok yang terkesan seenaknya sendiri di hadapan orang-orang sekitarnya. Tapi mereka akan berjuang sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan dan membahagiakan wanita yang mereka sukai. Mungkinkah karakter pria seperti inilah yang jadi kriteriaku? hahaha...
Dari karakter-karakter yang kusukai itu, hampir semuanya mengisahkan tentang seorang pria yang ketika berhadapan dengan orang yang mereka sayangi, mereka bisa menjadi diri mereka sendiri dalam segala hal. Mereka menampakkan sisi yang selama ini tidak pernah ditunjukkan di hadapan orang banyak. Ketika berhadapan dengan orang yang disayangi itu, mereka terlihat nyaman dan terlihat bebas karena dia bersikap apa adanya.
Selain itu, yang kusukai dari karakter-karakter yang kusebutkan tadi adalah tatapan mereka. Aktor-aktor yang sebenarnya jauh dari ganteng itu mampu memancarkan kegantengannya melalui akting mereka ketika memandang/menatap orang yang mereka sayangi. Karakter yang kadang terlihat urakan dan sembarangan, tapi mampu memandang seorang wanita dengan penuh sayang dan keseriusan. Asli, tatapan seperti itu benar-benar bikin melting. Tatapan mata seorang pria yang penuh kekaguman, saat dia memandang wanitanya, adalah hal yang paling bisa meluluhkanku. Tatapan tulus yang jauh dari niat menggoda, bisa membuat kakiku lemas seketika.. hehehe...
Balik ke dunia nyata, aku merasa beruntung, aku punya pria yang seperti itu. Pria yang selalu bersikap apa adanya di depanku, meskipun kadang masih suka jaga sikap (karena takut aku marah :p).Pria yang selalu memperjuangkanku sekuat tenaga, walau kadang dia mengabaikan hal-hal penting untuk hal sepele, hanya untukku (masih jadi satu hal yg tidak kusuka, karena dia kurang memikirkan dirinya sendiri). Pria yang bisa menatap tulus pada diriku.
Tujuanku nulis ini adalah untuk mengembalikan pikiranku ke kehidupan nyata. Maklum, saat ini aku masih memiliki banyak waktu kosong untuk memikirkan hal-hal ga penting seperti ini. Menulis apa yang ada di pikiranku seperti ini cukup bisa mengalihkan perhatian dan pikiranku, agar aku tidak terlalu memikirkan Kim Tan lagi. Besok adalah tayangan terakhir The Heirs. Aku sudah tau bagaimana ending ceritanya melalui sinopsis lengkapnya. Semoga besok aku sudah tidak memikirkan drama yang bikin aku termehek-mehek ini. :p
* note: di The Heirs, Choi Young Do (Kim Woo Bin) juga sempet bikin terpesona. Apalagi saat memandangi cewek yang dia suka. Cuma sayangnya dia kasar bgt, jd agak serem deh.
Aku tidak menyukai keadaan seperti ini, dimana aku sangat-sangat terbawa cerita dan terpesona tokoh utama suatu drama. Setiap hari aku bisa memikirkan drama itu, dan enggan melakukan apapun, karena sepanjang hari aku akan melow terbawa kisah yang biasanya dramatis, manis, tapi lucu juga. Seketika aku bisa tergila-gila pada tokoh yang karakternya aku suka. Menyadari hal itu membuat pikiranku jadi tidak sehat, aku seringkali mencari-cari foto pemeran yang kugilai itu. Yang kucari bukanlah foto-foto tampan mempesona. Tapi aku mencari foto-foto jeleknya, untuk menyadarkanku bahwa aku suka pada karakter orang itu, bukan pada aktornya. Aku tidak suka kalau merasa tergila-gila pada orang sampai segitunya. Sebelum aku benar-benar ngefans dengan aktor yang bersangkutan, lebih baik aku mencari hal-hal yang bikin aku ilfil.
Saat ini, untuk kesekian kalinya (eh, baru 2 kali ding) aku menyukai Lee Min Ho. Di drama The Heirs, dia memainkan tokoh Kim Tan, yang ceritanya dia ganteng. Dua hari ini aku sedang banyak mencari foto-foto jelek Lee Min Ho, biar aku ilfil padanya, dan tidak jadi tergila-gila pada Kim Tan ini. Jadi Kim Tan ini ceritanya orang ganteng, keren, kaya, kurang kasih sayang, (dulunya) temperamen, tapi kalo udah sayang sama cewek pasti bener2 diperjuangkan dan juga setia. Kalo diingat-ingat semua drama korea yg aku suka, yg paling berkesan adalah karakter-karakter seperti itu. Sebut saja Gu Jun Pyo (Lee Min Ho) di Boys Before Flower. Kim Joo Won (Hyun Bin) di Secret Garden. Han Tae Seok (Won Bin) di Endless Love. Juga ada Baek Seung Jo (Kim Hyun Joong) di Playful kiss. Setidaknya mereka-mereka inilah yang pernah membuatku terpesona oleh karakter yang mereka mainkan.
Sepanjang hari ini aku berfikir, sebenarnya apa yang membuatku bisa sebegini sukanya sama karakter-karakter mereka, lebih rincinya karakter cowok yang terkesan seenaknya sendiri di hadapan orang-orang sekitarnya. Tapi mereka akan berjuang sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan dan membahagiakan wanita yang mereka sukai. Mungkinkah karakter pria seperti inilah yang jadi kriteriaku? hahaha...
Dari karakter-karakter yang kusukai itu, hampir semuanya mengisahkan tentang seorang pria yang ketika berhadapan dengan orang yang mereka sayangi, mereka bisa menjadi diri mereka sendiri dalam segala hal. Mereka menampakkan sisi yang selama ini tidak pernah ditunjukkan di hadapan orang banyak. Ketika berhadapan dengan orang yang disayangi itu, mereka terlihat nyaman dan terlihat bebas karena dia bersikap apa adanya.
Selain itu, yang kusukai dari karakter-karakter yang kusebutkan tadi adalah tatapan mereka. Aktor-aktor yang sebenarnya jauh dari ganteng itu mampu memancarkan kegantengannya melalui akting mereka ketika memandang/menatap orang yang mereka sayangi. Karakter yang kadang terlihat urakan dan sembarangan, tapi mampu memandang seorang wanita dengan penuh sayang dan keseriusan. Asli, tatapan seperti itu benar-benar bikin melting. Tatapan mata seorang pria yang penuh kekaguman, saat dia memandang wanitanya, adalah hal yang paling bisa meluluhkanku. Tatapan tulus yang jauh dari niat menggoda, bisa membuat kakiku lemas seketika.. hehehe...
Balik ke dunia nyata, aku merasa beruntung, aku punya pria yang seperti itu. Pria yang selalu bersikap apa adanya di depanku, meskipun kadang masih suka jaga sikap (karena takut aku marah :p).Pria yang selalu memperjuangkanku sekuat tenaga, walau kadang dia mengabaikan hal-hal penting untuk hal sepele, hanya untukku (masih jadi satu hal yg tidak kusuka, karena dia kurang memikirkan dirinya sendiri). Pria yang bisa menatap tulus pada diriku.
Tujuanku nulis ini adalah untuk mengembalikan pikiranku ke kehidupan nyata. Maklum, saat ini aku masih memiliki banyak waktu kosong untuk memikirkan hal-hal ga penting seperti ini. Menulis apa yang ada di pikiranku seperti ini cukup bisa mengalihkan perhatian dan pikiranku, agar aku tidak terlalu memikirkan Kim Tan lagi. Besok adalah tayangan terakhir The Heirs. Aku sudah tau bagaimana ending ceritanya melalui sinopsis lengkapnya. Semoga besok aku sudah tidak memikirkan drama yang bikin aku termehek-mehek ini. :p
* note: di The Heirs, Choi Young Do (Kim Woo Bin) juga sempet bikin terpesona. Apalagi saat memandangi cewek yang dia suka. Cuma sayangnya dia kasar bgt, jd agak serem deh.
Selasa, 25 November 2014
Janji Sasi Mei
Janji, janji sasi Mei
Kliwat enem sasi
Nanging ya ora dadi
Janji, janji wis rolas sasi
Nganti wis arep Mei
Nanging anane ya mung janji
Janji, janji ora bakal nguciwani
Uwis bola bali
Nanging ora ana bukti
Janji, mbok ya ora usah janji
Yen ora isa nglakoni...
Kliwat enem sasi
Nanging ya ora dadi
Janji, janji wis rolas sasi
Nganti wis arep Mei
Nanging anane ya mung janji
Janji, janji ora bakal nguciwani
Uwis bola bali
Nanging ora ana bukti
Janji, mbok ya ora usah janji
Yen ora isa nglakoni...
Jumat, 14 November 2014
Mirror
Jika lagu hanyalah sebuah lagu, mungkin hari ini aku tidak akan menjadi galau. Cuaca juga sangat mendukung suasana untuk menjadi tambah galau. Rasa galau yang sedang kualami ini bukan karena aku merasa bimbang, resah, atau patah hati. Bisa dibilang aku baik-baik saja, sampai aku mendengarkan sebuah lagu.
Lagu memang bukanlah sekedar musik yang digabung dengan lirik. Bagiku lagu adalah suatu karya yang memiliki daya "magis", yang mampu membawa kembali segala macam kenangan, semangat, kebahagiaan, bahkan perasaan sakit hati yang pernah dirasakan.
Hari ini, aku mendengarkan sebuah lagu, yang hampir sepanjang tahun lalu selalu menjadi temanku tiap malam. Lagu yang selalu kuputar di hari-hari beratku, saat aku berusaha mengatasi dan mengusir segala perasaan kacau yang selalu kusembunyikan. Semua perasaan yang kusimpan dalam kesendirian
Semua yang pernah kurasakan itu kini seakan muncul kembali bersama setiap alunan musik dan liriknya. Perasaan sedih dan sakit yang pernah kurasakan seolah-olah masih ada. Hati dan pikiranku ikut bergejolak bersama kegalauan ini.
Tapi, tak ada sedikitpun niatku untuk menghentikan lagu ini. Aku menikmati kenangan ini, rasa sakit ini. Aku ingin hati dan pikiranku menjadi kebal dan bisa menerimanya. Bukan menolak kenangan, tapi menerimanya sebagai pembelajaran.
Lagu memang bukanlah sekedar musik yang digabung dengan lirik. Bagiku lagu adalah suatu karya yang memiliki daya "magis", yang mampu membawa kembali segala macam kenangan, semangat, kebahagiaan, bahkan perasaan sakit hati yang pernah dirasakan.
Hari ini, aku mendengarkan sebuah lagu, yang hampir sepanjang tahun lalu selalu menjadi temanku tiap malam. Lagu yang selalu kuputar di hari-hari beratku, saat aku berusaha mengatasi dan mengusir segala perasaan kacau yang selalu kusembunyikan. Semua perasaan yang kusimpan dalam kesendirian
Semua yang pernah kurasakan itu kini seakan muncul kembali bersama setiap alunan musik dan liriknya. Perasaan sedih dan sakit yang pernah kurasakan seolah-olah masih ada. Hati dan pikiranku ikut bergejolak bersama kegalauan ini.
Tapi, tak ada sedikitpun niatku untuk menghentikan lagu ini. Aku menikmati kenangan ini, rasa sakit ini. Aku ingin hati dan pikiranku menjadi kebal dan bisa menerimanya. Bukan menolak kenangan, tapi menerimanya sebagai pembelajaran.
"Mirror on the wall, here we are again. Through my rise and fall, you've been my only friend. You told me that they can understand the man I am. So why are we talking to each other again..."
Mirror - Lil' Wayne ft Bruno Mars
Rabu, 12 November 2014
Kota Itu
Kota itu pernah menjadi bagian dari hidupku
Kota itu memberiku banyak kenangan
Dari kenangan yang mengharu biru
Hingga kenangan yang membawa kebahagiaan
Kota itu mengajarkanku tentang kesabaran
Kota itu mengajarkanku tentang kepercayaan
Kota itu juga meresahkanku dengan kebisingan
Kota itu selalu membuatku lelah dalam pikiran
Tapi semua itu tersusun rapi menjadi sebuah kenangan
Aku meninggalkan kota itu
Bukan berarti aku tak ingin lagi bersekutu
Aku hanya tak ingin lagi dihantui rasa sendu
Seperti ketika hati dan pikiranku diserang rindu
Rindu tentang kenyamanan rumahku
Rindu akan kehidupan yang selalu jadi impianku
Aku pergi, namun aku tak pernah membenci
Rindu selalu ada kemanapun aku pergi
Rindu pada segala tempat yang melekat dalam memori
Aku ingin kembali ke sana untuk sekedar meredam rindu ini
Kini aku berada di rumah yang dulu selalu kurindu
Kini hari-hariku tak pernah diliputi rasa sendu
Tapi kini ada seonggok rindu lain yang mulai mengusik
Rindu akan jalanan yang tak pernah tak berisik
Rindu teman seperjuangan yang pernah membuat hidupku asik
Rindu bernostalgia di tempat kupernah tertawa dan bergidik
Kota itu, bukanlah tempat kejam seperti yang orang bilang
Kota itu, meskipun kutinggalkan tapi tetap kusayang
Kota itu, adalah saksi hidupku hingga menjadi seperti sekarang
Kota itu, layak pula untuk kusebut tempat tujuan pulang
Salam rinduku untuk kota itu
Yogyakarta, 12 November 2014
Kota itu memberiku banyak kenangan
Dari kenangan yang mengharu biru
Hingga kenangan yang membawa kebahagiaan
Kota itu mengajarkanku tentang kesabaran
Kota itu mengajarkanku tentang kepercayaan
Kota itu juga meresahkanku dengan kebisingan
Kota itu selalu membuatku lelah dalam pikiran
Tapi semua itu tersusun rapi menjadi sebuah kenangan
Aku meninggalkan kota itu
Bukan berarti aku tak ingin lagi bersekutu
Aku hanya tak ingin lagi dihantui rasa sendu
Seperti ketika hati dan pikiranku diserang rindu
Rindu tentang kenyamanan rumahku
Rindu akan kehidupan yang selalu jadi impianku
Aku pergi, namun aku tak pernah membenci
Rindu selalu ada kemanapun aku pergi
Rindu pada segala tempat yang melekat dalam memori
Aku ingin kembali ke sana untuk sekedar meredam rindu ini
Kini aku berada di rumah yang dulu selalu kurindu
Kini hari-hariku tak pernah diliputi rasa sendu
Tapi kini ada seonggok rindu lain yang mulai mengusik
Rindu akan jalanan yang tak pernah tak berisik
Rindu teman seperjuangan yang pernah membuat hidupku asik
Rindu bernostalgia di tempat kupernah tertawa dan bergidik
Kota itu, bukanlah tempat kejam seperti yang orang bilang
Kota itu, meskipun kutinggalkan tapi tetap kusayang
Kota itu, adalah saksi hidupku hingga menjadi seperti sekarang
Kota itu, layak pula untuk kusebut tempat tujuan pulang
Salam rinduku untuk kota itu
Yogyakarta, 12 November 2014
Sabtu, 13 September 2014
Tentang PMS
Beberapa waktu lalu, aku membaca suatu thread yang isinya menyatakan bahwa; “sikap seorang wanita saat PMS mencerminkan kepribadian wanita itu”. Saat itu juga aku menyatakan tidak setuju. Ketidaksetujuanku bukan karena aku seorang wanita, tetapi karena merasa pernyataan itu terlalu kejam. Kenapa kejam? Karena sebagian besar wanita yang mengalami PMS, biasanya berubah jadi garang, ganas, galak, dan kawan2nya lah (contohnya si penulis ini :p). 1000:1 orang yang lagi PMS bisa bersikap baik dan lembut. Kalau benar kepribadian wanita tercermin dari sikapnya saat PMS, berarti wanita baik dan lemah lembut di dunia ini sangat sedikit? wah..wah..wah... Sebagai wanita baik dan lemah lembut, aku ga terima dengan pernyataan itu!!! *sambil gebrak meja* #eh
PMS yang kepanjangannya Pre Menstrual Syndrome, adalah ... (emhhh, untuk lebih jelasnya silahkan buka2 gudang wiki aja ya. ato tanya mbah gugel juga boleh. lagi rada males nulis yg ilmiah2 gitu.) intinya adalah saat dimana hormon wanita menjadi kacau balau ketika menjelang/saat/setelah menstruasi. Syndome ini merupakan momok yang mengerikan bagi orang yang berada di dekat wanita yang sedang mengalami PMS, karena emosi wanita itu menjadi labil dan rapuh serapuh snack nori. Tidak ada yang bisa memprediksi apa yg membuat emosi dan kapan emosi tersebut akan meledak. Dari senyum bahagia bisa saja tiba-tiba menjadi ledakan amarah hanya dalam hitungan menit. Kurang lebih begitulah PMS.
Aku yang juga termasuk kategori wanita, yang pastinya juga pernah mengalami syndrome itu pun selalu merasa bahwa PMS merupakan suatu momok yang mengerikan. Jujur, saat mengalami PMS, aku merasa tidak mampu mengendalikan emosi dan mood-ku. Bagiku, ketidakmampuan ini menjadi siksaan tersendiri. Aku menjadi super sensitif, mudah marah dan sulit berpikir dengan jernih. Aku selalu merasa hanya punya 2 pilihan. Yang pertama membiarkan emosi itu keluar dan meledak, tapi bisa menyakiti orang lain. Atau yang kedua, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa emosi itu adalah efek PMS dan berjuang keras untuk meredamnya. Tapi efeknya emosiku akan meledak kedalam dan aku akan menangis sepanjang waktu tanpa sebab yang jelas. Setidaknya sejauh ini hanya ada pilihan itu yang bisa kulakukan saat PMS.
Dengan apa yang aku alami dan aku rasakan tentang PMS, aku merasa sangat tidak adil jika kepribadian seorang wanita dinilai dari sikapnya saat PMS. Bagiku, saat PMS adalah saat yang paling sulit untuk berpikir jernih. Segala emosi dan pikiran dikacaukan oleh hormon yang konon katanya lagi ga stabil. Ditambah lagi hampir seluruh badan terasa sakit/ngilu/pegel menjelang/saat hari-hari berdarah. Di saat seperti itu sangat sulit untuk bersikap manis. Daripada sikap saat PMS dinilai sebagai kepribadian, akan lebih tepat kalau dibilang, “kalau ingin melihat sikap terburuk wanita, lihatlah sikapnya saat PMS.” Bagiku, ini lebih fair.
Ada berbagai macam artikel, yang mengungkapkan bahwa PMS yang berupa emosi meledak-ledak sebenarnya bisa dihindari. Salah satunya dengan menciptakan suasana nyaman bagi wanita tsb. Aku tidak membantah, karena aku juga pernah merasakan bisa melalui PMS dengan tenang, bahagia, damai sejahtera. Tapi saat-saat itu adalah saat yang langka dan jarang terjadi. Karena untuk mewujudkan saat-saat seperti itu memerlukan kondisi, situasi dan toleransi yang terkombinasi dengan sempurna. Sayangnya ya itu, jarang banget bisa terjadi kayak gitu.
Mengakui sedang mengalami PMS adalah hal yang tidak mudah. Ego yang mendadak jadi tinggi, membuat gengsi untuk mengakui kalau sedang PMS. Karena biasanya orang PMS itu maunya menang sendiri dan merasa dirinya paling benar. Kalau disalahkan, pasti emosinya meledak. Apalagi kalau dibilangin "kamu tu lg PMS..." wah, bisa makin meledak-ledak rasanya. Aku pribadi mengakui, di saat seperti itu aku memang harus dimengerti. Dalam artian, jangan terlalu memikirkan apa yang kukatakan, jangan sakit hati atas kata-kata penuh amarah, pokoknya tiap omongan diiya-iyain aja lah. Udah diiya-iyain pun kadang masih saja tetep emosi. Apalagi kalau pake dibantah. Bisa perang dunia deh.hehehe... Jadi intinya tiap kata2 dan sikap tak mengenakkan lebih baik dimengerti saja dan jangan dimasukkan ke dalam hati. Saat hari-hari sudah normal, biasanya aku malu sendiri atas sikap-sikap konyolku. Tapi beruntung aku punya pacar yang bisa mengerti keadaanku, terutama di saat seperti itu. Jadi semua menjadi terasa lebih ringan.
Bagi sebagian orang, membicarakan tentang siklus bulanan pada laki-laki adalah hal yang tabu. Tapi bagiku tidak sama sekali. Bahkan aku merasa harus membicarakan hal itu dengan pacarku. Aku selalu katakan apa yang kurasakan di badanku dan perasaanku di saat seperti itu. Tidak perlu malu untuk membicarakannya. Bukan karena masalah tabu atau tidak, tapi karena hal itu sangat berkaitan dengan emosi, yang akan berujung pada perasaan. Dengan pengetahuan yang baik tentang keadaan wanita, lelaki akan menjadi lebih mudah dalam memahaminya. Dalam hal PMS, kalau pacar kita mengetahui siklus bulanan kita, mereka akan bisa memperkirakan kapan syndrome itu akan melanda. Jadi mereka juga bisa siap-siap untuk mengerti jika sewaktu-waktu emosi kita akan meledak. Syukur2 bisa membantu kita menangkal hal-hal buruk.hehe... Dan aku bersyukur pacarku selalu concern dengan hal seperti ini.
---
PMS tidak selalu akan dilalui dengan penuh emosi dan amarah. Aku pernah beberapa kali merasa sangat bahagia dalam saat-saat itu. Sangat-sangat bahagia sampai ke ubun-ubun. Jadi memang, PMS merupakan efek dari ketidakseimbangan hormon,entah apa yang mempengaruhinya. Tak selamanya PMS itu buruk.
PMS yang kepanjangannya Pre Menstrual Syndrome, adalah ... (emhhh, untuk lebih jelasnya silahkan buka2 gudang wiki aja ya. ato tanya mbah gugel juga boleh. lagi rada males nulis yg ilmiah2 gitu.) intinya adalah saat dimana hormon wanita menjadi kacau balau ketika menjelang/saat/setelah menstruasi. Syndome ini merupakan momok yang mengerikan bagi orang yang berada di dekat wanita yang sedang mengalami PMS, karena emosi wanita itu menjadi labil dan rapuh serapuh snack nori. Tidak ada yang bisa memprediksi apa yg membuat emosi dan kapan emosi tersebut akan meledak. Dari senyum bahagia bisa saja tiba-tiba menjadi ledakan amarah hanya dalam hitungan menit. Kurang lebih begitulah PMS.
Aku yang juga termasuk kategori wanita, yang pastinya juga pernah mengalami syndrome itu pun selalu merasa bahwa PMS merupakan suatu momok yang mengerikan. Jujur, saat mengalami PMS, aku merasa tidak mampu mengendalikan emosi dan mood-ku. Bagiku, ketidakmampuan ini menjadi siksaan tersendiri. Aku menjadi super sensitif, mudah marah dan sulit berpikir dengan jernih. Aku selalu merasa hanya punya 2 pilihan. Yang pertama membiarkan emosi itu keluar dan meledak, tapi bisa menyakiti orang lain. Atau yang kedua, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa emosi itu adalah efek PMS dan berjuang keras untuk meredamnya. Tapi efeknya emosiku akan meledak kedalam dan aku akan menangis sepanjang waktu tanpa sebab yang jelas. Setidaknya sejauh ini hanya ada pilihan itu yang bisa kulakukan saat PMS.
Dengan apa yang aku alami dan aku rasakan tentang PMS, aku merasa sangat tidak adil jika kepribadian seorang wanita dinilai dari sikapnya saat PMS. Bagiku, saat PMS adalah saat yang paling sulit untuk berpikir jernih. Segala emosi dan pikiran dikacaukan oleh hormon yang konon katanya lagi ga stabil. Ditambah lagi hampir seluruh badan terasa sakit/ngilu/pegel menjelang/saat hari-hari berdarah. Di saat seperti itu sangat sulit untuk bersikap manis. Daripada sikap saat PMS dinilai sebagai kepribadian, akan lebih tepat kalau dibilang, “kalau ingin melihat sikap terburuk wanita, lihatlah sikapnya saat PMS.” Bagiku, ini lebih fair.
Ada berbagai macam artikel, yang mengungkapkan bahwa PMS yang berupa emosi meledak-ledak sebenarnya bisa dihindari. Salah satunya dengan menciptakan suasana nyaman bagi wanita tsb. Aku tidak membantah, karena aku juga pernah merasakan bisa melalui PMS dengan tenang, bahagia, damai sejahtera. Tapi saat-saat itu adalah saat yang langka dan jarang terjadi. Karena untuk mewujudkan saat-saat seperti itu memerlukan kondisi, situasi dan toleransi yang terkombinasi dengan sempurna. Sayangnya ya itu, jarang banget bisa terjadi kayak gitu.
Mengakui sedang mengalami PMS adalah hal yang tidak mudah. Ego yang mendadak jadi tinggi, membuat gengsi untuk mengakui kalau sedang PMS. Karena biasanya orang PMS itu maunya menang sendiri dan merasa dirinya paling benar. Kalau disalahkan, pasti emosinya meledak. Apalagi kalau dibilangin "kamu tu lg PMS..." wah, bisa makin meledak-ledak rasanya. Aku pribadi mengakui, di saat seperti itu aku memang harus dimengerti. Dalam artian, jangan terlalu memikirkan apa yang kukatakan, jangan sakit hati atas kata-kata penuh amarah, pokoknya tiap omongan diiya-iyain aja lah. Udah diiya-iyain pun kadang masih saja tetep emosi. Apalagi kalau pake dibantah. Bisa perang dunia deh.hehehe... Jadi intinya tiap kata2 dan sikap tak mengenakkan lebih baik dimengerti saja dan jangan dimasukkan ke dalam hati. Saat hari-hari sudah normal, biasanya aku malu sendiri atas sikap-sikap konyolku. Tapi beruntung aku punya pacar yang bisa mengerti keadaanku, terutama di saat seperti itu. Jadi semua menjadi terasa lebih ringan.
Bagi sebagian orang, membicarakan tentang siklus bulanan pada laki-laki adalah hal yang tabu. Tapi bagiku tidak sama sekali. Bahkan aku merasa harus membicarakan hal itu dengan pacarku. Aku selalu katakan apa yang kurasakan di badanku dan perasaanku di saat seperti itu. Tidak perlu malu untuk membicarakannya. Bukan karena masalah tabu atau tidak, tapi karena hal itu sangat berkaitan dengan emosi, yang akan berujung pada perasaan. Dengan pengetahuan yang baik tentang keadaan wanita, lelaki akan menjadi lebih mudah dalam memahaminya. Dalam hal PMS, kalau pacar kita mengetahui siklus bulanan kita, mereka akan bisa memperkirakan kapan syndrome itu akan melanda. Jadi mereka juga bisa siap-siap untuk mengerti jika sewaktu-waktu emosi kita akan meledak. Syukur2 bisa membantu kita menangkal hal-hal buruk.hehe... Dan aku bersyukur pacarku selalu concern dengan hal seperti ini.
---
PMS tidak selalu akan dilalui dengan penuh emosi dan amarah. Aku pernah beberapa kali merasa sangat bahagia dalam saat-saat itu. Sangat-sangat bahagia sampai ke ubun-ubun. Jadi memang, PMS merupakan efek dari ketidakseimbangan hormon,entah apa yang mempengaruhinya. Tak selamanya PMS itu buruk.
Langganan:
Postingan (Atom)