agak aneh, malam ini tiba2 aku kangen dengan aku setahun yang lalu
kangen rambut panjangku yang kudapat setelah dua tahun perjuangan mempertahankannya
kangen kuku-kuku jari tangan n kakiku yang selalu dicat gelap yang sering dibilang abis kejepit pintu
kangen puluhan gelang yg kebanyakan berwarna hitam yang berjajar rapi di tangan kiriku, yang membuat orang-orang menyebutku 'bakul gelang'
kangen aku yang suka ribet sendiri waktu kuliah, entah dg tulisan2ku, main game, baca2 novel/cerita lucu dan kadang majalah, atau curi2 makan saat kuliah
kangen aku yg berjuang keras melawan rasa kantuk saat suliah yg sangat membosankan
kangen aku dan teman2ku yg suka usil dan saling mengerjai di kampus
kangen keluyuran sampe pagi sama temen2 markas
kangen nonton film2 drama dan mewek tiap malam :p
kangen aku yang suka ketawa ngakak
hahaha....itu dulu.... dulu aku begitu... :D
This is my page. My space. I share what's in my head. Sometime it's inspiring thing. Sometime it's just vent of my mind. What's in this page is just a little piece(s) of my life. You can judge what I write. But not my life ;) - I write what I want to write. Because this is my space
Sabtu, 31 Desember 2011
Rabu, 21 Desember 2011
Socialiezt (II)
# Lab AVA
Kelas ini menjadi tempat pertama kami, 20 makhluk
kelas ilmu sosial untuk saling mengenal dan bersosialisasi -dalam proses tersebut, selanjutnya kami menamakan diri socialiezt '07-
Lab AVA, ruang
terpencil, yang hampir mirip gudang, karena banyak barang2 yg entah berguna
atau tidak yang terletak disana.Ada panel2 portofolio beserta makalah2nya,
benda2 pendukung mata pelajaran sejarah dan geografi, dll. Yang paling penting, di ruang itu
ada TV, player dan radio+tape.
Suatu saat di waktu senggang, kami membahas tentang potensi2 yg ada di ruang tersebut. Ga ada salahnya kalau kami pergunakan apa yang ada. Kadang kami menyalakan radio ato
nonton film dg player yg ada. Kami melakukannya ga cuma waktu istirahat. Kalau lagi ngerjain tugas, dan
guru yg bersangkutan mengijinkan, kami pasti mengerjakan sambil dengerin radio. Bahkan tidak jarang memaksa guru
buat nonton film aja, biar pelajaran ga bosen.
Suatu hari, entah siapa yg
mencetuskan ide, kita iuran membeli antenna kecil buat TV yg ada di ruang itu. Dan sejak saat itu TV menjadi hiburan utama kami di saat jam kosong maupun
istirahat. Dan dengan demikian kelas kami menjadi kelas eksklusif, dibanding kelas2
lain. Dan membuat kita ogah kembali ke peradaban kami yg sebenarnya, di ruang
kelas sebenarnya. :D
to be tukinyut again...
Mika - My Interpretation
You talk about life, you talk about death,
And everything in between,
Like it's nothing, and the words are easy.
You talk about me, and you talk about you,
And everything I do,
Like it's something, that needs repeating.
I don't need an alibi or for you to realize,
The things we left unsaid,
Are only taking space up in our head.
Make it my fault, win the game
Point the finger, place the blame
It does me up and down,
It doesn't matter now.
[chorus:]
'Cause I don't care if I ever talk to you again.
This is not about emotion,
I don't need a reason not to care what you say,
Or what happened in the end.
This is my interpretation,
And it don't, don't make sense.
The first two weeks turn into ten,
I hold my breath and wonder when it'll happen,
Does it really matter?
If half of what you said is true,
And half of what I didn't do could be different,
Would it make it better?
If we forget the things we know.
Would we have somewhere to go?
The only way is down, I can see that now.
[chorus]
It's really not such a sacrifice
[chorus]
And it don't have to make no sense to you at all,
'Cause this is my interpretation, yeah, yeah, yeah.
And everything in between,
Like it's nothing, and the words are easy.
You talk about me, and you talk about you,
And everything I do,
Like it's something, that needs repeating.
I don't need an alibi or for you to realize,
The things we left unsaid,
Are only taking space up in our head.
Make it my fault, win the game
Point the finger, place the blame
It does me up and down,
It doesn't matter now.
[chorus:]
'Cause I don't care if I ever talk to you again.
This is not about emotion,
I don't need a reason not to care what you say,
Or what happened in the end.
This is my interpretation,
And it don't, don't make sense.
The first two weeks turn into ten,
I hold my breath and wonder when it'll happen,
Does it really matter?
If half of what you said is true,
And half of what I didn't do could be different,
Would it make it better?
If we forget the things we know.
Would we have somewhere to go?
The only way is down, I can see that now.
[chorus]
It's really not such a sacrifice
[chorus]
And it don't have to make no sense to you at all,
'Cause this is my interpretation, yeah, yeah, yeah.
Selasa, 20 Desember 2011
Socialiezt (I)
# Sebuah awal,
Tahun ajaran baru 2005/2006. Aku yakin,
masing2 dari siswa yg akan ikut kelas XI program ilmu sosial saat itu merasa
kaget,heran,cemas dan lain sebagainya, karena, saat itu diumumkan bahwa siswa
baru di kelas sosial HANYA berjumlah 20 orang. Hari pertama perkenalan
dengan wali kelas kami. Saat itu juga dilakukan penentuan pengurus kelas, yang akhirnya diputuskan bahwa yusuf -yang selanjutnya lebih akrab dipanggil ucup- dipilih sebagai ketua kelas.
Pada minggu pertama, karena di sekolah kami sedang
dilakukan renovasi gedung, maka terpaksa harus ada 2 kelas ya rela dipindah, sedangkan kelas yg lain harus
digeser. Salah satu kelas yg dipindah adalah kelas kami, kelas ilmu sosial. Dan parahnya,
kelas kami dipindah di lab AVA, yg letaknya jauh dari peradaban, jauh dari kelas2
lain, jauh dari koperasi, jauh dari kantin. Lab itu dekat dg parkiran motor,
kantor TU dan WC guru.
Sulit dibayangkan saat itu, 20 anak dari 6 kelas yg berbeda2, disatukan di sebuah kelas ‘terasing’. Awalnya kami sulit menerima. Pertemanan diantara kami juga masih terjadi gap2an. Aku,Nika,Diah, yg sebelumnya dari kelas yg sama, dapat bergaul dg mudah. Ditambah Eca, yg se-pasukan tonti denganku+Nika. Kita berempat bisa cepet nyambung.
Devita+Sari, dua anak yg paling heboh dari kelas X.6 berteman dg Hanip+Fika dari kelas X.3. Dua kelompok perempuan ini pada awalnya tidak terlalu dekat. Tapi Hanip+Fika terus ikut bergabung dengan kami berempat. Dan lama kelamaan kami berdelapan bisa bergabung.
Semua itu dapat terjadi, karena kami jauh dari kelas lain. Kalau mau ke kantin, kami harus bareng2. Kalau jam kosong atau istirahat, kami juga ga bisa gabung dg kelas lain, karena boros waktu buat pergi ke kelas lain/ke perdadaban. Jadi kami bersosialisasi hanya dengan penghuni baru lab AVA itu. Seiring berjalannya waktu, ke20 orang anak itu mulai nyambung, dekat dan kompak…
Sulit dibayangkan saat itu, 20 anak dari 6 kelas yg berbeda2, disatukan di sebuah kelas ‘terasing’. Awalnya kami sulit menerima. Pertemanan diantara kami juga masih terjadi gap2an. Aku,Nika,Diah, yg sebelumnya dari kelas yg sama, dapat bergaul dg mudah. Ditambah Eca, yg se-pasukan tonti denganku+Nika. Kita berempat bisa cepet nyambung.
Devita+Sari, dua anak yg paling heboh dari kelas X.6 berteman dg Hanip+Fika dari kelas X.3. Dua kelompok perempuan ini pada awalnya tidak terlalu dekat. Tapi Hanip+Fika terus ikut bergabung dengan kami berempat. Dan lama kelamaan kami berdelapan bisa bergabung.
Semua itu dapat terjadi, karena kami jauh dari kelas lain. Kalau mau ke kantin, kami harus bareng2. Kalau jam kosong atau istirahat, kami juga ga bisa gabung dg kelas lain, karena boros waktu buat pergi ke kelas lain/ke perdadaban. Jadi kami bersosialisasi hanya dengan penghuni baru lab AVA itu. Seiring berjalannya waktu, ke20 orang anak itu mulai nyambung, dekat dan kompak…
to be tukinyut ... (kata2 yg sering diucapkan Sari waktu SMA. artinya; to be continued)
Kamis, 08 Desember 2011
Jekardah
Katanya dia identik dengan panas, macet dan mahal. Ada juga yg ngomong kalo dia kejam.
4 Desember 2011 yang lalu, aku dengan sengaja mendatanginya. Setelah mengabaikan ketakutanku akan cerita-cerita buruk tentangnya, aku memberanikan diri untuk mendekatinya, ingin berteman dengannya. Aku berharap bisa hidup dengannya. Beruntung, aku punya kakak yang membantuku untuk mengenalnya. Melindungiku, dan menyediakan area aman untukku. Tidak hanya aman, tapi juga nyaman.
Saat ini, sudah 4 hari aku hidup dan bergumul dengan Jekardah. Tapi tak sekalipun aku merasakan apa yang pernah aku dengar dari orang-orang yang telah mengenalnya.
Tidak panas karena sepanjang siang aku berada di ruang ber-AC
Tidak macet karena sehari-hari aku hanya memerlukan kakiku untuk kegiatan sehari-hari
Tidak mahal karena banyak makanan murah dan enak disekitarku, juga karena ada kakak yg selalu merepotkan dirinya untuk memudahkanku
Tidak kejam karena aku terlindungi sepanjang hari
Aku betah dengannya. Aku merasa bisa bersahabat dengan sedikit bagian darinya.
Mungkin aku merasa demikian karena baru sangat sangat sedikit mengenal Jekardah. Aku bahkan belum mengetahui dimana letak hal-hal buruk itu. Jika suatu hari aku mulai mengetahuinya, aku berharap nantinya aku bisa memahaminya, bisa mensyukurinya, hingga kelak kami bisa benar-benar bersahabat. Meskipun persahabatan itu tidak akan sekental persahabatakku dengan yang telah kukenal selama 21tahun....
Jekardah, mari kita berteman.... :)
Rabu, 30 November 2011
Tiba-tiba Tiba
Secara tak terduga, bus itu tiba.
Beberapa saat yang lalu, aku melihatnya masih berada jauh di ujung jalan tempat dimana aku menunggu.
Saat aku berkedip, bus itu sudah ada di depan mataku, dan pintunya sudah terbuka untukku.
Aku terkejut.
Ini bus yang aku tunggu.
Tapi kenapa tiba secepat ini?
Aku belum sempat mengangkat tas yang akan kubawa.
Bahkan yang menemaniku menunggu pun belum sempat berkata-kata.
Kondektur sudah menungguku untuk segera masuk ke dalam bus.
Sang sopir juga sudah membunyikan klaksonnya.
Mau tak mau aku harus segera mengambil langkah.
Semoga aku tidak salah langkah.
Beberapa saat yang lalu, aku melihatnya masih berada jauh di ujung jalan tempat dimana aku menunggu.
Saat aku berkedip, bus itu sudah ada di depan mataku, dan pintunya sudah terbuka untukku.
Aku terkejut.
Ini bus yang aku tunggu.
Tapi kenapa tiba secepat ini?
Aku belum sempat mengangkat tas yang akan kubawa.
Bahkan yang menemaniku menunggu pun belum sempat berkata-kata.
Kondektur sudah menungguku untuk segera masuk ke dalam bus.
Sang sopir juga sudah membunyikan klaksonnya.
Mau tak mau aku harus segera mengambil langkah.
Semoga aku tidak salah langkah.
Selasa, 29 November 2011
Hidup Benar Menurut 10 Butir Filsafat Jawa
1.
Urip Iku Urup (Hidup itu nyala)
Hidup kita itu hendaknya memberi manfaat
bagi segenap orang lain yang berada di sekitar kita. Semakin besar kita bisa
memberikan manfaat dan berguna bagi khalayak ramai, kualitas hidup kita pun
juga akan menjadi lebih baik.
2.
Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara
(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan
Kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak)
Tugas kita selagi hidup di dunia ini adalah
mengusahakan bonum commune yang dalam
bahasa politik sering diterjemahkan sebagai kebaikan atau kesejahteraan bersama
untuk segenap masyarakat. Kita meminimalisir segala bentuk kejahatan dan wujud
keserakahan.
3.
Sura Diya Jaya Jayaningrat, Lebur Dening
Pangastuti (Segala sifat keras hati,
picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan
sabar)
Cinta tanpa pamrih akan mengalahkan segala
bentuk kekerasan hati. Dalam bahasa Latin ada ungkapan Caritas Christi urget nos yang kurang lebih bisa diartikan “kasih
Tuhan mendorong kita untuk berbuat banyak bagi sesama”. Bisa juga kita artikan
“kasih mengalahkan segala angkara murka”
4.
Ngluruk Tanpa Bala; Menang Tanpa Ngasorake; Sekti
Tanpa Aji-aji; Sugih Tanpa Bandha (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang
tanpa harus merendahkan atau mempermalukan orang lain; Berwibawa tanpa harus
mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari
kebendaan)
Apalah artinya hidup ini bila kita dimusuhi
orang lain karena ulah kita sendiri? Rasa-rasanya tiada guna kita memuja diri
dengan segala atribut duniawi berbentuk kekuasaan, kekayaan, penampilan fisik,
kalau nyatanya kita tidak punya kawan. Pun pula tidak perlu juga kita membuat
orang lain malu atau sakit hati hanya karena kita ingin “balas dendam”. Jauh
lebih bermartabat, kalau kita berani mengampuni orang lain dan memberikan maaf,
sekalipun yang bersangkutan barangkali tidak mau mengaku salah dan tidak mau
berdamai dengan kita. Kebesaran jiwa seseorang justru terbaca ketika berani
mengaku salah dan minta maaf; pun pula rela mengampuni mereka yang bersalah
kepada kita.
5.
Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun
Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih
manakala kehilangan sesuatu)
Memiliki benda itu perlu namun tidak perlu
menumpuk. Benda atau harta harus diperlakukan sebagai “sarana” dan bukan “tujuan”
hidup. Tujuan hidup kita tak lain adalah memuji kebesaran Tuhan, melayani
sesama dan berbakti kepada Sang Pencipta melalui karya-karya kasih kepada
sesama.
6.
Aja Gumunan; Aja Getunan; Aja Kagetan; Aja Aleman
(Jangan mudah terheran-heran; Jangan
mudah menyesal; jangan mudah terkejut; jangan mudah kolokan ataumanja)
Banyak ornag mengalami “gegar budaya”
(culture shock) manakala menjadi kaya secara tiba-tiba. Di Indonesia, banyak orang
OKB (Orang Kaya Baru) mendadak berubah tingkah lakunya. Selain suka berbelanja
di pusat-pusat bisnis, caranya berdandan dan berbicara dengan orang lain pun
jadi berubah.
7.
Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan
Kemareman (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh
kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi)
Harta, kekuasaan, dan kenikmatan adalah
tiga hal yang sering kali membawa manusia pada jurang dosa alias gampang digoda
melakukan pelanggaran norma-norma sosial-hukum-susila-agama-moral.
8.
Aja Kuminter mundak Keblinger; Aja Cidra Mundak
Cilaka (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat
curang agar tidak celaka)
Pintar dan cerdas sangat membuka peluang
bagi kita menjadi sombong dan arogan. Kalau kita merasa pintarsendiri, kita
memandang orang lain dengan sebelah mata. Kita meletakkan diri kita terlalu
tinggi dan memandang orang lain terlalu rendah. Orang yang hanya peduli dengan
dirinya sendiri akan mudah sekali “jatuh” dalam dosa yang disebut main curang.
9.
Aja Milik Barang Kang Melok; Aja Mangro mundak
Kendo (Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, canti, indah; Jangan
berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat)
Hidup sederhana itu indah. Hidup menurut
ukuran dan takaran kita sendiri adalah bijaksana daripada harus hidup penuh
kepalsuan layaknya bunyi pepatah lama “Besar pasak daripada tiang”. Sekarang
ini, banyak orang lupa diri lantaran kena hipnotis akan hidup enak, mewah dan
serba cepat.
10.
Aja Adigang, Adigung, Adiguna (Jangan sok kuasa,
sok besar, sok sakti)
Sombong adalah akar segala dosa. Merasa
diri paling hebat biasanya menjadi awal untuk melakukan segala bentuk
penghinaan kepada orang lain. Sombong dan arogansi akan bertambah hebat, kalau
ditopang oleh kekayaan. Menjadi lebih “mengerikan” lagi kalau ditambahi dengan
semangat mencari kekuasaan alias ambisius.
-Dikutip dari “Olah Hati dan Budi” Teks misa
gereja St. Antonius Kotabaru Yogyakarta-
Langganan:
Postingan (Atom)