Hold me close and hold me fast
The magic spell you cast
This is la vie en rose
When you kiss me heaven sighs
And though I close my eyes
I see la vie en rose
When you press me to your heart
I'm in a world apart
A world where roses bloom
And when you speak
Angels sing from above
Everyday words seems
To turn into love song
Give your heart and soul to me
And life will always be la vie en rose
...
I miss you...
This is my page. My space. I share what's in my head. Sometime it's inspiring thing. Sometime it's just vent of my mind. What's in this page is just a little piece(s) of my life. You can judge what I write. But not my life ;) - I write what I want to write. Because this is my space
Selasa, 15 September 2015
Selasa, 08 September 2015
tulisan ini ada karena yg nulis lagi ga bisa tidur
malam ini lagi agak melow -pms strike maybe-. mumpung laptop udah sembuh, yuk mari ngeblog tengah malam lagi.. jadi berasa kayak jaman kuliah dulu, jam segini masih melek aja cuma buat tak tik tuk nulis-nulis ga jelas... :D
langsung aja deh, here we go, niken yg lg galooo
mencukupkan diri memang bukanlah hal yang mudah. keinginan selalu muncul setiap saat, meskipun apa yang kita butuhkan sudahlah kita miliki. ingin lebih dan lebih, tanpa sadar bahwa apa yang telah kita punyai sudahlah lebih dari apa yang diinginkan. kadang, rasa ingin yang berlebihan membuat kita lupa bahwa apa yang kita miliki sebenarnya sudah lebih dari cukup. lebih dari apa yang pernah kita minta.
lagi, aku merefleksikannya dalam wujud keseimbangan. saat ini aku membayangkan, hidup itu seperti sedang berjalan di atas sebatang kayu, sambil membawa galah sebagai penyeimbang. galah itu harus diletakkan dalam posisi sama panjang di kanan dan kiri, agar kita dapat berjalan dengan seimbang. jika terlalu panjang ke kanan, maka kita akan berjalan oleng. jika kita selalu mendapat yang baik-baik, dan meminta yang lebih baik lagi, maka langkah kita akan oleng. jika kita mendapat hal buruk, seharusnya kita bersyukur karena hal itu akan menjadi penyeimbang jalan kita.
aku lupa, bahwa aku telah mendapat hal yang sangat indah. lebih dari yang pernah kuharapkan. mengharapkan lebih dari apa yang telah kumiliki, rasa-rasanya kok aku ini serakah sekali. jika aku meminta lebih, maka apa yang kumiliki akan semakin mendekati sempurna. bukan kesempurnaan itu yang kucari. rasa syukur karena aku telah mendapat cukup banyak, itu yang perlu kulakukan. seperti yang sudah-sudah, aku bersyukur atas segala yang kumiliki dan kurasakan. aku bersyukur atas hidup ini.
wis ah.. sudah cukup melownya.. sudah cukup over thinkingnya... terima saja apa yang ada... penerimaan yang seutuhnya... teorinya sih gampang ya... prakteknya yang suliitttt... tapi, tanpa dicoba, selamanya kesulitan itu akan selalu menjadi kesulitan.... mari kita bersyukur :)
langsung aja deh, here we go, niken yg lg galooo
mencukupkan diri memang bukanlah hal yang mudah. keinginan selalu muncul setiap saat, meskipun apa yang kita butuhkan sudahlah kita miliki. ingin lebih dan lebih, tanpa sadar bahwa apa yang telah kita punyai sudahlah lebih dari apa yang diinginkan. kadang, rasa ingin yang berlebihan membuat kita lupa bahwa apa yang kita miliki sebenarnya sudah lebih dari cukup. lebih dari apa yang pernah kita minta.
lagi, aku merefleksikannya dalam wujud keseimbangan. saat ini aku membayangkan, hidup itu seperti sedang berjalan di atas sebatang kayu, sambil membawa galah sebagai penyeimbang. galah itu harus diletakkan dalam posisi sama panjang di kanan dan kiri, agar kita dapat berjalan dengan seimbang. jika terlalu panjang ke kanan, maka kita akan berjalan oleng. jika kita selalu mendapat yang baik-baik, dan meminta yang lebih baik lagi, maka langkah kita akan oleng. jika kita mendapat hal buruk, seharusnya kita bersyukur karena hal itu akan menjadi penyeimbang jalan kita.
aku lupa, bahwa aku telah mendapat hal yang sangat indah. lebih dari yang pernah kuharapkan. mengharapkan lebih dari apa yang telah kumiliki, rasa-rasanya kok aku ini serakah sekali. jika aku meminta lebih, maka apa yang kumiliki akan semakin mendekati sempurna. bukan kesempurnaan itu yang kucari. rasa syukur karena aku telah mendapat cukup banyak, itu yang perlu kulakukan. seperti yang sudah-sudah, aku bersyukur atas segala yang kumiliki dan kurasakan. aku bersyukur atas hidup ini.
wis ah.. sudah cukup melownya.. sudah cukup over thinkingnya... terima saja apa yang ada... penerimaan yang seutuhnya... teorinya sih gampang ya... prakteknya yang suliitttt... tapi, tanpa dicoba, selamanya kesulitan itu akan selalu menjadi kesulitan.... mari kita bersyukur :)
Jumat, 14 Agustus 2015
Karma - Tabur Tuai
Karma itu nyata. Aku percaya itu. Dalam kitab suci pun telah disebutkan bahwa kita akan menuai apa yang telah kita tabur.
Apa yang kita alami atau apa yang kita peroleh saat ini adalah hasil dari apa yang telah kita lakukan atau perbuat di masa lalu. Jika kita mengalami hal buruk, dulu pasti kita pernah melakukan hal buruk. Begitu juga jika kita mendapat hal baik, maka itu adalah buah dari hal baik yang pernah kita lakukan sebelumnya.
Apa yang kita alami saat ini sekaligus menjadi penentu apa yang akan kita peroleh kelak. Saat ini, bisa jadi kita sedang menuai, sekaligus menabur. Apa yang kita lakukan akan kita rasakan sendiri di kemudian hari.
Aku sangat meyakini hukum alam ini. Hal-hal baik yang terjadi padaku, semuanya kusyukuri. Begitupun hal buruk yang kualami, yang juga merupakan "buah" yang sedang kupetik saat ini.
Penerimaan atas hal buruk yang terjadi padaku, membuatku lebih ringan dalam menjalani hidupku. Itu konsekuensi yang harus aku terima. Jika aku mengeluh, pasti beban yang ada padaku akan terasa jauh lebih berat.
Pada hal baik yang terjadi padaku, hanya satu yang bisa kulakukan, yaitu bersyukur.
Aku sangat yakin bahwa dunia ini adil. Lebih tepatnya, Tuhan itu maha adil. Apapun yang terjadi pada kita merupakan konsekuensi dari tindakan dan keputusan kita di masa lalu. Baik atau buruk, kita harus menerima.
Aku selalu siap menuai apa yang telah kutabur. Aku menyadari segala konsekuensi dari segala keputusan dan tindakanku. Dan aku tidak akan menyesali apapun yang terjadi padaku. Aku selalu mencoba bersyukur atas segala hal yang kudapat, baik atau buruk.
Tentang penyesalan, aku mencoba untuk tak pernah menyesali apapun yang terjadi padaku. Menyesal tidak akan mengubah keadaan. Tapi jika berbicara tentang penyesalan, penyesalan terbesar yang mungkin dialami oleh manusia adalah menyesal karena tidak melakukan sesuatu yang diyakini.
Tentang keyakinan, aku tidak mudah percaya kata-kata orang lain. Aku lebih percaya dengan kata hatiku sendiri. Tak jarang, aku membuat keputusan atas keyakinanku sendiri. Apapun yang dikatakan orang lain, aku lebih percaya pada apa yang kuyakini. Hal yang paling kuhindari di dunia ini adalah membuat keputusan karena percaya dengan kata-kata orang lain, dan mengesampingkan kata hatiku sendiri. Aku menghindari penyesalan yang mungkin akan ditimbulkan. Aku tidak ingin kelak menyalahkan orang lain atas keputusan yang sudah kuambil. Jika aku memutuskan suatu hal karena keyakinanku, maka apapun yang akan kuperoleh suatu saat nanti, adalah bagian dari konsekuensi yang harus kuterima.
Itulah hidup, menuai apa yang telah kita tabur. Setidaknya, itulah inti dari hidup yang selama ini kuyakini.
Apa yang kita alami atau apa yang kita peroleh saat ini adalah hasil dari apa yang telah kita lakukan atau perbuat di masa lalu. Jika kita mengalami hal buruk, dulu pasti kita pernah melakukan hal buruk. Begitu juga jika kita mendapat hal baik, maka itu adalah buah dari hal baik yang pernah kita lakukan sebelumnya.
Apa yang kita alami saat ini sekaligus menjadi penentu apa yang akan kita peroleh kelak. Saat ini, bisa jadi kita sedang menuai, sekaligus menabur. Apa yang kita lakukan akan kita rasakan sendiri di kemudian hari.
Aku sangat meyakini hukum alam ini. Hal-hal baik yang terjadi padaku, semuanya kusyukuri. Begitupun hal buruk yang kualami, yang juga merupakan "buah" yang sedang kupetik saat ini.
Penerimaan atas hal buruk yang terjadi padaku, membuatku lebih ringan dalam menjalani hidupku. Itu konsekuensi yang harus aku terima. Jika aku mengeluh, pasti beban yang ada padaku akan terasa jauh lebih berat.
Pada hal baik yang terjadi padaku, hanya satu yang bisa kulakukan, yaitu bersyukur.
Aku sangat yakin bahwa dunia ini adil. Lebih tepatnya, Tuhan itu maha adil. Apapun yang terjadi pada kita merupakan konsekuensi dari tindakan dan keputusan kita di masa lalu. Baik atau buruk, kita harus menerima.
Aku selalu siap menuai apa yang telah kutabur. Aku menyadari segala konsekuensi dari segala keputusan dan tindakanku. Dan aku tidak akan menyesali apapun yang terjadi padaku. Aku selalu mencoba bersyukur atas segala hal yang kudapat, baik atau buruk.
Tentang penyesalan, aku mencoba untuk tak pernah menyesali apapun yang terjadi padaku. Menyesal tidak akan mengubah keadaan. Tapi jika berbicara tentang penyesalan, penyesalan terbesar yang mungkin dialami oleh manusia adalah menyesal karena tidak melakukan sesuatu yang diyakini.
Tentang keyakinan, aku tidak mudah percaya kata-kata orang lain. Aku lebih percaya dengan kata hatiku sendiri. Tak jarang, aku membuat keputusan atas keyakinanku sendiri. Apapun yang dikatakan orang lain, aku lebih percaya pada apa yang kuyakini. Hal yang paling kuhindari di dunia ini adalah membuat keputusan karena percaya dengan kata-kata orang lain, dan mengesampingkan kata hatiku sendiri. Aku menghindari penyesalan yang mungkin akan ditimbulkan. Aku tidak ingin kelak menyalahkan orang lain atas keputusan yang sudah kuambil. Jika aku memutuskan suatu hal karena keyakinanku, maka apapun yang akan kuperoleh suatu saat nanti, adalah bagian dari konsekuensi yang harus kuterima.
Itulah hidup, menuai apa yang telah kita tabur. Setidaknya, itulah inti dari hidup yang selama ini kuyakini.
Kamis, 13 Agustus 2015
Lupa dan Melupakan
Setiap orang pasti pernah lupa akan suatu hal. Entah itu hal kecil atau besar, sering atau jarang, disengaja atau tidak sengaja. Lupa adalah suatu hal yang kadang menjengkelkan, baik bagi orang yang lupa maupun bagi orang lain yang terkena imbasnya. Aku adalah salah satu dari milyaran manusia di bumi ini, yang termasuk dalam kategori pelupa. Biasanya aku gampang lupa akan hal-hal kecil. Kadang suka sewot atau jengkel sendiri kalo udah kelupaan sesuatu. Salah satu cara untuk menghilangkan kejengkelan itu, biasanya aku meyakinkan diri sendiri "ah, nanti juga inget sendiri" :D
Memang, mudah lupa adalah hal jelek dan sering bikin jengkel. Tapi bagiku, mudah lupa bisa menjadi anugerah. Misalnya saja, mudah melupakan hal-hal buruk. Aku bersyukur aku termasuk jadi orang yang mudah melupakan hal buruk. Saat aku mendapat ucapan atau perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain, memang, aku merasa sakit. Seperti belakangan ini, aku merasa sakit dengan beberapa ucapan dari orang yang kuharapkan tidak berkata2 seperti itu. Aku bisa dengan mudah melupakan kata-kata itu. Dan juga sudah melupakan rasa sakit yang ditimbulkannya. Tiap hari, setiap kali aku bangun tidur, aku selalu bersyukur karena bisa lupa akan hal-hal buruk yang kualami.
Aku selalu belajar untuk hidup di saat ini (present). Melupakan yang sudah berlalu (past), adalah salah satu cara agar kita bisa fokus pada hidup kita saat ini (present). Tenaga dan pikiran kita tidak akan habis sia-sia untuk memikirkan hal-hal yang sudah berlalu. Boleh lah, mengingat yang sudah berlalu, tapi hanya sebatas mengenang saja. Yang bagus-bagus tetap dalam ingatan, yang jelek-jelek dilupakan saja. Maka, aku bersyukur ketika aku bisa mudah lupa akan hal-hal buruk di masa lalu.
Melupakan hal-hal buruk menjadi hal yang penting saat kita memberi maaf. Bagiku, memaafkan tidak akan ada artinya jika tidak melupakan hal buruk itu. Memaafkan itu sepaket dengan melupakan. Kalau kita bilang, kita sudah memaafkan, tapi di lain hari kita mengungkit-ungkit lagi hal itu, berarti kita belum memaafkan. Samaajaboong kan kalo katanya udah memaafkan, tapi di lain waktu kita marah lagi karena belum lupa akan hal buruk yang diperbuat orang lain? Trus orang itu suruh minta maaf lagi gitu? Gitu aja terus sampe capek ati sendiri. Sekali lagi, lupa adalah anugerah.
Buatku, hidup itu terlalu singkat jika dihabiskan untuk mengungkit-ungkit hal buruk yang telah terjadi. Yang lalu biarkan berlalu. Jika kita terjebak dalam ingatan masa lalu, hidup kita tidak akan pernah maju. Kita akan terjebak dalam ingatan buruk yang menghambat kita untuk menjadi lebih baik. Tuhan membuat orang bisa lupa, pasti bukan tanpa alasan. Seperti hal-nya hal-hal negatif yang ada di dunia ini, semuanya ada untuk menyeimbangkan hidup.
Ada hal yang perlu untuk diingat, dan ntuk menyeimbangkannya, ada pula hal yang harus dilupakan. Hidup adalah seni untuk menyeimbangkan. Bukankah untuk dapat berjalan kita perlu keseimbangan?
Pilihan ada di tangan kita, apakah kita akan terjebak dalam ingatan masa lalu yang berlebihan, atau belajar melupakan sebagian darinya agar bisa seimbang, dan kita bisa kembali berjalan, menikmati kehidupan saat ini (present), sambil mempersiapkan diri untuk masa depan (future).
Maka, bersyukurlah jika kita mudah lupa. :)
Life is about balance
Memang, mudah lupa adalah hal jelek dan sering bikin jengkel. Tapi bagiku, mudah lupa bisa menjadi anugerah. Misalnya saja, mudah melupakan hal-hal buruk. Aku bersyukur aku termasuk jadi orang yang mudah melupakan hal buruk. Saat aku mendapat ucapan atau perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain, memang, aku merasa sakit. Seperti belakangan ini, aku merasa sakit dengan beberapa ucapan dari orang yang kuharapkan tidak berkata2 seperti itu. Aku bisa dengan mudah melupakan kata-kata itu. Dan juga sudah melupakan rasa sakit yang ditimbulkannya. Tiap hari, setiap kali aku bangun tidur, aku selalu bersyukur karena bisa lupa akan hal-hal buruk yang kualami.
Aku selalu belajar untuk hidup di saat ini (present). Melupakan yang sudah berlalu (past), adalah salah satu cara agar kita bisa fokus pada hidup kita saat ini (present). Tenaga dan pikiran kita tidak akan habis sia-sia untuk memikirkan hal-hal yang sudah berlalu. Boleh lah, mengingat yang sudah berlalu, tapi hanya sebatas mengenang saja. Yang bagus-bagus tetap dalam ingatan, yang jelek-jelek dilupakan saja. Maka, aku bersyukur ketika aku bisa mudah lupa akan hal-hal buruk di masa lalu.
Melupakan hal-hal buruk menjadi hal yang penting saat kita memberi maaf. Bagiku, memaafkan tidak akan ada artinya jika tidak melupakan hal buruk itu. Memaafkan itu sepaket dengan melupakan. Kalau kita bilang, kita sudah memaafkan, tapi di lain hari kita mengungkit-ungkit lagi hal itu, berarti kita belum memaafkan. Samaajaboong kan kalo katanya udah memaafkan, tapi di lain waktu kita marah lagi karena belum lupa akan hal buruk yang diperbuat orang lain? Trus orang itu suruh minta maaf lagi gitu? Gitu aja terus sampe capek ati sendiri. Sekali lagi, lupa adalah anugerah.
Buatku, hidup itu terlalu singkat jika dihabiskan untuk mengungkit-ungkit hal buruk yang telah terjadi. Yang lalu biarkan berlalu. Jika kita terjebak dalam ingatan masa lalu, hidup kita tidak akan pernah maju. Kita akan terjebak dalam ingatan buruk yang menghambat kita untuk menjadi lebih baik. Tuhan membuat orang bisa lupa, pasti bukan tanpa alasan. Seperti hal-nya hal-hal negatif yang ada di dunia ini, semuanya ada untuk menyeimbangkan hidup.
Ada hal yang perlu untuk diingat, dan ntuk menyeimbangkannya, ada pula hal yang harus dilupakan. Hidup adalah seni untuk menyeimbangkan. Bukankah untuk dapat berjalan kita perlu keseimbangan?
Pilihan ada di tangan kita, apakah kita akan terjebak dalam ingatan masa lalu yang berlebihan, atau belajar melupakan sebagian darinya agar bisa seimbang, dan kita bisa kembali berjalan, menikmati kehidupan saat ini (present), sambil mempersiapkan diri untuk masa depan (future).
Maka, bersyukurlah jika kita mudah lupa. :)
Life is about balance
Jumat, 07 Agustus 2015
Bersih atau Kotor
Ceritanya, sore tadi aku membersihkan dompet putihku, yang beberapa hari lalu terkena cream neorheumacyl cream, yang membuat dompet dan isi tasku berbau seperti tukang pijet urut. Dengan harapan bau itu bisa hilang, aku mengelap dompet bututku itu dengan tissue basah. Namun whooop, hanya dengan sekali usapan, tissue basah menjadi kotor dekil banget :D. Lalu aku mengingat-ingat kapan terakhir kali aku membersihkannya. Sejauh ingatanku, terakhir kali adalah ketika aku masih bekerja di Jakarta. Dan yak, itu berarti udah lebih dari setahun. :D
Sebagai penyuka putih, wajar jika aku memiliki beberapa benda berwarna putih. Tapi beberapa orang menganggap hal itu tidak wajar. Saat aku membeli benda berwarna putih, pasti orang yang menemaniku membeli akan berkomentar "kok putih sih? kan gampang kotor..." yaaa, kalo akunya udah suka begimana donk?
Kalau aku sudah menyukai sesuatu, aku akan menyukainya tanpa alasan. Jika orang berkata "gampang kotor", bagiku itu bukanlah masalah. Apakah jika benda itu berwarna hitam, artinya tidak gampang kotor? Kotor mah kotor kotor aja. Cuma, memang warna hitam kalau kotor tidak akan terlihat kotor. Tapi bukan berarti hitam itu bersih kan?
Buatku, sederhana aja. Biar kotor, biar terlihat kotor, itu bukanlah masalah. Toh yang terlihat bersih juga belum tentu benar-benar bersih... :)
Happy weekend everyone...
Sebagai penyuka putih, wajar jika aku memiliki beberapa benda berwarna putih. Tapi beberapa orang menganggap hal itu tidak wajar. Saat aku membeli benda berwarna putih, pasti orang yang menemaniku membeli akan berkomentar "kok putih sih? kan gampang kotor..." yaaa, kalo akunya udah suka begimana donk?
Kalau aku sudah menyukai sesuatu, aku akan menyukainya tanpa alasan. Jika orang berkata "gampang kotor", bagiku itu bukanlah masalah. Apakah jika benda itu berwarna hitam, artinya tidak gampang kotor? Kotor mah kotor kotor aja. Cuma, memang warna hitam kalau kotor tidak akan terlihat kotor. Tapi bukan berarti hitam itu bersih kan?
Buatku, sederhana aja. Biar kotor, biar terlihat kotor, itu bukanlah masalah. Toh yang terlihat bersih juga belum tentu benar-benar bersih... :)
Happy weekend everyone...
Jumat, 19 Juni 2015
Cinta dan Dia
Jatuh cinta, berjuta rasanya. Begitu kata Titiek Puspa. Dan begitu pula yang kurasakan belakangan ini; bahagia, penuh tawa, penuh seyum, penuh harap, bahkan kadang merasa dunia hanya milik berdua. Tak hanya perasaan bahagia, rasa khawatir, sedih, bahkan tangisan juga pernah muncul sesekali. Begitulah, berjuta rasanya.
Bagi yang melihat orang jatuh cinta, mungkin akan menganggap bahwa cinta bisa membutakan seseorang. Mungkin juga ada beberapa orang yang mengira aku telah dibutakan oleh cinta.
Aku belum lama mengenal Dia. Tapi dalam waktu yang singkat -singkat bagi beberapa orang- aku bisa menyatakan bahwa Dia adalah segalanya bagiku. Bagi orang lain, ini semua terlalu singkat. Kami pernah (hampir) jatuh. Lalu dalam sekejap kami kembali bangkit seperti sedang dimabuk cinta dan jadi orang paling bahagia sedunia.
Banyak orang yang menganggap proses kedekatan kami terlalu cepat. Namun bagi kami proses itu sudah berlangsung cukup lama. Sejak kami masih terpuruk dalam masalah kami masing-masing, semesta sudah mulai berproses untuk mempertemukan kami. Saat kami benar-benar bertemu, kami saling menguatkan dalam sakit dan lelah kami -sakit dan lelah dalam penantian panjang-. Kami saling memberi harapan, dan ya, dalam sekejap kami dekat. Kami merasa tenang dan bahagia saat kami bersama.
Ada kemungkinan bahwa rasa bahagia ini adalah euforia semata, karena kami sama-sama menemukan sosok yang kami cari, kami perlukan, kami inginkan. Mungkin banyak orang yang mengira demikian, Mungkin ada yang meragukan kami. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk mematahkan keraguan itu. Kami hanya bisa membuktikannya, dan hanya waktu yang dapat membantu kami.
Aku sudah memikirkannya dengan sungguh-sungguh, merasakan sedalam-dalamnya, bahwa dengan Dia aku mempunyai keyakinan. Dengan dia aku mendapatkan harapan. Dan dengan Dia aku merasakan cinta. Aku bukan sekedar menginginkannya. Aku membutuhkannya.
Dia menunjukkan pada dunia seberapa berartinya aku baginya. Sebagai seorang perempuan yang lemah, aku merasa kuat karena aku merasa dibutuhkan. Dari hari ke hari perasaanku makin kuat. Dari hari ke hari aku ingin Dia bahagia. Dari hari ke hari aku makin tak bisa jauh darinya. Aku bahagia dengan perhatiannya padaku. Aku merasa leluasa dengan ruang yang diberikannya untukku. Semua yang kurasakan ini bertumbuh, makin besar dan makin kuat setiap harinya.
Yang aku tahu, euforia tidaklah bertumbuh. Euforia pelan-pelan akan meredup dan mati dengan sendirinya, seiring berlalunya waktu. Yang kuyakini, ini bukanlah euforia. Ini adalah perasaan yang selalu hidup. Perasaan yang selama ini belum pernah kutemukan maknanya. Perasaan yang aku belum pernah tegas menyatakannya. Perasaan yang akan selalu tumbuh, selalu hidup selama aku masih bernafas. Perasaan yang disebut cinta...
Ya, Aku cinta Dia.
for my beloved Putra Para Dia
Jogja, Juni 2015
-Niken-
Bagi yang melihat orang jatuh cinta, mungkin akan menganggap bahwa cinta bisa membutakan seseorang. Mungkin juga ada beberapa orang yang mengira aku telah dibutakan oleh cinta.
Aku belum lama mengenal Dia. Tapi dalam waktu yang singkat -singkat bagi beberapa orang- aku bisa menyatakan bahwa Dia adalah segalanya bagiku. Bagi orang lain, ini semua terlalu singkat. Kami pernah (hampir) jatuh. Lalu dalam sekejap kami kembali bangkit seperti sedang dimabuk cinta dan jadi orang paling bahagia sedunia.
Banyak orang yang menganggap proses kedekatan kami terlalu cepat. Namun bagi kami proses itu sudah berlangsung cukup lama. Sejak kami masih terpuruk dalam masalah kami masing-masing, semesta sudah mulai berproses untuk mempertemukan kami. Saat kami benar-benar bertemu, kami saling menguatkan dalam sakit dan lelah kami -sakit dan lelah dalam penantian panjang-. Kami saling memberi harapan, dan ya, dalam sekejap kami dekat. Kami merasa tenang dan bahagia saat kami bersama.
Ada kemungkinan bahwa rasa bahagia ini adalah euforia semata, karena kami sama-sama menemukan sosok yang kami cari, kami perlukan, kami inginkan. Mungkin banyak orang yang mengira demikian, Mungkin ada yang meragukan kami. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk mematahkan keraguan itu. Kami hanya bisa membuktikannya, dan hanya waktu yang dapat membantu kami.
Aku sudah memikirkannya dengan sungguh-sungguh, merasakan sedalam-dalamnya, bahwa dengan Dia aku mempunyai keyakinan. Dengan dia aku mendapatkan harapan. Dan dengan Dia aku merasakan cinta. Aku bukan sekedar menginginkannya. Aku membutuhkannya.
Dia menunjukkan pada dunia seberapa berartinya aku baginya. Sebagai seorang perempuan yang lemah, aku merasa kuat karena aku merasa dibutuhkan. Dari hari ke hari perasaanku makin kuat. Dari hari ke hari aku ingin Dia bahagia. Dari hari ke hari aku makin tak bisa jauh darinya. Aku bahagia dengan perhatiannya padaku. Aku merasa leluasa dengan ruang yang diberikannya untukku. Semua yang kurasakan ini bertumbuh, makin besar dan makin kuat setiap harinya.
Yang aku tahu, euforia tidaklah bertumbuh. Euforia pelan-pelan akan meredup dan mati dengan sendirinya, seiring berlalunya waktu. Yang kuyakini, ini bukanlah euforia. Ini adalah perasaan yang selalu hidup. Perasaan yang selama ini belum pernah kutemukan maknanya. Perasaan yang aku belum pernah tegas menyatakannya. Perasaan yang akan selalu tumbuh, selalu hidup selama aku masih bernafas. Perasaan yang disebut cinta...
Ya, Aku cinta Dia.
for my beloved Putra Para Dia
Jogja, Juni 2015
-Niken-
Sabtu, 02 Mei 2015
Waktu [II]
Aku merasa, waktu merupakan dimensi yang unik.
Tiga tahun belakangan aku terkungkung dalam kegalauan mengenai waktu. Aku terkurung dalam penantian tanpa kepastian, dan dalam ketidakpastian itu, waktu selalu menjadi hal yang selalu kupertanyakan. Sudah berapa lama aku menunggu? Sampai kapan aku akan menunggu? Kapan penantian ini akan berakhir? Waktu, kenapa kau begitu menyiksaku?
Dalam kurun waktu itu, aku menjalani hariku dengan ketidakpastian, namun masih mencoba berusaha agar aku tetap memiliki harapan. Harapan bahwa apa yang kutunggu memang sedang benar-benar berusaha untuk membuatku berhenti menunggu. Seiring dengan penantian dalam ketidakpastian itu, pelan-pelan waktu mengikis harapan dan keyakinanku. Semakin lama hidup dalam ketidakpastian, aku semakin yakin bahwa selama ini apa yang kutunggu tak akan ada ujungnya. Lalu bagaimana dengan waktu yang sudah kuhabiskan untuk menunggu? Aku tidak dapat mengulang lagi. Perlahan hatiku kebas karena penantian ini.
Terkadang aku mempersalahkan waktu karena aku merasa tersiksa saat ia berlalu. Menghitung tiap hari, tiap minggu, tiap bulan yang berlalu tanpa ada perubahan. Waktu.... kenapa kamu selalu menyeret hatiku? Waktu... Kapan kau berhenti menggores hatiku dengan fakta seberapa lama aku mengunggu, dan ketidakpastian yang selalu kutunggu?
Saat ini, aku merasa waktu sedang "membayar" atas penantianku. Waktu sedang menukar waktu yang sudah kuhabiskan. Aku merasa bahwa waktu sedang mempersiapkan sesuatu yang indah untukku, dan semua itu kudapat dalam waktu yang singkat! Aku memperoleh keyakinan dan kepastian dalam waktu tak lebih dari satu purnama. Bagaimana bisa, aku menghabiskan ratusan purnama untuk menunggu, tapi aku tidak mendapat kepastian dan keyakinan. Sedangkan hanya dengan satu purnama, aku bisa mendapat keyakinan itu?
Kulihat lagi kebelakang, apa yang terjadi dibalik satu purnama sehingga dengan begitu kuatnya bisa membuatku merasa yakin. Ternyata jauh-jauh hari, semesta telah mengatur dan mempersiapkan segala yang kudapat saat ini. Aku merasa waktu sedang memberi kejutan bagiku. Dibalik penantianku, diam-diam waktu sedang menyembunyikan semesta yang mengatur rencana indah untukku, tanpa kuketahui. Hal indah yang terjadi begitu cepat, membuatku merasa waktu sedang berbicara padaku "see, ini yang sedang dipersiapkan untukmu. inilah yang sebenarnya kau tunggu. penantian panjang yang sudah kau lalui, kutukarnya dengan kepastian lain."
Kini, aku merasa bersahabat dengan waktu. Aku menjalani hari-hariku dengan tenang, karena aku kembali punya pegangan: Keyakinan dan Harapan. Dan dalam dalam harapan itu terdapat kepastian. Aku memang masih perlu menunggu. Tapi keyakinan dan harapan membuatku menunggu dalam tenang. Waktu, kuserahkan hidupku padamu. Aku yakin, kamu tidak akan pernah menipu. Dan kini, ada Dia yang bersamaku, menunggu bersamaku, dan melalui waktu ini dengan selalu menemaniku. Dia yang memberikanku keyakinan, harapan, dan cinta. Faith, Hope, Love.
Tiga tahun belakangan aku terkungkung dalam kegalauan mengenai waktu. Aku terkurung dalam penantian tanpa kepastian, dan dalam ketidakpastian itu, waktu selalu menjadi hal yang selalu kupertanyakan. Sudah berapa lama aku menunggu? Sampai kapan aku akan menunggu? Kapan penantian ini akan berakhir? Waktu, kenapa kau begitu menyiksaku?
Dalam kurun waktu itu, aku menjalani hariku dengan ketidakpastian, namun masih mencoba berusaha agar aku tetap memiliki harapan. Harapan bahwa apa yang kutunggu memang sedang benar-benar berusaha untuk membuatku berhenti menunggu. Seiring dengan penantian dalam ketidakpastian itu, pelan-pelan waktu mengikis harapan dan keyakinanku. Semakin lama hidup dalam ketidakpastian, aku semakin yakin bahwa selama ini apa yang kutunggu tak akan ada ujungnya. Lalu bagaimana dengan waktu yang sudah kuhabiskan untuk menunggu? Aku tidak dapat mengulang lagi. Perlahan hatiku kebas karena penantian ini.
Terkadang aku mempersalahkan waktu karena aku merasa tersiksa saat ia berlalu. Menghitung tiap hari, tiap minggu, tiap bulan yang berlalu tanpa ada perubahan. Waktu.... kenapa kamu selalu menyeret hatiku? Waktu... Kapan kau berhenti menggores hatiku dengan fakta seberapa lama aku mengunggu, dan ketidakpastian yang selalu kutunggu?
Saat ini, aku merasa waktu sedang "membayar" atas penantianku. Waktu sedang menukar waktu yang sudah kuhabiskan. Aku merasa bahwa waktu sedang mempersiapkan sesuatu yang indah untukku, dan semua itu kudapat dalam waktu yang singkat! Aku memperoleh keyakinan dan kepastian dalam waktu tak lebih dari satu purnama. Bagaimana bisa, aku menghabiskan ratusan purnama untuk menunggu, tapi aku tidak mendapat kepastian dan keyakinan. Sedangkan hanya dengan satu purnama, aku bisa mendapat keyakinan itu?
Kulihat lagi kebelakang, apa yang terjadi dibalik satu purnama sehingga dengan begitu kuatnya bisa membuatku merasa yakin. Ternyata jauh-jauh hari, semesta telah mengatur dan mempersiapkan segala yang kudapat saat ini. Aku merasa waktu sedang memberi kejutan bagiku. Dibalik penantianku, diam-diam waktu sedang menyembunyikan semesta yang mengatur rencana indah untukku, tanpa kuketahui. Hal indah yang terjadi begitu cepat, membuatku merasa waktu sedang berbicara padaku "see, ini yang sedang dipersiapkan untukmu. inilah yang sebenarnya kau tunggu. penantian panjang yang sudah kau lalui, kutukarnya dengan kepastian lain."
Kini, aku merasa bersahabat dengan waktu. Aku menjalani hari-hariku dengan tenang, karena aku kembali punya pegangan: Keyakinan dan Harapan. Dan dalam dalam harapan itu terdapat kepastian. Aku memang masih perlu menunggu. Tapi keyakinan dan harapan membuatku menunggu dalam tenang. Waktu, kuserahkan hidupku padamu. Aku yakin, kamu tidak akan pernah menipu. Dan kini, ada Dia yang bersamaku, menunggu bersamaku, dan melalui waktu ini dengan selalu menemaniku. Dia yang memberikanku keyakinan, harapan, dan cinta. Faith, Hope, Love.
Langganan:
Postingan (Atom)