Rabu, 07 Oktober 2015

Jogja

Hari ini hari ulang tahun Jogja. Pertama-tama kuucapkan dulu, selamat ulang tahun Jogja. :)

Meskipun aku bukan penduduk kota Jogja, tapi aku senang bisa menjadi bagian dari provinsi Jogja. Setidaknya di KTP-ku masih ada kata Yogyakarta-nya. Dan ketika ada orang bertanya daerah asalku, aku bisa bilang bahwa aku asli Jogja. :p

Jogja menjadi tempatku bertumbuh. Aku menghabiskan 21 tahun pertamaku di Jogja. Setelah itu aku pergi merantau, mencari pengalaman di kota orang. 2 Tahun aku tinggal di Jakarta, bekerja di sana, hidup di sana. Sebenarnya aku merasa betah di sana. Meskipun kerinduan pada suasana Jogja selalu mengusikku untuk selalu kembali. Tapi, aku merasa Jakarta juga tempat yang menyenangkan. Ada hal-hal positif yang bisa kurasakan, diantara keruwetan yang sering orang-orang keluhkan. Bahkan aku sempat berpikir, bahwa aku akan terus bekerja di Jakarta saja.

Kerinduan akan Jogja membuatku pulang, di bulan Juni 2014. Ketika itu, kebetulan katanya aku juga diperlukan untuk stay di Jogja sekitar bulan Agustus, katanya (ini perlu di bold dan underlined :p). Maka ketika itu kuputuskan untuk pulang di bulan Juni. Rencananya, bulan Oktober akan kembali mencari pekerjaan di Jakarta. Aku perlu di stay di Jogja. Rencananya, ketika sudah tidak diperlukan lagi, aku akan kembali ke Jakarta. Jadi aku bisa istirahat sekitar 4 bulan lah. Rencananya begitu.

Sebulan tinggal di Jogja, aku ditawari untuk magang di sebuah perusahaan game di Jogja. Perusahaan itu butuh tenaga magang di bagian Finance selama 2 bulan. Dengan pertimbangan mengisi waktu, aku terima saja tawaran itu. Dan aku pun bekerja di sana. Ternyata bekerja di Jogja itu menyenangkan. Jauh dari sakit2an, gak kayak waktu di Jakarta. Stress-less dan banyak tempat nyaman yang bisa bikin rileks. Dan kebetulan, yang katanya aku diperlukan di bulan Agustus itu tak kunjung terlaksana. Dan ketika itu aku tidak tahu, harus berapa lama lagi aku tinggal di Jogja. Tapi itu nggak masalah, dan aku malah berpikir untuk cari kerja di Jogja saja.

Selepas dari magang 2 bulan, aku rehat sejenak. Akhir tahun 2014, aku mencoba untuk cari kerja. Singkat cerita, aku mendapat pekerjaan di sebuah rumah sakit yang rencananya akan dibuka di tahun 2015. Rencananya aku akan mulai bekerja di awal Februari. Nice, masih ada waktu buat istirahat. :)

Awal Januari, aku mendapat panggilan dari perusahaan tempatku magang. Aku dibujuk-bujuk untuk mengisi posisi accounting staff di sana (setengah dipaksa sebenernya :D). Aku menerima tawaran itu. Aku bekerja di tempat itu lagi. Kantor yang memperbolehkan karyawannya bekerja dengan memakai kaos, celana pendek, jins, bahkan sendal jepit. Kantor yang tidak formal sama sekali. Dan lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Setidaknya tidak sejauh rumah sakit itu.

Empat bulan kemudian, hidupku benar-benar berubah. Aku menemukan kenyamanan tinggal di Jogja. Aku menemukan cinta di hidupku. Hidupku rasanya jadi lebih terang, karena aku jadi tahu kemana aku berjalan. Aku merasakan bahwa ternyata hidupku ini berguna untuk orang lain. Aku merasa aku dibutuhkan, bukan sekedar diinginkan. Aku juga mendapat ketenangan dalam hidup ini, karena hidup dalam suatu hubungan yang terbuka dan hangat. Dan sekarang ini, aku sudah memiliki Dia yang kuinginkan untuk menjalani hidupku dengannya. Tahun ini menjadi tahun berkat buatku. Apa yang kurasakan dan kumiliki saat ini, rasanya sungguh-sungguh di luar dugaan, dan semua terjadi dengan begitu indahnya.

Jogja. Semua ini terjadi dan kualami di Jogja.
Terima kasih untuk segalanya...
Jika aku tidak pulang ke Jogja, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Dia.
Jika aku terlambat pulang ke Jogja, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Dia.
Jika aku tidak dibuat menunggu di Jogja, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Dia.
Jika Jogja tidak senyaman ini, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Dia.

Jogja, terima kasih sudah mempertemukanku dengan Dia. Terima kasih telah menjadi tempat yang nyaman. Terima kasih telah menjadi tempat dimana kami melukiskan segala harapan. Aku bersyukur bisa kembali ke Jogja, tinggal di Jogja, menjadi bagian dari Jogja. Semoga Jogja selalu menjadi tempat yang nyaman. :)

Senin, 21 September 2015

1 dari 365

Setiap orang pasti pernah mengalami "Bad Day". Hari dimana seharian selalu merasa sial, tidak beruntung, sedih, ataupun mengalami kejadian yang mengacaukan emosi sepanjang hari. Kadang, kalo terlalu bawa perasaan dan sulit move on, bad day akan berlanjut ke hari-hari berikutnya. Lalu mengeluh. Mengumpat. Marah-marah. Atau bahkan menangisi hidup yang terasa begitu berat.

Mau tidak mau, suka tidak suka, kejadian buruk akan dialami oleh setiap manusia. Tapi satu hal buruk apakah lantas boleh mengacaukan waktu sepanjang hari? Setiap mengalami kejadian buruk, ada baiknya kita mencoba untuk membuatnya menjadi lebih baik. Misalnya bersyukur akan hal-hal kecil yang kita dapat. Tidak ada yang bisa disyukuri? Cobalah bersyukur karena kita bernafas. Seperti salah satu quote favoritku, dari Sidharta Gautama "Mari kita bangkit dan bersyukur , walau kita tidak belajar banyak hari ini, setidaknya kita belajar sedikit , jika tidak belajar sedikit, setidaknya kita tidak sakit, dan jika ternyata kita sakit, setidaknya kita tidak mati, karena itu marilah kita semua bersyukur." Dalam hidup ini, pasti selalu ada hal yang bisa kita syukuri.

Jika bersyukur terasa jadi begitu sulit, pagi ini aku menemukan cara lain untuk bersyukur. Jika kita mengalami 1 hari buruk, tak apalah, masih ada 364 hari yang lebih baik dalam setahun. Jika mengalami 2 hari buruk, maka kita masih punya 363 hari lain yang lebih baik. Begitu seterusnya. Setidaknya hari buruk yang dialami akan terasa sedikit dibandingkan dengan hari-hari yang telah (dan akan) kita lalui. Pun kita mengalami hari-hari berat yang berturut-turut, katakanlah dalam sebulan kita mengalami hari yang buruk, kita masih saja memiliki 335 hari lain. Masih banyak kan?

1 dari 365 adalah jumlah yang kecil, cuma 0,3%. 30 dari 365 pun juga bukanlah hal yang besar, hanya 8,2%. Coba saja bayangkan angkanya. Apakah pantas kita mengeluhkan 0,3% dari waktu kita selama setahun, sedangkan kita sudah mengalami hal baik dalam 99,7% dari waktu yang kita miliki? Atau jika 0,3% terlalu kecil, apakah kita akan mengeluhkan 8,2% dari waktu kita dalam setahun, ketika kita mengalami 91,8% hari baik dalam setahun? jika iya, terdengar serakah ya...

Teorinya sih sepertinya gampang. Menjalaninya yang mungkin sulit. Hari buruk bukanlah hal yang bisa kita hindari. Tapi menyikapinya dengan cara yang baik, akan membuatnya menjadi baik juga. Setidaknya bisa mengurangi hal buruk yang telah kita alami. Bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Itulah obat yang paling ampuh untuk mengurangi segala bentuk sakit hati dan kesesakan hidup.

Heeuuu, udah kayak om mario teguh aja ya tulisanku. Seolah-olah hidup itu mudah untuk dilalui. Hidup memang sulit, maka janganlah dibikin lebih sulit lagi. Permudahlah apa yang bisa dibuat menjadi mudah. Jika kita bisa mempermudah hidup kita, lalu permudahlah hidup orang-orang di sekitar kita, orang yang kita sayangi. Jangan buat hari orang menjadi buruk. Apalagi orang-orang yang kita sayangi.

Selasa, 15 September 2015

La Vie En Rose

Hold me close and hold me fast
The magic spell you cast
This is la vie en rose
When you kiss me heaven sighs
And though I close my eyes
I see la vie en rose
When you press me to your heart
I'm in a world apart
A world where roses bloom
And when you speak
Angels sing from above
Everyday words seems
To turn into love song
Give your heart and soul to me
And life will always be la vie en rose

...

I miss you...

Selasa, 08 September 2015

tulisan ini ada karena yg nulis lagi ga bisa tidur

malam ini lagi agak melow -pms strike maybe-. mumpung laptop udah sembuh, yuk mari ngeblog tengah malam lagi.. jadi berasa kayak jaman kuliah dulu, jam segini masih melek aja cuma buat tak tik tuk nulis-nulis ga jelas... :D
langsung aja deh, here we go, niken yg lg galooo

mencukupkan diri memang bukanlah hal yang mudah. keinginan selalu muncul setiap saat, meskipun apa yang kita butuhkan sudahlah kita miliki. ingin lebih dan lebih, tanpa sadar bahwa apa yang telah kita punyai sudahlah lebih dari apa yang diinginkan. kadang, rasa ingin yang berlebihan membuat kita lupa bahwa apa yang kita miliki sebenarnya sudah lebih dari cukup. lebih dari apa yang pernah kita minta.

lagi, aku merefleksikannya dalam wujud keseimbangan. saat ini aku membayangkan, hidup itu seperti sedang berjalan di atas sebatang kayu, sambil membawa galah sebagai penyeimbang. galah itu harus diletakkan dalam posisi sama panjang di kanan dan kiri, agar kita dapat berjalan dengan seimbang. jika terlalu panjang ke kanan, maka kita akan berjalan oleng. jika kita selalu mendapat yang baik-baik, dan meminta yang lebih baik lagi, maka langkah kita akan oleng. jika kita mendapat hal buruk, seharusnya kita bersyukur karena hal itu akan menjadi penyeimbang jalan kita.

aku lupa, bahwa aku telah mendapat hal yang sangat indah. lebih dari yang pernah kuharapkan. mengharapkan lebih dari apa yang telah kumiliki, rasa-rasanya kok aku ini serakah sekali. jika aku meminta lebih, maka apa yang kumiliki akan semakin mendekati sempurna. bukan kesempurnaan itu yang kucari. rasa syukur karena aku telah mendapat cukup banyak, itu yang perlu kulakukan. seperti yang sudah-sudah, aku bersyukur atas segala yang kumiliki dan kurasakan. aku bersyukur atas hidup ini.

wis ah.. sudah cukup melownya.. sudah cukup over thinkingnya... terima saja apa yang ada... penerimaan yang seutuhnya... teorinya sih gampang ya... prakteknya yang suliitttt... tapi, tanpa dicoba, selamanya kesulitan itu akan selalu menjadi kesulitan.... mari kita bersyukur :)

Jumat, 14 Agustus 2015

Karma - Tabur Tuai

Karma itu nyata. Aku percaya itu. Dalam kitab suci pun telah disebutkan bahwa kita akan menuai apa yang telah kita tabur.

Apa yang kita alami atau apa yang kita peroleh saat ini adalah hasil dari apa yang telah kita lakukan atau perbuat di masa lalu. Jika kita mengalami hal buruk, dulu pasti kita pernah melakukan hal buruk. Begitu juga jika kita mendapat hal baik, maka itu adalah buah dari hal baik yang pernah kita lakukan sebelumnya.

Apa yang kita alami saat ini sekaligus menjadi penentu apa yang akan kita peroleh kelak. Saat ini, bisa jadi kita sedang menuai, sekaligus menabur. Apa yang kita lakukan akan kita rasakan  sendiri di kemudian hari.

Aku sangat meyakini hukum alam ini. Hal-hal baik yang terjadi padaku, semuanya kusyukuri. Begitupun hal buruk yang kualami, yang juga merupakan "buah" yang sedang kupetik saat ini.

Penerimaan atas hal buruk yang terjadi padaku, membuatku lebih ringan dalam menjalani hidupku. Itu konsekuensi yang harus aku terima. Jika aku mengeluh, pasti beban yang ada padaku akan terasa jauh lebih berat.

Pada hal baik yang terjadi padaku, hanya satu yang bisa kulakukan, yaitu bersyukur.

Aku sangat yakin bahwa dunia ini adil. Lebih tepatnya, Tuhan itu maha adil. Apapun yang terjadi pada kita merupakan konsekuensi dari tindakan dan keputusan kita di masa lalu. Baik atau buruk, kita harus menerima.

Aku selalu siap menuai apa yang telah kutabur. Aku menyadari segala konsekuensi dari segala keputusan dan tindakanku. Dan aku tidak akan menyesali apapun yang terjadi padaku. Aku selalu mencoba bersyukur atas segala hal yang kudapat, baik atau buruk.

Tentang penyesalan, aku mencoba untuk tak pernah menyesali apapun yang terjadi padaku. Menyesal tidak akan mengubah keadaan. Tapi jika berbicara tentang penyesalan, penyesalan terbesar yang mungkin dialami oleh manusia adalah menyesal karena tidak melakukan sesuatu yang diyakini.

Tentang keyakinan, aku tidak mudah percaya kata-kata orang lain. Aku lebih percaya dengan kata hatiku sendiri. Tak jarang, aku membuat keputusan atas keyakinanku sendiri. Apapun yang dikatakan orang lain, aku lebih percaya pada apa yang kuyakini. Hal yang paling kuhindari di dunia ini adalah membuat keputusan karena percaya dengan kata-kata orang lain, dan mengesampingkan kata hatiku sendiri. Aku menghindari penyesalan yang mungkin akan ditimbulkan. Aku tidak ingin kelak menyalahkan orang lain atas keputusan yang sudah kuambil. Jika aku memutuskan suatu hal karena keyakinanku, maka apapun yang akan kuperoleh suatu saat nanti, adalah bagian dari konsekuensi yang harus kuterima.

Itulah hidup, menuai apa yang telah kita tabur. Setidaknya, itulah inti dari hidup yang selama ini kuyakini.

Kamis, 13 Agustus 2015

Lupa dan Melupakan

Setiap orang pasti pernah lupa akan suatu hal. Entah itu hal kecil atau besar, sering atau jarang, disengaja atau tidak sengaja. Lupa adalah suatu hal yang kadang menjengkelkan, baik bagi orang yang lupa maupun bagi orang lain yang terkena imbasnya. Aku adalah salah satu dari milyaran manusia di bumi ini, yang termasuk dalam kategori pelupa. Biasanya aku gampang lupa akan hal-hal kecil. Kadang suka sewot atau jengkel sendiri kalo udah kelupaan sesuatu. Salah satu cara untuk menghilangkan kejengkelan itu, biasanya aku meyakinkan diri sendiri "ah, nanti juga inget sendiri" :D

Memang, mudah lupa adalah hal jelek dan sering bikin jengkel. Tapi bagiku, mudah lupa bisa menjadi anugerah. Misalnya saja, mudah melupakan hal-hal buruk. Aku bersyukur aku termasuk jadi orang yang mudah melupakan hal buruk. Saat aku mendapat ucapan atau perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain, memang, aku merasa sakit. Seperti belakangan ini, aku merasa sakit dengan beberapa ucapan dari orang yang kuharapkan tidak berkata2 seperti itu. Aku bisa dengan mudah melupakan kata-kata itu. Dan juga sudah melupakan rasa sakit yang ditimbulkannya. Tiap hari, setiap kali aku bangun tidur, aku selalu bersyukur karena bisa lupa akan hal-hal buruk yang kualami.

Aku selalu belajar untuk hidup di saat ini (present). Melupakan yang sudah berlalu (past), adalah salah satu cara agar kita bisa fokus pada hidup kita saat ini (present). Tenaga dan pikiran kita tidak akan habis sia-sia untuk memikirkan hal-hal yang sudah berlalu. Boleh lah, mengingat yang sudah berlalu, tapi hanya sebatas mengenang saja. Yang bagus-bagus tetap dalam ingatan, yang jelek-jelek dilupakan saja. Maka, aku bersyukur ketika aku bisa mudah lupa akan hal-hal buruk di masa lalu.

Melupakan hal-hal buruk menjadi hal yang penting saat kita memberi maaf. Bagiku, memaafkan tidak akan ada artinya jika tidak melupakan hal buruk itu. Memaafkan itu sepaket dengan melupakan. Kalau kita bilang, kita sudah memaafkan, tapi di lain hari kita mengungkit-ungkit lagi hal itu, berarti kita belum memaafkan. Samaajaboong kan kalo katanya udah memaafkan, tapi di lain waktu kita marah lagi karena belum lupa akan hal buruk yang diperbuat orang lain? Trus orang itu suruh minta maaf lagi gitu? Gitu aja terus sampe capek ati sendiri. Sekali lagi, lupa adalah anugerah.

Buatku, hidup itu terlalu singkat jika dihabiskan untuk mengungkit-ungkit hal buruk yang telah terjadi. Yang lalu biarkan berlalu. Jika kita terjebak dalam ingatan masa lalu, hidup kita tidak akan pernah maju. Kita akan terjebak dalam ingatan buruk yang menghambat kita untuk menjadi lebih baik. Tuhan membuat orang bisa lupa, pasti bukan tanpa alasan. Seperti hal-nya hal-hal negatif yang ada di dunia ini, semuanya ada untuk menyeimbangkan hidup.
Ada hal yang perlu untuk diingat, dan ntuk menyeimbangkannya, ada pula hal yang harus dilupakan. Hidup adalah seni untuk menyeimbangkan. Bukankah untuk dapat berjalan kita perlu keseimbangan?

Pilihan ada di tangan kita, apakah kita akan terjebak dalam ingatan masa lalu yang berlebihan, atau belajar melupakan sebagian darinya agar bisa seimbang, dan kita bisa kembali berjalan, menikmati kehidupan saat ini (present), sambil mempersiapkan diri untuk masa depan (future).
Maka, bersyukurlah jika kita mudah lupa. :)

Life is about balance

Jumat, 07 Agustus 2015

Bersih atau Kotor

Ceritanya, sore tadi aku membersihkan dompet putihku, yang beberapa hari lalu terkena cream neorheumacyl cream, yang membuat dompet dan isi tasku berbau seperti tukang pijet urut. Dengan harapan bau itu bisa hilang, aku mengelap dompet bututku itu dengan tissue basah. Namun whooop, hanya dengan sekali usapan, tissue basah menjadi kotor dekil banget :D. Lalu aku mengingat-ingat kapan terakhir kali aku membersihkannya. Sejauh ingatanku, terakhir kali adalah ketika aku masih bekerja di Jakarta. Dan yak, itu berarti udah lebih dari setahun. :D

Sebagai penyuka putih, wajar jika aku memiliki beberapa benda berwarna putih. Tapi beberapa orang menganggap hal itu tidak wajar. Saat aku membeli benda berwarna putih, pasti orang yang menemaniku membeli akan berkomentar "kok putih sih? kan gampang kotor..." yaaa, kalo akunya udah suka begimana donk?

Kalau aku sudah menyukai sesuatu, aku akan menyukainya tanpa alasan. Jika orang berkata "gampang kotor", bagiku itu bukanlah masalah. Apakah jika benda itu berwarna hitam, artinya tidak gampang kotor? Kotor mah kotor kotor aja. Cuma, memang warna hitam kalau kotor tidak akan terlihat kotor. Tapi bukan berarti hitam itu bersih kan?

Buatku, sederhana aja. Biar kotor, biar terlihat kotor, itu bukanlah masalah. Toh yang terlihat bersih juga belum tentu benar-benar bersih... :)

Happy weekend everyone...