Jumat, 07 Agustus 2015

Bersih atau Kotor

Ceritanya, sore tadi aku membersihkan dompet putihku, yang beberapa hari lalu terkena cream neorheumacyl cream, yang membuat dompet dan isi tasku berbau seperti tukang pijet urut. Dengan harapan bau itu bisa hilang, aku mengelap dompet bututku itu dengan tissue basah. Namun whooop, hanya dengan sekali usapan, tissue basah menjadi kotor dekil banget :D. Lalu aku mengingat-ingat kapan terakhir kali aku membersihkannya. Sejauh ingatanku, terakhir kali adalah ketika aku masih bekerja di Jakarta. Dan yak, itu berarti udah lebih dari setahun. :D

Sebagai penyuka putih, wajar jika aku memiliki beberapa benda berwarna putih. Tapi beberapa orang menganggap hal itu tidak wajar. Saat aku membeli benda berwarna putih, pasti orang yang menemaniku membeli akan berkomentar "kok putih sih? kan gampang kotor..." yaaa, kalo akunya udah suka begimana donk?

Kalau aku sudah menyukai sesuatu, aku akan menyukainya tanpa alasan. Jika orang berkata "gampang kotor", bagiku itu bukanlah masalah. Apakah jika benda itu berwarna hitam, artinya tidak gampang kotor? Kotor mah kotor kotor aja. Cuma, memang warna hitam kalau kotor tidak akan terlihat kotor. Tapi bukan berarti hitam itu bersih kan?

Buatku, sederhana aja. Biar kotor, biar terlihat kotor, itu bukanlah masalah. Toh yang terlihat bersih juga belum tentu benar-benar bersih... :)

Happy weekend everyone...

Jumat, 19 Juni 2015

Cinta dan Dia

Jatuh cinta, berjuta rasanya. Begitu kata Titiek Puspa. Dan begitu pula yang kurasakan belakangan ini; bahagia, penuh tawa, penuh seyum, penuh harap, bahkan kadang merasa dunia hanya milik berdua. Tak hanya perasaan bahagia, rasa khawatir, sedih, bahkan tangisan juga pernah muncul sesekali. Begitulah, berjuta rasanya.

Bagi yang melihat orang jatuh cinta, mungkin akan menganggap bahwa cinta bisa membutakan seseorang. Mungkin juga ada beberapa orang yang mengira aku telah dibutakan oleh cinta.
Aku belum lama mengenal Dia. Tapi dalam waktu yang singkat -singkat bagi beberapa orang- aku bisa menyatakan bahwa Dia adalah segalanya bagiku. Bagi orang lain, ini semua terlalu singkat. Kami pernah (hampir) jatuh. Lalu dalam sekejap kami kembali bangkit seperti sedang dimabuk cinta dan jadi orang paling bahagia sedunia.

Banyak orang yang menganggap proses kedekatan kami terlalu cepat. Namun bagi kami proses itu sudah berlangsung cukup lama. Sejak kami masih terpuruk dalam masalah kami masing-masing, semesta sudah mulai berproses untuk mempertemukan kami. Saat kami benar-benar bertemu, kami saling menguatkan dalam sakit dan lelah kami -sakit dan lelah dalam penantian panjang-. Kami saling memberi harapan, dan ya, dalam sekejap kami dekat. Kami merasa tenang dan bahagia saat kami bersama.

Ada kemungkinan bahwa rasa bahagia ini adalah euforia semata, karena kami sama-sama menemukan sosok yang kami cari, kami perlukan, kami inginkan. Mungkin banyak orang yang mengira demikian, Mungkin ada yang meragukan kami. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk mematahkan keraguan itu. Kami hanya bisa membuktikannya, dan hanya waktu yang dapat membantu kami.

Aku sudah memikirkannya dengan sungguh-sungguh, merasakan sedalam-dalamnya, bahwa dengan Dia aku mempunyai keyakinan. Dengan dia aku mendapatkan harapan. Dan dengan Dia aku merasakan cinta. Aku bukan sekedar menginginkannya. Aku membutuhkannya.

Dia menunjukkan pada dunia seberapa berartinya aku baginya. Sebagai seorang perempuan yang lemah, aku merasa kuat karena aku merasa dibutuhkan. Dari hari ke hari perasaanku makin kuat. Dari hari ke hari aku ingin Dia bahagia. Dari hari ke hari aku makin tak bisa jauh darinya. Aku bahagia dengan perhatiannya padaku. Aku merasa leluasa dengan ruang yang diberikannya untukku. Semua yang kurasakan ini bertumbuh, makin besar dan makin kuat setiap harinya.

Yang aku tahu, euforia tidaklah bertumbuh. Euforia pelan-pelan akan meredup dan mati dengan sendirinya, seiring berlalunya waktu. Yang kuyakini, ini bukanlah euforia. Ini adalah perasaan yang selalu hidup. Perasaan yang selama ini belum pernah kutemukan maknanya. Perasaan yang aku belum pernah tegas menyatakannya. Perasaan yang akan selalu tumbuh, selalu hidup selama aku masih bernafas. Perasaan yang disebut cinta...
Ya, Aku cinta Dia.


for my beloved Putra Para Dia
Jogja, Juni 2015
-Niken-

Sabtu, 02 Mei 2015

Waktu [II]

Aku merasa, waktu merupakan dimensi yang unik.

Tiga tahun belakangan aku terkungkung dalam kegalauan mengenai waktu. Aku terkurung dalam penantian tanpa kepastian, dan dalam ketidakpastian itu, waktu selalu menjadi hal yang selalu kupertanyakan. Sudah berapa lama aku menunggu? Sampai kapan aku akan menunggu? Kapan penantian ini akan berakhir? Waktu, kenapa kau begitu menyiksaku?

Dalam kurun waktu itu, aku menjalani hariku dengan ketidakpastian, namun masih mencoba berusaha agar aku tetap memiliki harapan. Harapan bahwa apa yang kutunggu memang sedang benar-benar berusaha untuk membuatku berhenti menunggu. Seiring dengan penantian dalam ketidakpastian itu, pelan-pelan waktu mengikis harapan dan keyakinanku. Semakin lama hidup dalam ketidakpastian, aku semakin yakin bahwa selama ini apa yang kutunggu tak akan ada ujungnya. Lalu bagaimana dengan waktu yang sudah kuhabiskan untuk menunggu? Aku tidak dapat mengulang lagi. Perlahan hatiku kebas karena penantian ini.

Terkadang aku mempersalahkan waktu karena aku merasa tersiksa saat ia berlalu. Menghitung tiap hari, tiap minggu, tiap bulan yang berlalu tanpa ada perubahan. Waktu.... kenapa kamu selalu menyeret hatiku? Waktu... Kapan kau berhenti menggores hatiku dengan fakta seberapa lama aku mengunggu, dan ketidakpastian yang selalu kutunggu?

Saat ini, aku merasa waktu sedang "membayar" atas penantianku. Waktu sedang menukar waktu yang sudah kuhabiskan. Aku merasa bahwa waktu sedang mempersiapkan sesuatu yang indah untukku, dan semua itu kudapat dalam waktu yang singkat! Aku memperoleh keyakinan dan kepastian dalam waktu tak lebih dari satu purnama. Bagaimana bisa, aku menghabiskan ratusan purnama untuk menunggu, tapi aku tidak mendapat kepastian dan keyakinan. Sedangkan hanya dengan satu purnama, aku bisa mendapat keyakinan itu?

Kulihat lagi kebelakang, apa yang terjadi dibalik satu purnama sehingga dengan begitu kuatnya bisa membuatku merasa yakin. Ternyata jauh-jauh hari, semesta telah mengatur dan mempersiapkan segala yang kudapat saat ini. Aku merasa waktu sedang memberi kejutan bagiku. Dibalik penantianku, diam-diam waktu sedang menyembunyikan semesta yang mengatur rencana indah untukku, tanpa kuketahui. Hal indah yang terjadi begitu cepat, membuatku merasa waktu sedang berbicara padaku "see, ini yang sedang dipersiapkan untukmu. inilah yang sebenarnya kau tunggu. penantian panjang yang sudah kau lalui, kutukarnya dengan kepastian lain."

Kini, aku merasa bersahabat dengan waktu. Aku menjalani hari-hariku dengan tenang, karena aku kembali punya pegangan: Keyakinan dan Harapan. Dan dalam dalam harapan itu terdapat kepastian. Aku memang masih perlu menunggu. Tapi keyakinan dan harapan membuatku menunggu dalam tenang. Waktu, kuserahkan hidupku padamu. Aku yakin, kamu tidak akan pernah menipu. Dan kini, ada Dia yang bersamaku, menunggu bersamaku, dan melalui waktu ini dengan selalu menemaniku. Dia yang memberikanku keyakinan, harapan, dan cinta. Faith, Hope, Love.

Sabtu, 14 Maret 2015

Jakarta vs Jogja

Aloha 2015!
Nyaris 3 bulan aku tidak menjamah halaman ini. Terlalu banyak hal yang terjadi. Banyak pelajaran yang aku alami. Banyak pengalaman yang kudapat. Juga banyak kesenangan dan ketenangan yang kuterima. So far, tahun ini memiliki permulaan yang penuh syukur bagiku.
Aku fix stay di Jogja. Hal ini merupakan satu rasa syukur terbesarku di awal tahun ini. Di akhir tahun 2014, aku mengalami suatu proses panjang, melelahkan, dan membuatku khawatir dengan berbagai hal. Salah satunya adalah kemungkinan bahwa aku akan ke luar kota (lagi). Sepertinya semesta merasakan kegelisahanku tentang hal ini. Singkat cerita, aku mendapat pekerjaan di Jogja dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah, suasana kerja yang bebas (terutama bebas dalam berpakaian. ini hal yg sangat penting karena aku tidak nyaman dengan gaya formal).

Saat ini sudah dua bulan aku bekerja di kota tercinta. Dari pengalamanku sebelumnya, aku merasakan beberapa perbedaan, terutama dalam hal tekanan. Di Jakarta, pekerjaanku memang tak seberat yang sekarang. Dulu aku bekerja di kantor pusat, yang hanya tinggal minta2 data dari cabang. Aku memiliki pimpinan yang perhatian, dan ada satu tim konsultan yang siap sedia membantu kesulitanku. Sedangkan sekarang, bisa dibilang aku bekerja di kantor cabang. Di saat-saat awal aku bekerja, aku dituntut untuk belajar sendiri. Nyaris tidak ada yang bisa kutanyai. Pun aku bertanya, jawaban yang kudapat hanyalah "lihat aja di sini/situ." Ya, hampir tidak ada yang bisa kutanyai! Dalam hal pekerjaan, Jakarta lebih mudah dijalani, dan Jogja lebih stressful! Dalam hal hidup sehari-hari, Jakarta memberiku tekanan yang berat (kurang aman, bising, biaya hidup yg tinggi). Sedangkan di Jogja, hidup terasa selow tiap hari, karena keramahan dan kenyamanan yang ditawarkannya.
Tapi, badanku memiliki respon yang berbanding terbalik. Dua bulan pertama tinggal di Jakarta, aku harus masuk UGD karena asam lambungku tinggi (ini pertama kalinya aku punya masalah dengan maag!), dan membuat ku muntah2 lalu kekurangan cairan. Diduga karena aku terlalu stress. Polysilane pun sudah jadi “permen” yang wajib ada di tasku. Sedangkan di Jogja, sebulan pertama masuk kerja aku sudah mengalami yang namanya lembur, audit external&internal yg dilakukan bersamaan (the cruelest thing about auditing!), juga "otodidak" tentang semua perkerjaanku. Untuk mengingatnya saja sudah membuat perutku mulas. Tapi, badanku malah justru sehat walafiat! Masuk angin pun tak pernah ku rasakan. Polysilane? Sudah lupa tuh... Hebatnya Jogja, yang mampu meredam segala tekanan yang kualami. One point for Jogja.

My body belong to this city. Sepertinya badanku ini memang sudah cucok banget untuk tinggal di Jogja. Mungkin karena inilah rumahku. Dulu di Jakarta aku tidak bisa sembarangan makan. Aku harus makan sehat. Aku harus benar-benar memperhatikan apa yang aku makan, harus seimbang asupan gizinya. Bahkan untuk makan mi instan pun, aku sampai menjadwalkannya. Tidak boleh makan lebih dari 1 porsi mi instan dalam seminggu. Dan aku ga bisa sembarangan makan pedas, karena asam lambungku bisa ngamuk-ngamuk. Hal itu kulakukan agar aku tidak sakit, secara di Jakarta aku jadi gampang sakit. Tapi di Jogja, apapun yang kumakan tidak pernah mempengaruhi kesehatanku. Badanku bisa menerima makanan apapun. Sehat dan bahagia di Jogja. One more point for Jogja.

Kebutuhan hiburan di Jakarta dan Jogja juga sangat berbeda. Di Jakarta, hal yang bisa menghiburku adalah nonton di bioskop, jalan-jalan di mall, liburan ke Bandung. Kalau mulai bosan, aku selalu nonton film apapun di bioskop. Kalo stress dan butuh "udara segar", satu-satunya tempat yang bisa kujangkau adalah Mall. Jika aku benar-benar butuh udara segar, aku selalu menghabiskan weekend di Bandung. Hiburanku mahal bener cuuyyy! Tapi di Jogja, keliling2 naik motor, dan nongkrong di pinggir kali (Jatiningsih) aja bisa membuatku sangat terhibur. Nonton di bioskop juga tak lagi jadi pilihanku menghabiskan waktu. Masih banyak hal yang mudah dilakukan untuk menikmati waktu-waktuku. So easy, co cozy! Still one point for Jogja.

Sarana transportasi juga menjadi pertimbangan penting untuk menentukan tempat nyaman untuk ditinggali. Di Jakarta, kemana-mana aku harus naik angkot/transjakarta yang berjubel dan antrian yg panjang. Kadang untuk beberapa tujuan, aku hanya bisa naik taksi. Kalau di jogja, semua tempat bisa dijangkau dengan motor. Murah dan praktis. Sebenernya bisa saja aku minta dikirimi motor untuk sarana transportasiku di Jakarta. Tapi, bagiku berkendara di Jakarta itu terlalu menyeramkan. Keamanan dan kenyamanan tetep nambah poinnya Jogja.

Eehmm, semua poin berpihak pada Jogja. Tapi bukan berarti Jakarta tidak memiliki good point. Jakarta menuntutku untuk banyak bergerak. Aku banyak jalan kaki di sana. Jalan kaki jadi kegiatan yang mudah dan biasa dilakukan. Tapi di Jogja, boro-boro bepergian dengan jalan kaki. Cuma pergi ke warung dekat rumah saja aku selalu naik motor. Alhasil sekarang aku jadi ga kuat lagi buat jalan jauh. Gampang ngos-ngosan, ga seperti dulu.

Di Jakarta banyak makanan kemasan enak yang mudah dicari. Juga bisa dengan mudah menemukan tempat makan yang menyediakan menu babi. Semacam pork heaven lah. Di Jogja, kita perlu ekstra upaya untuk mendapatkannya.

Di Jakarta kita tak perlu terlalu ramah/banyak basa-basi. Aku merasa bisa cuek dan bebas melakukan apapun di Jakarta. Not really a good point sih. Tapi "cuek" bisa memberikan suatu kenyamanan tersendiri buatku.

Mau ngulas apa lagi ya? Pikiranku udah mulai stuck.

Pada intinya, aku sangat menikmati hidupku di Jogja. Semua yang pernah kualami, hal buruk dan hal baik, semua aku syukuri, karena hal-hal itulah yang membawaku menjadi seperti ini. Membuatku bisa lebih banyak bersyukur.
Aku mengalami kesedihan. Aku juga mengalami kebahagiaan. Aku sangat bersyukur untuk semua yang telah kualami. Tanpa pengalaman-pengalaman itu, aku tidak akan pernah bisa merasakan hal seperti ini, perasaan penuh syukur.

"Bersedihlah seperlunya, berbahagialah secukupnya, dan bersyukurlah sebanyak-banyaknya"

Malam ini, aku bersyukur karena aku tinggal di rumah, tinggal di Jogja!

Selasa, 16 Desember 2014

Tentang Masalah

Ahhh.. leganya, akhirnya kegalauanku yang ga jelas itu berakhir juga, seiring berakhirnya tayangan episode terkahir The Heirs hari Jumat lalu. Seperti saat datang, galau itu pergi dengan mudahnya juga. Beruntung juga aku punya bakat "mudah lupa".hihihi... Membaca tentang kegalauanku, rupanya masyer cukup cepat tanggap. Dia segera download semua episode The Heirs untukku. Tapi sayangnya sekarang aku sudah tidak terlalu berminat menontonnya. Bagaimanapun juga, makasih ya Mas, udah mengusahakannya buatku.. :)

Mudah galau memang menjadi salah satu masalahku. Tapi Puji Tuhan, aku punya obat yang mujarab, yaitu mudah bersyukur. Aku selalu mencoba untuk mensyukuri segala sesuatu yang kuterima dan kualami. Segala hal buruk bisa jadi masalah, begitu juga hal baik. Namun jika kita melihat dan menerimanya dengan penuh syukur, maka masalah tersebut akan terasa berkurang, bahkan mungkin juga bisa hilang.

Di kehidupan ini, aku merasa heran dengan pola pikir orang dalam memandang dan memperlakukan suatu masalah. Beberapa waktu lalu aku dan masyer membahas tentang iklan perawatan kecantikan wajah di perempatan Gondomanan. Dalam iklan itu,terdapat kata-kata "membantu masalah penuaan...". Aku dan masyer sepakat, bahwa tua adalah hakikat manusia, dan semua orang panjang umur akan menjadi tua. Mungkin yang dimaksud di iklan itu adalah menyediakan perawatan untuk kulit kusam, keriput, noda hitam dll. Tapi kenapa ga dijelaskan aja serinci itu? Kenapa malah menggunakan kata penuaan, dan menyebutnya sebagai masalah? Keriput, kulit kusam, noda hitam, tidak melulu karena penuaan lho. Bagiku dan masyer, iklan itu seperti mempermasalahkan yang bukan permasalahan.

Mungkin sekarang ini banyak orang yang hidupnya tidak bahagia, karena selalu mempermasalahkan hal yang bukan permasalahan seperti itu. Hal-hal kecil bisa bikin stres, atau bisa memicu pertengkaran/perpecahan. Hal yang sebenarnya bukanlah masalah besar, dipermasalahkan sehingga menjadi hal yang memicu amarah dan efek buruk lainnya. Kejadian seperti itu sudah sering terjadi.
Jika kita mampu mempermasalahkan hal yang bukan permasalahan, kenapa kita tidak mencoba menghilangkan permasalahan? Jika punya permasalahan, sekecil apapun itu, kita bisa kok berusaha menghilangkannya. Ada banyak solusi yang dapat menyelesaikan masalah. Kita bisa memilih salah satu, agar permasalahan itu tidak mengganggu/menyusahkan hidup kita dan orang-orang disekitar kita.

Hidup tanpa permasalahan pasti akan terasa hambar. Tapi cara kita memandang dan mengatasi permasalahan, juga akan mempengaruhi hidup kita. Jika kita memandang dan mengatasi masalah dengan positif dan penuh syukur, maka hidup kita akan berwarna dan tetap terasa indah. Tapi jika kita memandang permasalahan dengan negatif dan penuh prasangka buruk, maka hidup kita akan penuh gejolak dan menyedihkan. Lalu bagaimana jika kita mempermasalahkan hal yang sebenarnya bukan permasalahan? Kurasa hidup akan jauh jauh lebih buruk daripada hal-hal buruk.

Tetap positif, dan selalu bersyukur... :)

Kamis, 11 Desember 2014

Galau Ga Penting

Aku lagi sebel. Sebel karena aku galau. Yang bikin sebel adalah karena aku galau karena hal ga penting, yaitu galau karena ketinggalan nonton drama korea. Mending-mending kalo galau karena memikirkan masa depan atau keputusan yang menyangkut hidup manusia, galaunya lebih keren dan bermartabat. Nah ini, aku galau karena ga nonton drama korea. Galau yg sangat useless dan ga jelas banget. -_-"

Masih nyambung sama postinganku sebelumnya, aku lagi keranjingan nonton The Heirs. Awal mulanya karena suatu sore, aku lagi sakit. Jadi ga bisa pergi2. Karena aku sudah bosen nonton Masha and The Bear di TV, aku ganti channel ke RCTI, nonton The Heirs. Aku nonton tanpa tau jalan ceritanya. Sampai selesai, aku masih biasa aja. Keesokan harinya, aku ga nonton lanjutannya, karena kebetulan lagi ga di rumah. Keesokan lusanya, aku nonton lagi. Dari situ aku mulai terpikat oleh tatapannya Kim Tan. Dan aku juga mulai penasaran dengan jalan ceritanya. Lalu kucarilah sinopsis, lengkap dengan screenshot tiap adegannya. Awalnya aku mencari sinopsis di episode yang kutonton, sekitar episode 8. Dasarnya aku punya jiwa penasaran yang amat sangat pada hal mendetail, ujung-ujungnya kubaca semua sinopsis dari episode 1-20.

Sejak itu, aku mulai keranjingan nonton drama itu di RCTI. Meskipun sudah tahu jalan cerita dan ending-nya, aku merasa belum mantab kalo belum nonton beneran. Mulailah aku mantengin itu stasiun TV. Masih menyisakan beberapa episode yg belum tayang, RCTI bilang kalau akan ada drama korea lain yg akan tayang. Kupikir hari Rabu 10 Desember akan dikebut untuk menamatkan semua tayangan. Tapi ternyata baru sampai episode 18. Berarti The Heirs akan tamat besok Jumat.



Hari ini aku pergi jemput om-ku di Bandara. Jadwalnya sih jam 12.30 udah sampai Jogja. Jadi jam 14.00 aku sudah bisa nongkrong di depan TV. Tapi karena cuaca buruk, pendaratan dialihkan ke bandara lain. Alhasil om baru sampai jogja jam 16.30. Selama menunggu, aku masih bahagia, karena main-main sama keponakanku sambil belanja di carrefour. Saat balik lagi ke bandara, aku tiba-tiba tersentak karena ga nonton The Heirs! Seketika aku jadi galau. Aku jadi kepikiran terus menerus dan bilang sama kakakku kalau aku galau. Kakakku cuma bilang "Lebayyy... Ga nonton belasan episode, biasa aja. Lha kok ini cuma ketinggalan 1 episode langsung galau!"

Ahhhh, kakakku tidak mengerti perasaanku... Kalo ga nonton tuh rasanya ga mantepppp...Uuugghhh... Harusnya kan hari ini episode manis-manisnya.... (biar sekalian lebay-nya)



Ga penting banget kan kegalauan ini....

Arrrggghhh sebel deh rasanya, galau tapi galaunya ga penting gini...

Kayak begini nih yg paling ga aku suka kalo udah penasaran ato suka sama sesuatu... Ga penting pun bisa mempengaruhi suasana hati...



Hmmm... postingan ini pun sebenernya ga penting... Yah sudahlah....

Selasa, 09 Desember 2014

Terjebak Drama Korea

Beberapa hari ini aku sering merasa melow karena drama korea. Yup, aku sedang terjebak (lagi) dalam "lingkaran setan" drama korea. Kali ini aku sedang terjebak cerita dan pesona para pemain drama "The Heirs". Terakhir kali aku berada dalam keadaan seperti ini adalah sekitar tahun 2011. Kalo ga salah drama korea yang menjebakku adalah drama "Secret Garden". Sejak itu, aku tak pernah benar-benar membiarkan diriku larut dalam drama-drama yang seperti candu itu. Mungkin juga karena aku sudah sibuk kerja, jadi tidak punya waktu untuk marathon nonton dvd drama lagi.hehe

Aku tidak menyukai keadaan seperti ini, dimana aku sangat-sangat terbawa cerita dan terpesona tokoh utama suatu drama. Setiap hari aku bisa memikirkan drama itu, dan enggan melakukan apapun, karena sepanjang hari aku akan melow terbawa kisah yang biasanya dramatis, manis, tapi lucu juga. Seketika aku bisa tergila-gila pada tokoh yang karakternya aku suka. Menyadari hal itu membuat pikiranku jadi tidak sehat, aku seringkali mencari-cari foto pemeran yang kugilai itu. Yang kucari bukanlah foto-foto tampan mempesona. Tapi aku mencari foto-foto jeleknya, untuk menyadarkanku bahwa aku suka pada karakter orang itu, bukan pada aktornya. Aku tidak suka kalau merasa tergila-gila pada orang sampai segitunya. Sebelum aku benar-benar ngefans dengan aktor yang bersangkutan, lebih baik aku mencari hal-hal yang bikin aku ilfil.

Saat ini, untuk kesekian kalinya (eh, baru 2 kali ding) aku menyukai Lee Min Ho. Di drama The Heirs, dia memainkan tokoh Kim Tan, yang ceritanya dia ganteng. Dua hari ini aku sedang banyak mencari foto-foto jelek Lee Min Ho, biar aku ilfil padanya, dan tidak jadi tergila-gila pada Kim Tan ini. Jadi Kim Tan ini ceritanya orang ganteng, keren, kaya, kurang kasih sayang, (dulunya) temperamen, tapi kalo udah sayang sama cewek pasti bener2 diperjuangkan dan juga setia. Kalo diingat-ingat semua drama korea yg aku suka, yg paling berkesan adalah karakter-karakter seperti itu. Sebut saja Gu Jun Pyo (Lee Min Ho) di Boys Before Flower. Kim Joo Won (Hyun Bin) di Secret Garden. Han Tae Seok (Won Bin) di Endless Love. Juga ada Baek Seung Jo (Kim Hyun Joong) di Playful kiss. Setidaknya mereka-mereka inilah yang pernah membuatku terpesona oleh karakter yang mereka mainkan.

Sepanjang hari ini aku berfikir, sebenarnya apa yang membuatku bisa sebegini sukanya sama karakter-karakter mereka, lebih rincinya karakter cowok yang terkesan seenaknya sendiri di hadapan orang-orang sekitarnya. Tapi mereka akan berjuang sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan dan membahagiakan wanita yang mereka sukai. Mungkinkah karakter pria seperti inilah yang jadi kriteriaku? hahaha...
Dari karakter-karakter yang kusukai itu, hampir semuanya mengisahkan tentang seorang pria yang ketika berhadapan dengan orang yang mereka sayangi, mereka bisa menjadi diri mereka sendiri dalam segala hal. Mereka menampakkan sisi yang selama ini tidak pernah ditunjukkan di hadapan orang banyak. Ketika berhadapan dengan orang yang disayangi itu, mereka terlihat nyaman dan terlihat bebas karena dia bersikap apa adanya.

Selain itu, yang kusukai dari karakter-karakter yang kusebutkan tadi adalah tatapan mereka. Aktor-aktor yang sebenarnya jauh dari ganteng itu mampu memancarkan kegantengannya melalui akting mereka ketika memandang/menatap orang yang mereka sayangi. Karakter yang kadang terlihat urakan dan sembarangan, tapi mampu memandang seorang wanita dengan penuh sayang dan keseriusan. Asli, tatapan seperti itu benar-benar bikin melting. Tatapan mata seorang pria yang penuh kekaguman, saat dia memandang wanitanya, adalah hal yang paling bisa meluluhkanku. Tatapan tulus yang jauh dari niat menggoda, bisa membuat kakiku lemas seketika.. hehehe...

Balik ke dunia nyata, aku merasa beruntung, aku punya pria yang seperti itu. Pria yang selalu bersikap apa adanya di depanku, meskipun kadang masih suka jaga sikap (karena takut aku marah :p).Pria yang selalu memperjuangkanku sekuat tenaga, walau kadang dia mengabaikan hal-hal penting untuk hal sepele, hanya untukku (masih jadi satu hal yg tidak kusuka, karena dia kurang memikirkan dirinya sendiri). Pria yang bisa menatap tulus pada diriku.

Tujuanku nulis ini adalah untuk mengembalikan pikiranku ke kehidupan nyata. Maklum, saat ini aku masih memiliki banyak waktu kosong untuk memikirkan hal-hal ga penting seperti ini. Menulis apa yang ada di pikiranku seperti ini cukup bisa mengalihkan perhatian dan pikiranku, agar aku tidak terlalu memikirkan Kim Tan lagi. Besok adalah tayangan terakhir The Heirs. Aku sudah tau bagaimana ending ceritanya melalui sinopsis lengkapnya. Semoga besok aku sudah tidak memikirkan drama yang bikin aku termehek-mehek ini. :p


* note: di The Heirs, Choi Young Do (Kim Woo Bin)  juga sempet bikin terpesona. Apalagi saat memandangi cewek yang dia suka. Cuma sayangnya dia kasar bgt, jd agak serem deh.