Beberapa waktu lalu, aku membaca suatu thread yang isinya menyatakan bahwa; “sikap seorang wanita saat PMS mencerminkan kepribadian wanita itu”. Saat itu juga aku menyatakan tidak setuju. Ketidaksetujuanku bukan karena aku seorang wanita, tetapi karena merasa pernyataan itu terlalu kejam. Kenapa kejam? Karena sebagian besar wanita yang mengalami PMS, biasanya berubah jadi garang, ganas, galak, dan kawan2nya lah (contohnya si penulis ini :p). 1000:1 orang yang lagi PMS bisa bersikap baik dan lembut. Kalau benar kepribadian wanita tercermin dari sikapnya saat PMS, berarti wanita baik dan lemah lembut di dunia ini sangat sedikit? wah..wah..wah... Sebagai wanita baik dan lemah lembut, aku ga terima dengan pernyataan itu!!! *sambil gebrak meja* #eh
PMS yang kepanjangannya Pre Menstrual Syndrome, adalah ... (emhhh, untuk lebih jelasnya silahkan buka2 gudang wiki aja ya. ato tanya mbah gugel juga boleh. lagi rada males nulis yg ilmiah2 gitu.) intinya adalah saat dimana hormon wanita menjadi kacau balau ketika menjelang/saat/setelah menstruasi. Syndome ini merupakan momok yang mengerikan bagi orang yang berada di dekat wanita yang sedang mengalami PMS, karena emosi wanita itu menjadi labil dan rapuh serapuh snack nori. Tidak ada yang bisa memprediksi apa yg membuat emosi dan kapan emosi tersebut akan meledak. Dari senyum bahagia bisa saja tiba-tiba menjadi ledakan amarah hanya dalam hitungan menit. Kurang lebih begitulah PMS.
Aku yang juga termasuk kategori wanita, yang pastinya juga pernah mengalami syndrome itu pun selalu merasa bahwa PMS merupakan suatu momok yang mengerikan. Jujur, saat mengalami PMS, aku merasa tidak mampu mengendalikan emosi dan mood-ku. Bagiku, ketidakmampuan ini menjadi siksaan tersendiri. Aku menjadi super sensitif, mudah marah dan sulit berpikir dengan jernih. Aku selalu merasa hanya punya 2 pilihan. Yang pertama membiarkan emosi itu keluar dan meledak, tapi bisa menyakiti orang lain. Atau yang kedua, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa emosi itu adalah efek PMS dan berjuang keras untuk meredamnya. Tapi efeknya emosiku akan meledak kedalam dan aku akan menangis sepanjang waktu tanpa sebab yang jelas. Setidaknya sejauh ini hanya ada pilihan itu yang bisa kulakukan saat PMS.
Dengan apa yang aku alami dan aku rasakan tentang PMS, aku merasa sangat tidak adil jika kepribadian seorang wanita dinilai dari sikapnya saat PMS. Bagiku, saat PMS adalah saat yang paling sulit untuk berpikir jernih. Segala emosi dan pikiran dikacaukan oleh hormon yang konon katanya lagi ga stabil. Ditambah lagi hampir seluruh badan terasa sakit/ngilu/pegel menjelang/saat hari-hari berdarah. Di saat seperti itu sangat sulit untuk bersikap manis. Daripada sikap saat PMS dinilai sebagai kepribadian, akan lebih tepat kalau dibilang, “kalau ingin melihat sikap terburuk wanita, lihatlah sikapnya saat PMS.” Bagiku, ini lebih fair.
Ada berbagai macam artikel, yang mengungkapkan bahwa PMS yang berupa emosi meledak-ledak sebenarnya bisa dihindari. Salah satunya dengan menciptakan suasana nyaman bagi wanita tsb. Aku tidak membantah, karena aku juga pernah merasakan bisa melalui PMS dengan tenang, bahagia, damai sejahtera. Tapi saat-saat itu adalah saat yang langka dan jarang terjadi. Karena untuk mewujudkan saat-saat seperti itu memerlukan kondisi, situasi dan toleransi yang terkombinasi dengan sempurna. Sayangnya ya itu, jarang banget bisa terjadi kayak gitu.
Mengakui sedang mengalami PMS adalah hal yang tidak mudah. Ego yang mendadak jadi tinggi, membuat gengsi untuk mengakui kalau sedang PMS. Karena biasanya orang PMS itu maunya menang sendiri dan merasa dirinya paling benar. Kalau disalahkan, pasti emosinya meledak. Apalagi kalau dibilangin "kamu tu lg PMS..." wah, bisa makin meledak-ledak rasanya. Aku pribadi mengakui, di saat seperti itu aku memang harus dimengerti. Dalam artian, jangan terlalu memikirkan apa yang kukatakan, jangan sakit hati atas kata-kata penuh amarah, pokoknya tiap omongan diiya-iyain aja lah. Udah diiya-iyain pun kadang masih saja tetep emosi. Apalagi kalau pake dibantah. Bisa perang dunia deh.hehehe... Jadi intinya tiap kata2 dan sikap tak mengenakkan lebih baik dimengerti saja dan jangan dimasukkan ke dalam hati. Saat hari-hari sudah normal, biasanya aku malu sendiri atas sikap-sikap konyolku. Tapi beruntung aku punya pacar yang bisa mengerti keadaanku, terutama di saat seperti itu. Jadi semua menjadi terasa lebih ringan.
Bagi sebagian orang, membicarakan tentang siklus bulanan pada laki-laki adalah hal yang tabu. Tapi bagiku tidak sama sekali. Bahkan aku merasa harus membicarakan hal itu dengan pacarku. Aku selalu katakan apa yang kurasakan di badanku dan perasaanku di saat seperti itu. Tidak perlu malu untuk membicarakannya. Bukan karena masalah tabu atau tidak, tapi karena hal itu sangat berkaitan dengan emosi, yang akan berujung pada perasaan. Dengan pengetahuan yang baik tentang keadaan wanita, lelaki akan menjadi lebih mudah dalam memahaminya. Dalam hal PMS, kalau pacar kita mengetahui siklus bulanan kita, mereka akan bisa memperkirakan kapan syndrome itu akan melanda. Jadi mereka juga bisa siap-siap untuk mengerti jika sewaktu-waktu emosi kita akan meledak. Syukur2 bisa membantu kita menangkal hal-hal buruk.hehe... Dan aku bersyukur pacarku selalu concern dengan hal seperti ini.
---
PMS tidak selalu akan dilalui dengan penuh emosi dan amarah. Aku pernah beberapa kali merasa sangat bahagia dalam saat-saat itu. Sangat-sangat bahagia sampai ke ubun-ubun. Jadi memang, PMS merupakan efek dari ketidakseimbangan hormon,entah apa yang mempengaruhinya. Tak selamanya PMS itu buruk.
This is my page. My space. I share what's in my head. Sometime it's inspiring thing. Sometime it's just vent of my mind. What's in this page is just a little piece(s) of my life. You can judge what I write. But not my life ;) - I write what I want to write. Because this is my space
Sabtu, 13 September 2014
Rabu, 06 Agustus 2014
Saya Kembali :)
Woaaa, kalo diibaratkan ruangan, halaman ini sekarang pasti sudah berdebu. Dua bulan lebih aku tidak menjamah blog ini. Terlalu banyak cerita yang seharusnya bisa kutulis di tempat ini. Tapi, belakangan aku terlalu menikmati dunia nyata. Jadi aku sering lupa untuk mengisi halaman ini lagi.hehe
Awal Juni lalu, aku resmi resign dari kantor pertamaku ( m a s s i n do ). Ada banyak alasan kenapa aku memutuskan untuk resign tahun ini. Salah satunya karena ada mimpi yang sempat terkubur pelan-pelan yang bangkit lagi dan membuatku ingin mencapainya (baca : rada mengkeret ). Sejak awal tahun 2013, aku mulai mempertimbangkan untuk mencoba memasuki dunia yang dulu pernah kukagumi itu. Sejak itu pula banyak motivasi yang muncul. Singkat cerita aku makin mantap untuk resign. Aku berencana untuk pulang ke Jogja, istirahat 2-3 bulan, sambil mempersiapkan diri untuk masuk dunia itu.
Alasan lainnya, aku ingin kembali dekat dengan keluarga, dan orang-orang terdekatku. Aku sempat menganggap bahwa alasan ini adalah alasan cengeng seorang perantau abal-abal sepertiku. Dengan kata lain, itu hanya karena homesick saja. Aku rasa 2-3 bulan akan cukup mengobati semua kerinduanku, dan setelah itu aku akan bisa kembali ke ibukota untuk mewujudkan mimpi lama itu.
Saat ini, aku sudah 2 bulan berada di Jogja. Tinggal bersama kedua orang tuaku. Dekat dengan kakak dan keponakanku yang makin hari makin unyu. Dekat dengan masyer. Dan tentu saja dekat dengan makhluk2 penggemarku: Onyet, Pong-pong, AO, dan anjing-anjing kecil lain yang belum kuberi nama. Tidak ketinggalan aku juga jadi lebih dekat dengan Pluto. Mereka semua adalah sumber semangatku.
Selama 1 bulan pertama aku merasakan kenyamanan yang amat sangat. Hidupku jauh lebih nyaman dari 2,5 tahun yang telah kulalui di Jakarta. Sudah pasti, aku merasa nyaman dengan semua yang ada di sekelilingku. Aku bisa menikmati hidupku dengan leluasa, tanpa beban dan tekanan. Lalu datanglah informasi bahwa ada lowongan magang Accounting di sebuah perusahaan game di Jogja. mereka membutuhkan tenaga untuk 1-2 bulan, katanya. Kuambil kesempatan itu. Kupikir waktunya sangat pas. Selama 1-2 bulan ke depan aku akan punya kegiatan, dan setelah itu aku bisa lanjut melaksanakan rencana-rencanaku.
Hidup dekat dengan keluarga. Hidup di lingkungan yang jauh dari hiruk pikuk, dan orang-orang yang penuh obsesi. Hidup di kota yang masih lekat dengan alam. Hidup di tempat yang mudah untuk mencari ketenangan.
Dulu saat masih di Jakarta, setiap sore aku pasti merasa badan sangat lelah dan kepala selalu pusing. Punggung dan leher selalu terasa seperti remuk, meskipun seharian kegiatanku hanya di kantor, dan aku bepergian hanya dengan duduk manis di angkot.
Sekarang, sejauh apapun aku berkendara, dan selelah apapun aku bekerja, aku tidak pernah merasakan hal itu lagi.
Dulu saat masih di Jakarta, ketika aku perlu hiburan, satu-satunya tempat yang masih dalam jangkauan adalah Mall. Ada banyak mall sebagai alternatif. Dan keadaan ini sepertinya mengajarkanku pada hedonisme. Kalau mau wisata alam, aku meluangkan banyak waktu dan tenaga untuk menjangkaunya. Yang ada hanya makin capek.
Sekarang, jika aku merasa penat, aku cukup berkeliling naik motor, ke tempat yang banyak pepohonan.
Apa yang kurasakan 2 bulan belakangan mengubah pandanganku. Aku ingin tetap tinggal di Jogja saja.Apa lagi yang mau aku cari? Hidup seperti ini sudah nyaman.
Lalu ada yang bilang, "gimana kamu mau maju, kalau kamu tetap di Jogja?"
Aku sendiri tidak tahu apa yang disebut dengan maju. Apakah itu kaya raya? Mungkin iya. Tapi makin hari aku makin berpikir,bahwa materi bukanlah segalanya.
Kakakku pernah bilang, "Sebanyak-banyaknya yang kita dapat pasti akan kurang. Sesedikit-sedikitnya yang kita dapat pasti akan cukup."
Aku merasa hidupku saat ini serba kecukupan. Aku cukup tenang bisa dekat dengan orang yang kusayang. Aku cukup nyaman tinggal di tempat yang jauh dari tekanan. Aku cukup bahagia karena aku bisa lebih dekat dengan alam. Aku cukup jauh dari yang namanya stress, dan cukup puas untuk selalu bisa bersyukur.
Mungkin aku bukanlah pejuang sejati. Aku mudah merasa puas, mudah merasa cukup. Tapi memang begitulah, tidak ada lagi yang ingin kucari. Semua sudah cukup kudapat.
Saya kembali. Saya tidak ingin pergi lagi.
Tapi, jika nanti mimpiku memanggil lagi, maka aku akan pergi jika hanya berbekal ikhlas hati.
Awal Juni lalu, aku resmi resign dari kantor pertamaku ( m a s s i n do ). Ada banyak alasan kenapa aku memutuskan untuk resign tahun ini. Salah satunya karena ada mimpi yang sempat terkubur pelan-pelan yang bangkit lagi dan membuatku ingin mencapainya (baca : rada mengkeret ). Sejak awal tahun 2013, aku mulai mempertimbangkan untuk mencoba memasuki dunia yang dulu pernah kukagumi itu. Sejak itu pula banyak motivasi yang muncul. Singkat cerita aku makin mantap untuk resign. Aku berencana untuk pulang ke Jogja, istirahat 2-3 bulan, sambil mempersiapkan diri untuk masuk dunia itu.
Alasan lainnya, aku ingin kembali dekat dengan keluarga, dan orang-orang terdekatku. Aku sempat menganggap bahwa alasan ini adalah alasan cengeng seorang perantau abal-abal sepertiku. Dengan kata lain, itu hanya karena homesick saja. Aku rasa 2-3 bulan akan cukup mengobati semua kerinduanku, dan setelah itu aku akan bisa kembali ke ibukota untuk mewujudkan mimpi lama itu.
Saat ini, aku sudah 2 bulan berada di Jogja. Tinggal bersama kedua orang tuaku. Dekat dengan kakak dan keponakanku yang makin hari makin unyu. Dekat dengan masyer. Dan tentu saja dekat dengan makhluk2 penggemarku: Onyet, Pong-pong, AO, dan anjing-anjing kecil lain yang belum kuberi nama. Tidak ketinggalan aku juga jadi lebih dekat dengan Pluto. Mereka semua adalah sumber semangatku.
Selama 1 bulan pertama aku merasakan kenyamanan yang amat sangat. Hidupku jauh lebih nyaman dari 2,5 tahun yang telah kulalui di Jakarta. Sudah pasti, aku merasa nyaman dengan semua yang ada di sekelilingku. Aku bisa menikmati hidupku dengan leluasa, tanpa beban dan tekanan. Lalu datanglah informasi bahwa ada lowongan magang Accounting di sebuah perusahaan game di Jogja. mereka membutuhkan tenaga untuk 1-2 bulan, katanya. Kuambil kesempatan itu. Kupikir waktunya sangat pas. Selama 1-2 bulan ke depan aku akan punya kegiatan, dan setelah itu aku bisa lanjut melaksanakan rencana-rencanaku.
Hidup dekat dengan keluarga. Hidup di lingkungan yang jauh dari hiruk pikuk, dan orang-orang yang penuh obsesi. Hidup di kota yang masih lekat dengan alam. Hidup di tempat yang mudah untuk mencari ketenangan.
Dulu saat masih di Jakarta, setiap sore aku pasti merasa badan sangat lelah dan kepala selalu pusing. Punggung dan leher selalu terasa seperti remuk, meskipun seharian kegiatanku hanya di kantor, dan aku bepergian hanya dengan duduk manis di angkot.
Sekarang, sejauh apapun aku berkendara, dan selelah apapun aku bekerja, aku tidak pernah merasakan hal itu lagi.
Dulu saat masih di Jakarta, ketika aku perlu hiburan, satu-satunya tempat yang masih dalam jangkauan adalah Mall. Ada banyak mall sebagai alternatif. Dan keadaan ini sepertinya mengajarkanku pada hedonisme. Kalau mau wisata alam, aku meluangkan banyak waktu dan tenaga untuk menjangkaunya. Yang ada hanya makin capek.
Sekarang, jika aku merasa penat, aku cukup berkeliling naik motor, ke tempat yang banyak pepohonan.
Apa yang kurasakan 2 bulan belakangan mengubah pandanganku. Aku ingin tetap tinggal di Jogja saja.Apa lagi yang mau aku cari? Hidup seperti ini sudah nyaman.
Lalu ada yang bilang, "gimana kamu mau maju, kalau kamu tetap di Jogja?"
Aku sendiri tidak tahu apa yang disebut dengan maju. Apakah itu kaya raya? Mungkin iya. Tapi makin hari aku makin berpikir,bahwa materi bukanlah segalanya.
Kakakku pernah bilang, "Sebanyak-banyaknya yang kita dapat pasti akan kurang. Sesedikit-sedikitnya yang kita dapat pasti akan cukup."
Aku merasa hidupku saat ini serba kecukupan. Aku cukup tenang bisa dekat dengan orang yang kusayang. Aku cukup nyaman tinggal di tempat yang jauh dari tekanan. Aku cukup bahagia karena aku bisa lebih dekat dengan alam. Aku cukup jauh dari yang namanya stress, dan cukup puas untuk selalu bisa bersyukur.
Mungkin aku bukanlah pejuang sejati. Aku mudah merasa puas, mudah merasa cukup. Tapi memang begitulah, tidak ada lagi yang ingin kucari. Semua sudah cukup kudapat.
Saya kembali. Saya tidak ingin pergi lagi.
Tapi, jika nanti mimpiku memanggil lagi, maka aku akan pergi jika hanya berbekal ikhlas hati.
Minggu, 18 Mei 2014
Masih Ada Waktu
waktu terus berlalu seiring ragu yang kian menderu,ragu akan suatu kehidupan yang baru
keraguan itu membawa pikiranku ke masa lalu,dan meyakinkanku agar ku tak usah ragu
ragu atas keraguan itu membuat hariku terkadang pilu
saran untuk menunggu seorang yang baru mulai mengganggu pikiranku,benarkah aku harus menunggu?
masa lalu tidak harus menjadi hidup baru,kata orang padaku
jika kau tak mampu,jangan paksakan dirimu
ahhh,ragu ragu ragu...
benarkah kamu itu yang akan disebut satu?
lalu kenapa semakin hari kamu makin membuatku ragu?
masih ada waktu untuk memastikan itu...
jikalau bukan kamu,pasti ada satu yang juga sedang menunggu...
menunggu untuk menyambut hidup baru...
ya,masih ada waktu...
keraguan itu membawa pikiranku ke masa lalu,dan meyakinkanku agar ku tak usah ragu
ragu atas keraguan itu membuat hariku terkadang pilu
saran untuk menunggu seorang yang baru mulai mengganggu pikiranku,benarkah aku harus menunggu?
masa lalu tidak harus menjadi hidup baru,kata orang padaku
jika kau tak mampu,jangan paksakan dirimu
ahhh,ragu ragu ragu...
benarkah kamu itu yang akan disebut satu?
lalu kenapa semakin hari kamu makin membuatku ragu?
masih ada waktu untuk memastikan itu...
jikalau bukan kamu,pasti ada satu yang juga sedang menunggu...
menunggu untuk menyambut hidup baru...
ya,masih ada waktu...
Minggu, 11 Mei 2014
Teguran
Selamat malam dunia... Malam ini aku sedang tiduran di sofa di rumah kakakku di Bandung. Ya,weekend ini aku ke Bandung lagi. Aku capcus dari Jakarta siang tadi. Misi utama di Bandung kali ini adalah aku mau terapi/refleksi/apalah namanya,yg pada intinya aku mau beresin badan yang belakangan berasa ada yang ga beres. Jadi ceritanya hari ini terapist langganan keluargaku itu lagi dateng ke Bandung. Mumpung ada kesempatan,aku dateng ke Bandung aja deh,biar badan cepet sehat...
Siang tadi di kereta,aku sempat membaca tulisanku di blog ini saat perjalanan naik Taksaka ke Jogja. Entah kenapa aku merasa ilfil sendiri dengan tulisan itu. Temanya aneh,isinya aneh,dan aneh juga aku ngomongin hal2 kayak gitu.. Semacam narsis..haha.. Rasanya pengen hapus tulisan itu,tapi apa yg tertulis di situ benar adanya. Aku tadinya pengen mengulas tulisan itu. Tapi daripada makin aneh,aku diamkan saja. Kututup halaman blogQ dan kusimpan hapeQ. Kuambil bukunya Paulo Coelho,Aleph,dan sepanjang perjalanan ke Bandung kuhabiskan dengan membaca buku itu.
Malam ini aku ingin berkisah. Sejak terakhir kali pulang ke Jogja,aku merasa hidupku tidak tenang. Kemudian beberapa hari belakangan aku merasa mendapat teguran. Teguran dari Tuhan melalui semesta dan sesama.
Teguran itu berawal dari hari Jumat lalu,tiba-tiba aku sangat ingin ikut Persekutuan Doa hari Jumat di kantor. Padahal biasanya aku sangat malas untuk ikut. Tema yg dibawakan pembicara hari itu adalah tentang kekhawatiran. Tuhan sudah bersabda agar kita jangan khawatir tentang apapun di dunia ini. Sang pembicara menambahkan,agar bs lebih bahagia kita tidak perlu menyesali masa lalu,dan janganlah mengkhawatirkan masa depan.
Teguran berlanjut hari ini. Saat membaca Aleph,aku aku menemukan di beberapa bagian tertulis bahwa janganlah kita terlalu memikirkan masa lalu dan masa depan. Tapi pikirkanlah masa kini,saat ini,waktu yang sedang kita jalani. Aku masih belum menyadari bahwa ini adalag teguran.
Lalu,saat aku sedang diterapi tadi,tiba-tiba pak terapist berpesan padaku,agar aku tidak terlalu banyak memikirkan hal-hal yang belum terjadi -masa depan-. Jalani saja apa yang di depan mata,yang terjadi biarlah terjadi. Jangan terlalu khawatir. Terutama saat sebelum tidur,kurangi pikiran dan kekhawatiran,agar tidurnya jadi lebih berkualitas.
Omg,what did he say??!
Saat itu aku langsung teringat dengan pesan pembicara di Persekutuan Doa dan juga teringat cerita Paulo Coelho di Aleph. Saat itu juga aku merasa aku sedang ditegur.
Ya,belakangan aku memang terlalu cemas akan hal-hal yang belum terjadi. Hal-hal yang di luar kendaliku. Hal-hal yang mungkin tak seburuk yang kubayangkan. Mungkin saja kekhawatiran ini yang membuatku tidak sehat. Tidak sehat pikiran yang membuat badanku juga tidak sehat karena tidur yang kurang berkualitas.
Ya,mungkin saja itu yang terjadi padaku. Belum terbukti kebenarannya sih. Tapi masuk akal juga.
Ada baiknya jika kita mengurangi kekhawatiran kita. Ada baiknya kita santai dalam menghadapi masalah. Ada baiknya kita mengistirahatkan otak kita dari hal-hal di luar kendali kita. Pikiran sehat akan membuat badan sehat.
Yakk....mari kita sukseskan menyehatkan badan kita. Dan saya mau tidur dulu,soalnya seluruh badan rasanya ngilu abis 'dianiaya'. Semoga besok pagi bangun pagi dengan pikiran dan badan yang sehat. Sekali lagi,selamat malam dunia.... :)
ps: buat mas yer yang lagi sakit jg,cepet sembuh yaa... :*
Siang tadi di kereta,aku sempat membaca tulisanku di blog ini saat perjalanan naik Taksaka ke Jogja. Entah kenapa aku merasa ilfil sendiri dengan tulisan itu. Temanya aneh,isinya aneh,dan aneh juga aku ngomongin hal2 kayak gitu.. Semacam narsis..haha.. Rasanya pengen hapus tulisan itu,tapi apa yg tertulis di situ benar adanya. Aku tadinya pengen mengulas tulisan itu. Tapi daripada makin aneh,aku diamkan saja. Kututup halaman blogQ dan kusimpan hapeQ. Kuambil bukunya Paulo Coelho,Aleph,dan sepanjang perjalanan ke Bandung kuhabiskan dengan membaca buku itu.
Malam ini aku ingin berkisah. Sejak terakhir kali pulang ke Jogja,aku merasa hidupku tidak tenang. Kemudian beberapa hari belakangan aku merasa mendapat teguran. Teguran dari Tuhan melalui semesta dan sesama.
Teguran itu berawal dari hari Jumat lalu,tiba-tiba aku sangat ingin ikut Persekutuan Doa hari Jumat di kantor. Padahal biasanya aku sangat malas untuk ikut. Tema yg dibawakan pembicara hari itu adalah tentang kekhawatiran. Tuhan sudah bersabda agar kita jangan khawatir tentang apapun di dunia ini. Sang pembicara menambahkan,agar bs lebih bahagia kita tidak perlu menyesali masa lalu,dan janganlah mengkhawatirkan masa depan.
Teguran berlanjut hari ini. Saat membaca Aleph,aku aku menemukan di beberapa bagian tertulis bahwa janganlah kita terlalu memikirkan masa lalu dan masa depan. Tapi pikirkanlah masa kini,saat ini,waktu yang sedang kita jalani. Aku masih belum menyadari bahwa ini adalag teguran.
Lalu,saat aku sedang diterapi tadi,tiba-tiba pak terapist berpesan padaku,agar aku tidak terlalu banyak memikirkan hal-hal yang belum terjadi -masa depan-. Jalani saja apa yang di depan mata,yang terjadi biarlah terjadi. Jangan terlalu khawatir. Terutama saat sebelum tidur,kurangi pikiran dan kekhawatiran,agar tidurnya jadi lebih berkualitas.
Omg,what did he say??!
Saat itu aku langsung teringat dengan pesan pembicara di Persekutuan Doa dan juga teringat cerita Paulo Coelho di Aleph. Saat itu juga aku merasa aku sedang ditegur.
Ya,belakangan aku memang terlalu cemas akan hal-hal yang belum terjadi. Hal-hal yang di luar kendaliku. Hal-hal yang mungkin tak seburuk yang kubayangkan. Mungkin saja kekhawatiran ini yang membuatku tidak sehat. Tidak sehat pikiran yang membuat badanku juga tidak sehat karena tidur yang kurang berkualitas.
Ya,mungkin saja itu yang terjadi padaku. Belum terbukti kebenarannya sih. Tapi masuk akal juga.
Ada baiknya jika kita mengurangi kekhawatiran kita. Ada baiknya kita santai dalam menghadapi masalah. Ada baiknya kita mengistirahatkan otak kita dari hal-hal di luar kendali kita. Pikiran sehat akan membuat badan sehat.
Yakk....mari kita sukseskan menyehatkan badan kita. Dan saya mau tidur dulu,soalnya seluruh badan rasanya ngilu abis 'dianiaya'. Semoga besok pagi bangun pagi dengan pikiran dan badan yang sehat. Sekali lagi,selamat malam dunia.... :)
ps: buat mas yer yang lagi sakit jg,cepet sembuh yaa... :*
Kamis, 01 Mei 2014
Cerita Dari Dalam Kereta
Pagi ini aku sedang berada di dalam kereta lagi. Kali ini naik Argo Parahyangan Tujuan Bandung. Ya,aku akan meninggalkan Jakarta sejenak untuk berlibur. Meninggalkan segala kejenuhan dan kelelahan. Lelah untuk berusaha memahami dan menerima sesuatu yang sangat bertentangan dengan pikiranku. Aku bakalan istirahat di Bandung untuk mengistirahatkan badanku yg masih lelah setelah pulang ke Jogja beberapa minggu lalu.
Pagi tadi aku berangkat dari kost dengan semangat dan senang hati. Bapak supir taksi yg mengantarkanku ke stasiun cukup baik,ramah tapi tidak kepo. Itu membuat moodku makin baik. Sesampainya di stasiun aku menghela nafas ketika melihat stasiun yg sangat ramai. Sambil mencari tempat tunggu,kupasang headsetku untuk mendengarkan musik. Kupasang sebelah kanan saja,agar ak bisa mendengar pengumuman jika kereta sudah datang.
Setelah menunggu beberapa saat,akhirnya kereta tiba juga. Lalu aku masuk dan mencari tempat dudukku. Setelah merasa nyaman di tempat duduk,aku memasang headset sebelah kiri yang belum terpasang. Taukah apa yang kudapati? Suara pecah dari headset kiriku. Seketika moodku jadi kacau. Hal ini bahkan lebih buruk dari headset mati total. >_<
Telingaku memang cukup peka dalam mendengar kejernihan suatu suara. Aku bisa merasa sangat tidak nyaman saat mendengar suara musik dari segala jenis perangkat yang tidak bagus. Kata mas Yer,kemungkinan aku ada 'gejala' audiophile;yaitu sangat peka dalam memperhatikan kualitas suara.
Aku memang gampang pusing saat mendengar suara musik dari pengeras suara yang abal2. Aku juga enggan memakai headset ecek2 yang membuat telingaku terasa panas saat mendengarkan musik. Saat ini headsetku rusak,suaranya pecah sebelah. Memang tidak sampai membuatku pusing. Tapi aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Mau tidak mau aku harus melepas headset sebelah kiri,atau moodku akan berantakan.
Saat ini rasanya aku ingin kembali ke kost,mengambil kartu garansi,dan ke service center headsetku ini buat klaim garansinya...huhuhu...
Okelah,tidak banyak yg bisa kulakukan. Semoga beberapa hari kedepan Bandung bisa menghiburku...
Bandung,i'm coming... Be nice to me yaa...
Pagi tadi aku berangkat dari kost dengan semangat dan senang hati. Bapak supir taksi yg mengantarkanku ke stasiun cukup baik,ramah tapi tidak kepo. Itu membuat moodku makin baik. Sesampainya di stasiun aku menghela nafas ketika melihat stasiun yg sangat ramai. Sambil mencari tempat tunggu,kupasang headsetku untuk mendengarkan musik. Kupasang sebelah kanan saja,agar ak bisa mendengar pengumuman jika kereta sudah datang.
Setelah menunggu beberapa saat,akhirnya kereta tiba juga. Lalu aku masuk dan mencari tempat dudukku. Setelah merasa nyaman di tempat duduk,aku memasang headset sebelah kiri yang belum terpasang. Taukah apa yang kudapati? Suara pecah dari headset kiriku. Seketika moodku jadi kacau. Hal ini bahkan lebih buruk dari headset mati total. >_<
Telingaku memang cukup peka dalam mendengar kejernihan suatu suara. Aku bisa merasa sangat tidak nyaman saat mendengar suara musik dari segala jenis perangkat yang tidak bagus. Kata mas Yer,kemungkinan aku ada 'gejala' audiophile;yaitu sangat peka dalam memperhatikan kualitas suara.
Aku memang gampang pusing saat mendengar suara musik dari pengeras suara yang abal2. Aku juga enggan memakai headset ecek2 yang membuat telingaku terasa panas saat mendengarkan musik. Saat ini headsetku rusak,suaranya pecah sebelah. Memang tidak sampai membuatku pusing. Tapi aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Mau tidak mau aku harus melepas headset sebelah kiri,atau moodku akan berantakan.
Saat ini rasanya aku ingin kembali ke kost,mengambil kartu garansi,dan ke service center headsetku ini buat klaim garansinya...huhuhu...
Okelah,tidak banyak yg bisa kulakukan. Semoga beberapa hari kedepan Bandung bisa menghiburku...
Bandung,i'm coming... Be nice to me yaa...
Selasa, 29 April 2014
Heran
Hari makin berlalu. Waktu juga berjalan makin cepat. Perubahan akan segera terjadi, sesuatu yang semula kunanti-nanti. Awalnya segalanya terlihat indah, dan aku tidak sabar untuk segera menyongsong perubahan itu. Segala rencana mulai tersusun. Ahh, segalanya makin terlihat baik di depan sana...
Satu persatu, segala hal yang makin dekat itu makin diperjelas. Tapi, satu persatu perubahan justru mengaburkan hal-hal yang sebelumnya sudah jelas. Yang dulu halus kini berubah jadi kasar. Yang dulu mengagumkan kini jadi membingungkan. Yang dulu sering menyerap air mata, sekarang justru sering memerasnya...
Heran.. Aku heran dengan segala proses ini.. Makin diperjelas kok malah makin ga jelas...
Satu persatu, segala hal yang makin dekat itu makin diperjelas. Tapi, satu persatu perubahan justru mengaburkan hal-hal yang sebelumnya sudah jelas. Yang dulu halus kini berubah jadi kasar. Yang dulu mengagumkan kini jadi membingungkan. Yang dulu sering menyerap air mata, sekarang justru sering memerasnya...
Heran.. Aku heran dengan segala proses ini.. Makin diperjelas kok malah makin ga jelas...
Kamis, 13 Maret 2014
Rock N Roll Night
Aku ga bisa berkata2 untuk menggambarkan kepuasanku nonton konser Avril Lavigne semalam. Aku ga punya gambar yang bisa membuktikan keseruannya. Malam tadi, Avril benar2 Rock N Roll!!! Mantap!!! Suasananya membuatku lupa segalanya, bahkan karena saking menikmati suasana, aku tak berpikir untuk mengambil gambarnya! Thank you Avril fot the great night! :)
Langganan:
Postingan (Atom)