Tampilkan postingan dengan label just share aja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label just share aja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Mei 2010

Belajar menjadi berbeda

Sabtu,8 Mei 2010. Hari itu aku menjalani berbagai kegiatan yang cukup padat. Perjalanan panjang dan berbagai kegiatan, yang cukup melelahkan. Jam 11 malam, aku baru aja selesai mempersiapkan bahan-bahan sekolah minggu bersama teman-temanku. Persiapan yang sebenarnya hal kecil, tapi butuh ketelatenan. Apalagi malam itu terasa melelahkan karena perjalanan dan kegiatan di siang harinya.

Sebelumnya, di sabtu pagi setelah bangun tidur, sesuai rencana semula, aku dan teman-temanku akan mengunjungi tempat Ziarah baru bagi umat Katolik-agama yang kupercayai- di daerah Kulon Progo, Yaitu Goa Maria Lawangsih. Kami semua sama-sama belum tahu, dimana tepatnya letak Goa Maria Lawangsih. Berdasarkan informasi dari teman yang sudah pernah berkunjung ke sana, kami berangkat dengan penuh semangat. Kami belum tahu bagaimana medan yang akan kami lalui. Yang kami tahu, tempat itu berada di daerah pegunungan. Kami mengira jalan yang kami lalui biasa-biasa saja. Tapi perkiraan kami tidak sesuai dengan kenyataan. Ternyata, jalan menuju tempat Ziarah baru itu merupakan jalan di pegunungan yang terjal. Sangat terjal, dan panjang. Kami tak menyangka bahwa perjalanan akan se-mengerikan dan se-melelahkan itu. Motor yang kami pakai hamper saja tidak kuat saat jalan menanjak. Kami berjalan sangat pelan. Sehingga perjalanan itu terasa sangaaaat panjaaang….
Tapi sesampainya di sana, Kami tidak kecewa. Kami mendapatkan suasana yang sangat adem, sunyi, nyaman. Tempat yang tepat untuk mencari ketenangan. Perjalanan yang mendebarkan dan melelahkan seolah terhapus dengan apa yang kami peroleh di Goa Maria Lawangsih itu. Tempat doa yang adem, membuat badan dan pikiran juga ikut adem, suasana yang tenang, tempat doa yang sunyi, dan diiringi dengan suara alam khas hutan, serta suara air mengalir bergemericik dan tetesan air dari dinding goa, yang sangat mendukung untuk memperoleh ketenangah batin.

Saat perjalanan pulang, kami melewati pemukiman penduduk(yang juga kami lewati saat berangkat), yang saat itu banyak penduduk yang sedang beraktifitas. Kami melewati mereka begitu saja, tanpa mengucap permisi. Sampai akhirnya ada warga yang berseru “nggih,monggo” (artinya “ya,silahkan..”) Kata-kata tersebut merupakan jawaban dari kata “permisi” dalam bahasa jawa. Ya, kami disindir. Kejadian kecil itu membuat temanku jadi terinspirasi untuk melakukan sesuatu yang berbeda.

Setelah perjalanan pulang kami berakhir, kami melaksanakan tugas kami, yaitu bertugas jaga parkir di Gereja. Biasanya kami bertugas hanya menempelkan karcis parkir, menunggu misa selesai, dan menarik kembali karcis plus uang seikhlasnya dari umat yang selesai misa. Semua itu kami lakukan sambil mengobrol. Terkadang sambil bercanda.

Temanku yang tadi merasa tersindir dengan ucapan seorang penduduk di sekitar tempa Ziarah mulai menyampaikan ide-nya untuk melakukan hal yang berbeda, berdasarkan kejadian yang dialami di jalan tadi. Kami ditantang untuk melakukan 3S(senyum salam sapa) seperti moto pegawai pom bensin, kepada seluruh umat yang datang, saat kami menempelkan dan menarik kembali karcis parkir. “Selamat sore pak,bu.. Silahkan maju” kurang lebih seperti itu, saat menempelkan karcis parkir. Dan “Terimakasih pak, bu… Selamat Jalan, hati-hati di jalan…” saat menarik uang dan karcis parkir kembali. Saat mendengar ide itu, kami semua hanya tertawa. Malu untuk melakukannya. Hal itu terasa sangat aneh. Tapi karena merasa tertantang, aku dan teman-teman mau melakukannya. Meskipun awalnya kami terkesan tidak serius, karena kami merasa canggung, dan menutupi rasa itu dengan tertawa. Saat aku mencoba, pertama kali aku merasa malu. Tapi saat aku mendapatkan respon yang baik, saat umat yang aku sapa kembali menyapaku, dan tersenyum, aku merasakan kebahagiaan tersendiri. Aku benar-benar merasa senang, saat aku bisa membuat orang lain tersenyum padaku, dengan tulus. Orang yang saat datang sedikit cemberut, saat kami sapa, mereka tersenyum. Mereka terlihat sangat senang. Sensasi saat melakukan hal itu sangat luar biasa. Kali ini aku tidak lebay. Benar-benar sangat senang saat bisa melihat dan merasakan hal itu. Tidak sampai di situ saja. Saat misa selesai, sebagian besar umat malah justru menyapa kami terlebih dulu. Woow! Kami merasa sangat dihargai.

Memang, awalnya kami malu untuk memulai. Tapi saat kami mencoba memberanikan diri untuk memulai, kami dapat merasakan hasilnya. Ya, sesuai kata yang diucapkan temanku saat mencoba mengajak kami untuk memulai hal yang berbeda; “selalu ada yang pertama dalam segala hal” memang sulit untuk menjadi yang pertama dan memulai sesuatu yang berbeda. Tapi asalkan ada niat, kemauan dan keberanian untuk memulai menjadi berbeda, kita pasti bisa! Let’s try…


-Dicuekin saat kita menyapa orang, ternyata sangat menjengkelkan dan menyakitkan. Hal ini mengingatkan kami dengan pegawai pom bensin saat melayani kita, yang sering kita cuekin. Setelah penngalaman sore ini di tempat parkir gereja, kami berniat untuk membalas sapaan mereka. Semoga kami bisa selalu ingat akan apa yang kami alami hari ini-

Kamis, 06 Mei 2010

Tentang Tertawa

Tentunya kita semua sudah tahu kalau tertawa itu menyehatkan. Selain sehat untuk jiwa kita, Tertawa juga bisa menyehatkan fisik kita, karena saat tertawa banyak atau bahkan mngkin semua bagian tubuh kita bergerak, dan jantung juga ikut terpacu. Jadi mungkin setara dengan berolahraga. Udah banyak penelitian dari para dokter atau para pakar kesehatan yang menyatakan bahwa tertawa itu menyehatkan, dan juga ada pembuktian dari orang yang menderita sakit yang cukup berat, dengan terapi tertawa, mnertawakan dirinya sendiri selama 15menit sehari, dia bisa bertahan hidup lebih lama.

Tapi tahukah anda kalau perbedaan obyek yang kita tertawai juga mempunyai pengaruh berbeda bagi tubuh kita?Hari ini, aku melihat tayangan Dorce inspiration, yang dalam talkshownya mendatangkan seorang terapis tertawa. Kata terapis itu, Menertawakan diri sendiri jauh lebih menyehatkan daripada menertawakan orang lain. Karena kalau kita menertawakan diri kita sendiri, baik menertawakan setiap keanehan dalam bentuk fisik kita atau menertawakan sikap kita yang aneh atau memalukan, maka seluruh kelenjar yang ada di tubuh kita, semuanya bekerja. Tapi kalau menertawakan orang lain, hanya sedikit, bahkan hampir tidak ada kelenjar yang bekerja secara optimal.

Aku kurang tahu bagaimana penjelasan ilmiahnya. Tapi buatku pernyataan bahwa menertawakan diri sendiri lebih bagus daripada menertawakan orang lain bisa diterima. Pengaruh secara fisiknya, kita tidak tahu secara pasti. Tapi kalau dirasakan, ada benarnya juga, bahwa secara psikis, menertawakan diri sendiri lebih bijak daripada menertawakan orang lain. Tertawa akan menjadikan bahagia. Tapi kalau ditertawakan, justru menyakiti hati. Kalau kita menertawakan orang lain, itu artinya kita berbahagia di atas penderitaan orang lain. Lain hal-nya kalau kita menertawakan diri sendiri. Kita bisa bahagia, tanpa harus menyakiti orang lain. Jadi selain fisik kita jadi sehat, jiwa kita juga sehat, karena tidak menyakiti orang lain. :)

Soooo, agar kita bisa menjaga kesehatan, bahkan memperoleh kesehatan yang gratis dan gampang, mari kita mulai belajar menertawai diri kita sendiri, setiap hari, mulai saat ini..

Selasa, 23 Februari 2010

kemakan deh...

Mempunyai kartu member sebuah toko memang mempunyai daya untuk mengikat para pemegang kartunya untuk selalu berbelanja di toko tsb. Hanya dengan iming-iming diskon dan poin-poin yang jika dikumpulkan dapat ditukar dengan voucher atau produk-produk menarik, banyak orang tertarik untuk menjadi member/pemegang kartu itu. Termasuk yang bikin tulisan ini, yang pernah tertarik untuk memiliki member card di sebuah department store, karena tertarik dengan diskon-diskon yang ditawarkan, dan poin-poin yang bisa dikumpulkan yang nantinya akan diundi dengan hadiah-hadiah menarik.

Jadi, waktu itu aku lagi belanja di suatu dept store. Waktu bayar, sama bagian kasir ditawari buat bikin member card, yang mana dg member card itu bisa mendapatkan diskon tiap kali belanja di situ, di banyak restoran, salon, dll, dan juga kesempatan buat ikut undian dg berbagai hadiah menarik.. Saat itu aku dikasih liat brosur-brosurnya juga. Buat nyenengin mbaknya, aku akhirnya blg mau. Eeee, lha kok taunya disuruh bayar Rp 10.000,- buat bikin tu kartu.. yo weis lah, dah terlanjur meng-iya-kan..
Ternyata punya kartu itu membuat aku sedikit 'fanatik' dengan dept store itu. Mau beli apaaaa aja, tempat pertama yg aku pikirkan adalah tempat itu. Sekecil apa pun barangnya, sesedikit apa pun barangnya, dan kapanpun itu, selalu pengennya beli disitu aja. Pikirku buat sekalian nambah poin. Dan punya kartu itu juga pernah bikin susah. Pernah suatu malam aku butuh suatu barang. Sebenernya aku bisa aja beli di toko 24jam. Tapi kok ya aku masih bisa-bisanya mikir buat beli di dept store itu. Rela menunggu semalem, cuma buat nambah poin.. walah, parah banget... :S
Setelah aku pikir-pikir, ga ada gunanya aku punya member card itu. Hanya dengan serangkaian iming-iming yang ga jelas dan kadang agak 'menipu' dengan permainan kata-kata yang disertai tanda bintang (*) , aku tertarik. Bukannya mendapatkan segala iming-iming itu tapi aku merasakan kerepotan-kerepotan karena selalu berorientasi ke sana..ckckck...

Tapi sekarang kartu itu ilang.. Dan aku sama sekali ga berniat buat ngurus, lapor, bikin ulang, dll. Ribet! dan pastinya membuang waktu hanya untuk sesuatu yang ga jelas(untuk kedua kalinya)

Intinya? Kemakan deh... Aku udah kemakan sama cara promosi dept store itu. Cara promosi dengan iming-iming itu ternyata sukses. Membuat costomernya lebih mengutamakan segala iming-iming itu daripada kebutuhannya sendiri. Jadi aku nggak mau kemakan lagi! bgmn dg kamu?